Sabtu, 04 September 2010

GERAKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Pertengahan Maret 2002 Menko Kesra RI, Drs. Jusuf Kalla, memimpin Rakor
Kesra diikuti para Menteri yang terkait erat dengan penanganan masalah-masalah sosial
kemasyarakatan. Rapat tersebut antara lain memutuskan untuk mengembangkan Gerakan
Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. Dengan gerakan ini diharapkan
dapat dirangsang upaya bersama memberi perhatian dan komitmen yang tinggi untuk
memacu peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Upaya ini merupakan investasi yang
diyakini bisa merupakan langkah strategis untuk menghasilkan sumber daya manusia
yang bermutu. Berbeda dengan investasi dalam bidang industri dan perdagangan yang
bisa segera menghasilkan, investasi dalam bidang pendidikan adalah investasi jangka
panjang yang memerlukan dukungan sosial budaya yang sangat luas dan sering
menyangkut percontohan yang harus dimulai dari para aktor sendiri dan keluarganya.
Dalam alam globalisasi yang sangat dinamik dewasa ini, kita sungguh sangat
sedih melihat kenyataan bahwa anak-anak bangsa yang bisa mengisi kesempatan yang
terbuka luas di seluruh dunia hanya terbatas dalam bidang-bidang yang memberi nilai
tambah yang relatip rendah. Salah satu sebabnya adalah karena sumber daya manusia
yang kita miliki mutunya sangat rendah. Banyak kesempatan lewat begitu saja karena
sumber daya yang jumlahnya melimpah tidak ada yang cocok, atau bahkan tidak pernah
dipersiapkan untuk itu.
Penduduk Indonesia berjumlah antara 210 sampai 212 juta jiwa mempunyai ciri
jumlah remaja yang sangat menonjol serta akan terus naik. Ciri itu sesungguhnya
merupakan potensi yang menjanjikan, tetapi kenyataan bahwa mutunya masih rendah
memerlukan penanganan yang sangat urgen. Kejadian itu harus kita anggap sebagai
musibah yang harus ditangani dengan suatu shock terapi khusus seperti gerakan
masyarakat dengan bobot politik yang tinggi.
Gerakan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan yang sangat rendah
setidak-tidaknya harus diarahkan untuk lima sasaran utama dengan komitmen dan
dukungan program dan anggaran yang kuat, terpadu dan dinamik dari pemerintah dan
aparatnya di seluruh pelosok tanah air. Sasaran pertama, peningkatan pemberdayaan
siswa secara konsisten dan berkelanjutan. Kedua, peningkatan mutu, kemampuan dan
kesejahteraan guru. Ketiga, penyempurnaan kemampuan dan kesiapan sekolah untuk
memberikan dukungan terhadap aktivitas kependidikan dan pengajaran yang dinamik,
padat dan relevan dengan perkembangan masyarakatnya. Keempat, pengembangan
kesadaran orang tua untuk mengirim dan memberikan dukungan kepada anak-anaknya
untuk belajar sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya. Kelima, pengembangan budaya
masyarakat yang kondusif serta mendukung upaya belajar dalam suasana nyaman,
menggairahkan dan dinamik.
Sebagai gerakan nasional yang sekaligus diadakan dalam suasana pengentasan
kemiskinan, semua pihak harus sepakat untuk bekerja keras mendukung investasi sumber
daya manusia yang handal itu dalam kerangka totalitas yang utuh. Upaya ini harus
sekaligus mengutamakan pemberdayaan manusia agar berkembang menjadi insan
nasional yang penuh iman, taqwa, berbudi pekerti luhur dan berkrepibadian mantab.
2
Dukungan budaya, sosial dan ekonomi yang kokoh untuk kelima sasaran itu harus secara
sengaja memihak, yaitu dengan menempatkan para siswa, khususnya anak keluarga
kurang mampu, sebagai titik sentral pembangunan.
Gerakan peningkatan mutu yang mengharuskan dilakukannya investasi berbasis
pada siswa itu harus dilakukan dengan menghormati hak-hak azasi manusia yang
diarahkan untuk pembentukan manusia yang berwatak dan taqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, yaitu dengan memberikan penggemblengan religiositas, watak, kepribadian
dan kesempatan yang luas untuk memilih atau kesempatan untuk ikut berpartisipasi pada
pilihan yang dilakukan oleh setiap siswa, atau oleh setiap individu. Mereka harus bebas
mengambil jalur pemberdayaan sesuai dengan visi, misi dan kehidupan masa depan yang
ingin dinikmatinya.
Ini tidak berarti bahwa setiap siswa boleh seenaknya mengambil pilihan masa
depannya dengan membabi buta. Setiap orang tua, guru atau mereka yang dituakan
mempunyai kewajiban moril untuk membantu pemberdayaan siswa, termasuk dan
terutama anak-anak keluarga kurang mampu, dengan berbagai opsi yang luas dan tidak
memihak agar setiap siswa bisa melakukan pilihan secara arif dan bijaksana. Setiap
siswa harus bisa mempersiapkan diri untuk mampu memenuhi cita-citanya dengan baik.
Setiap siswa harus mempunyai kesempatan mencoba dan melatih dirinya dengan
pemberdayaan yang sifatnya menyeluruh agar segala keputusannya tidak menimbulkan
kesal atau kekecewaan dimasa yang akan datang.
Para guru, sebagai individu, atau lembaga, yang paling dekat dengan siswa harus
diberi kesempatan dan dukungan yang kuat dan luas untuk meningkatkan kualitas dan
kesejahteraannya. Lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan yang akrab dengan
masyarakat harus diadakan atau mendapat dukungan agar setiap guru bisa menyegarkan
dirinya secara kontinue sesuai dengan kemajuan zaman dan masyarakatnya.
Sekolah sebagai pusat penggemblengan harus kondusif dan dilengkapi dengan
peralatan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri dan kemampuan mencipta,
menganalisis dan menyumbang untuk masyarakat di sekelilingnya. Mereka harus
mendapat kesempatan mengembangkan gagasan yang berguna.
Dalam gerakan masyarakat yang gegap gempita, lingkungan masyarakat dan
budaya pendukung harus mendapat pemberdayaan yang matang. Para orang tua harus
mendapat informasi yang luas tentang manfaat pendidikan anak-anaknya untuk dirinya
sendiri, kini, atau nanti. Orang tua dan masyarakat sekelilingnya harus pula mengetahui
manfaat pendidikan untuk masa depan anak cucunya.
Pada akhirnya gerakan ini harus menumbuhkan budaya baru yang menghargai
anak-anak yang belajar tekun, guru yang rajin mengajar atau rajin memberi pelajaran
tambahan, atau sekolah yang murid-muridnya padat belajar - dari pagi sampai petang,
serta orang tua yang sanggup mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya bersekolah
sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya. Budaya memberi penghargaan yang tinggi
terhadap suasana bersekolah ini harus muncul dan menjadi percakapan sehari-hari.
Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2002, gerakan ini harus
diawali dengan minimal mengundang seluruh masyarakat untuk merayakannya.
Peringatan yang penting itu tidak boleh menjadi monopoli Kepala Dinas Pendidikan, atau
sekolah, atau para guru, atau para murid di sekolah-sekolah saja. Peringatan itu harus
3
memunculkan kreasi baru yang menghidupkan suasana budaya belajar yang berkembang
dengan dinamika yang sangat tinggi.
Karena menyangkut gerakan masyarakat, maka pendidikan dengan pendekatan
Broad-Base Education (BBE) harus sekaligus memberi warna terhadap ciri baru
penanganan pendidikan di Indonesia. Para Kepala Sekolah, guru-guru, orang tua dan
siswa, bahkan seluruh organisasi kependidikan, seperti PGRI, harus bisa menyatu dengan
masyarakat luas untuk menggali sebanyak mungkin apa yang diharapkan dan dibutuhkan
oleh semua pihak untuk maju. Aspirasi itu harus menjadi pokok tunggal dari aspirasi para
Kepala Sekolah, para guru, orang tua dan para siswa untuk membangkitkan gairah
peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Visi dan cita-cita guru atau kaum pendidik yang menghendaki peningkatan mutu
pendidikan harus menjadi visi dan cita-cita masyarakat luas. Sebaliknya visi dan cita-cita
masyarakat luas harus menjadi cita-cita dan perjuangan para Kepala Sekolah, guru, orang
tua dan semua siswa-siswanya.
Untuk mendapatkan partisipasi yang luas, semua usaha harus memihak memberi
pertolongan mereka yang kurang mampu. Upaya ini harus diarahkan mulai dari tingkat
yang paling dini seperti upaya peningkatan pendidikan usia dini untuk anak-anak balita,
membantu anak-anak keluarga kurang mampu dalam rangka wajib belajar 9 tahun, serta
mendorong pendidikan lebih tinggi kepada anak-anak kurang mampu itu. Keberhasilan
Indonesia dalam mencapai target dunia dalam bidang pendidikan dasar pada tahun 2000,
harus disebarluaskan sebagai suatu kebanggaan untuk memupuk rasa percaya diri.
Keberhasilan tersebut harus menjadi pemicu untuk lebih meningkatkan pencapaian pada
tingkat pendidikan lebih tinggi seperti SLTP, selanjutnya SMU dan Perguruan Tinggi.
Upaya gerakan itu harus dibarengi dengan upaya pengembangan advokasi peduli
pendidikan bagi anak-anak keluarga kurang mampu. Upaya advokasi itu harus diantar
dengan gerakan yang gigih untuk menjaring anak-anak keluarga kurang mampu agar bisa
melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah atau bisa mengikuti kuliah pada
Perguruan Tinggi. Kegagalan yang umumnya disebabkan karena mutu pendidikan anakanak
yang rendah atau informasi tentang adanya kesempatan yang tidak diterima oleh
para siswa yang bersangkutan harus dapat dikikis dengan memberikan informasi dan
kesempatan yang lebih longgar kepada siswa anak keluarga kurang mampu.
Dalam konteks BBE, upaya-upaya Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan harus
dibarengi dengan Gerakan Belajar Mandiri yang mengajak para guru dan mereka yang
mempunyai simpati terhadap masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk
bekerja sama. Gerakan ini intinya haruslah merupakan ajakan keberpihakan kepada anakanak
yang kurang beruntung, termasuk anak-anak pengungsi, agar orientasi pendidikan
betul-betul diarahkan sebagai persiapan untuk bekerja. Kepala Sekolah, para guru, kawan
sekolah yang sudah mahasiswa, para pengusaha nasabah bank, serta masyarakat pada
umumnya, diharapkan mempunyai kegiatan meningkatkan kepedulian masyarakat luas
terhadap upaya peningkatan partisipasi pendidikan bagi anak-anak kurang beruntung,
serta mempersiapkan lapangan kerja yang harus menjadi bagian dari kurikulum yang
mengantar anak-anak itu untuk siap bekerja.
Gerakan ini menganjurkan agar anak-anak yang kurang beruntung mendapatkan
perhatian dan bimbingan yang lebih besar dari para guru dan masyarakat sekelilingnya.
4
Anak-anak itu harus dianjurkan untuk lebih rajin membaca bahan-bahan bacaan yang ada
di sekolah serta bahan bacaan baru yang secara berkala harus diusahakan. Setiap bulan,
setiap sekolah harus mengadakan semacam pertandingan otak, yang diarahkan untuk
merangsang anak-anak membaca lebih banyak bahan-bahan yang ada.
Disamping bahan dan acara “adu pintar”, anak-anak keluarga kurang mampu
harus dibantu untuk mendapatkan bahan-bahan yang bisa merangsang kegiatan belajar
yang lebih menarik. Kegiatan ini harus menjadi budaya baru yang sangat digandrungi
sehingga para siswa menjadi sangat kecanduan untuk tetap belajar.
Disamping itu, untuk meningkatkan motivasi belajar, termasuk untuk orang tua,
para siswa harus mendapat informasi tentang terbukanya kesempatan untuk belajar lebih
tinggi. Para orang tua harus diberitahu akan adanya kesempatan yang terbuka tersebut.
Pemberitahuan kepada para orang tua dan masyarakat luas bisa memacu motivasi para
orang tua yang kurang beruntung dan masyarakat luas agar di rumah masing-masing
anak-anak didorong belajar lebih giat agar bisa memperoleh nilai yang lebih baik di
sekolahnya.
Ada pula gagasan untuk menghimbau lembaga-lembaga yang biasa memberikan
beasiswa kepada siswa yang menonjol untuk mengatur secara lain, yaitu memihak kepada
anak-anak keluarga kurang mampu. Dalam pengaturan ini, anak-anak keluarga mampu
yang mendapat beasiswa karena otaknya encer diharapkan membagi sebagian dari dana
itu kepada rekan lain yang kebetulan anak keluarga kurang mampu. Dengan cara ini
anak-anak keluarga kurang mampu bisa memperoleh kesempatan dan dorongan untuk
berjuang dalam kebersamaan yang lebih seimbang. (Prof. Dr. Haryono Suyono,
Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-pendidikanbermutu-1632002
5
GERAKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN,
TERUS BERGULIR
Bertepatan dengan Hari Kartini, tepatnya tanggal 21 April 2002, Ibu
Megawati Soekarnoputri, Presiden RI, bersama Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan, Ibu Sri Redjeki Sumaryoto, dan para pejabat terkait lainnya
menyerahkan bantuan Tabungan Belajar Mandiri kepada para siswa SMU, SMK
dan MA di Solo. Dengan perasaan gembira bercampur haru, para siswi yang
mewakili teman-temannya dari wilayah bekas Karesidenan Surakarta menerima
penghargaan yang disediakan Yayasan Damandiri dengan perasaan lega.
Seakan mimpi. Tidak pernah terbayang bahwa mereka akan menerima
penghargaan yang sangat dibutuhkannya itu dengan disaksikan langsung oleh Ibu
Megawati Soekarnoputri, Presiden RI. Sebagai anak keluarga kurang mampu, selama ini
mereka selalu kalah bersaing dengan anak-anak dari keluarga yang lebih beruntung.
Penghargaan yang diterima tersebut menempatkan para siswa anak keluarga kurang
mampu secara terhormat dalam menempuh ujian Saringan Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB) di tempat yang dipilihnya tanggal 2-3 Juli 2002. Mereka tidak harus antri di
deretan tersendiri hanya karena mendapatkan fasilitas bagi keluarga kurang beruntung.
Program Belajar Mandiri mengembalikan kehormatan, meningkatkan mutu pendidikan
dan menghantar anak remaja itu meniti masa depan yang lebih cerah.
Peristiwa yang sama terjadi juga pada tanggal 24 April 2002 di Aula Bank Jatim,
di Surabaya, Gubernur Jawa Timur, Bapak H. Imam Oetomo, yang selama ini sangat
menaruh perhatian terhadap kesejahteraan rakyat kecil di pedesaan, untuk pertama
kalinya menyerahkan Tabungan Belajar Mandiri kepada wakil-wakil dari 304 siswasiswi
dari 38 kabupaten dan kota Jatim. Peristiwa ini terjadi karena dalam suatu
pertemuan dengan pengurus Yayasan Damandiri bulan Maret 2002, Gubernur Jatim
tersentuh hatinya melihat Yayasan Damandiri menyatakan tekadnya mendampingi
Program Peningkatan Mutu Pendidikan yang selama ini diselenggarakan oleh Pemda
Jatim. Dalam pertemuan itu Yayasan Damandiri menyatakan siap untuk membantu
Pemda dan jajarannya meningkatkan mutu sumber daya manusia di Jatim dalam rangka
pengentasan kemiskinan, termasuk membantu meningkatkan mutu anak-anak siswa
SMU, SMK dan MA. Mereka adalah calon-calon keluarga masa depan, yang dalam
waktu singkat akan menjadi keluarga baru di Jatim, menggantikan kedua orang tuanya.
Mereka tidak boleh miskin seperti orang tuanya, atau tertinggal dalam pembangunan
karena tidak mampu, atau karena tingkat pendidikannya rendah.
Dana yang diperoleh dalam upacara yang disaksikan oleh Ibu Megawati atau
Gubernur Jawa Timur itu langsung diberikan dalam bentuk buku tabungan melalui
beberapa Bank, antara lain Bank Bukopin, BPR Nusamba, BPR YIS, dan BPD setempat.
Dana sebesar Rp. 300.000,- itu boleh mereka gunakan untuk mendaftarkan diri guna
menempuh ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri seperti untuk membeli formulir
yang tahun 2002 harganya mengalami kenaikan. Lebih dari itu dana tersebut bisa juga
digunakan untuk membeli buku referensi yang sangat dibutuhkan dan mungkin saja
6
selama ini tidak pernah mereka miliki. Bahkan, apabila mereka perlukan, dana itu bisa
juga mereka pergunakan untuk menyiapkan diri mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan
yang dianggap perlu oleh guru atau sekolahnya.
Dana bantuan dari Yayasan Damandiri itu sesungguhnya merupakan bagian dari
Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia yang dalam waktu
singkat akan di canangkan oleh pemerintah. Dengan gerakan ini diharapkan dapat
dirangsang upaya bersama memberi perhatian dan komitmen yang tinggi untuk memacu
peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Upaya ini merupakan investasi yang diyakini
bisa merupakan langkah strategis untuk menghasilkan sumber daya manusia yang
bermutu. Berbeda dengan investasi dalam bidang industri dan perdagangan yang bisa
segera menghasilkan, investasi dalam bidang pendidikan adalah investasi jangka panjang
yang memerlukan dukungan sosial budaya yang sangat luas dan sering menyangkut
percontohan yang harus dimulai dari para aktor sendiri dan keluarganya.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan itu sangat vital karena dari pengalaman
selama tiga tahun terakhir ini Yayasan Damandiri dan Yayasan Supersemar menyediakan
dukungan untuk 9.000 siswa untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(UMPTN), sekarang SPMB (seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), tidak pernah
mendapatkan cukup siswa biarpun anggarannya telah disediakan. Ada kalanya informasi
tidak sampai kepada siswa SMU dimaksud, ada kalanya motivasi dan kemampuan anakanak
dalam suasana ekonomi yang berat sekarang ini sangat tipis, dan yang lebih banyak
terjadi adalah karena kualitas siswa-siswa yang ada begitu rendahnya sehingga tidak
memenuhi syarat awal yang ditentukan oleh panitia ujian pusat dalam penyaringan siswa.
Dalam alam globalisasi yang sangat dinamik dewasa ini, kita sungguh sangat
sedih melihat kenyataan bahwa anak-anak bangsa, terutama anak keluarga kurang
mampu, yang disediakan fasilitas ternyata tidak dapat memanfaatkannya karena mutunya
sangat rendah, atau bahkan dalam saringan awal saja sudah gugur. Ketika mereka tidak
gugur dalam saringan awal, ternyata pada saringan berikutnya lebih dari 70 persen anakanak
keluarga kurang mampu itu terpaksa gugur. Bantuan SPP yang disediakan sampai
lulus sarjana terpaksa tidak dapat dimanfaatkan.
Akibatnya jelas, jutaan anak-anak keluarga kurang mampu tidak meneruskan
sekolah pada tingkat yang lebih tinggi, tidak dapat menjadi sarjana yang handal. Akibat
lebih lanjut adalah bahwa anak-anak itu hanya bisa mengisi kesempatan yang terbuka
luas di seluruh dunia dalam bidang-bidang yang memberi nilai tambah relatip sangat
rendah, sesuai dengan kemampuan dan mutunya yang rendah. Banyak kesempatan akan
lewat begitu saja karena sumber daya yang jumlahnya melimpah tidak ada yang cocok,
atau bahkan tidak pernah mencapai kualitas yang disyaratkan untuk itu.
Penduduk Indonesia berjumlah antara 210 sampai 212 juta jiwa seakan-akan
hanya kecil saja dan ternyata yang mempunyai ciri menonjol hanya segelintir dan tidak
banyak yang bisa meneruskan sekolahnya pada jenjang yang lebih tinggi, padahal jumlah
remaja akan terus naik. Kenyataan bahwa mutu sumber daya manusia yang masih rendah
itu memerlukan penanganan yang sangat urgen. Kejadian itu harus kita anggap sebagai
musibah yang harus ditangani dengan suatu shock terapi khusus seperti gerakan
masyarakat dengan bobot politik yang tinggi.
7
Kita sangat terharu bahwa pemerintah menghargai prakarsa Yayasan Damandiri
yang memberikan Tabungan Belajar Mandiri untuk meningkatkan mutu pendidikan,
sebagai awal dari Gerakan Masyarakat untuk membantu anak-anak mempraktekkan
gerakan Broad-Base Education dan yang sekaligus diikuti upaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan secara nasional. Kita ingin ulangi bahwa upaya itu harus diarahkan
untuk lima sasaran utama dengan komitmen, dukungan program dan anggaran yang
kuat, terpadu dan dinamik, baik dari pemerintah dan aparatnya di seluruh tanah air
maupun dari kalangan masyarakat luas secara mandiri. Sasaran pertama, peningkatan
pemberdayaan siswa secara konsisten dan berkelanjutan. Kedua, peningkatan mutu,
kemampuan dan kesejahteraan guru. Ketiga, penyempurnaan kemampuan dan kesiapan
sekolah untuk memberikan dukungan terhadap aktivitas kependidikan dan pengajaran
yang dinamik, padat dan relevan dengan perkembangan masyarakatnya. Keempat,
pengembangan kesadaran orang tua untuk mengirim dan memberikan dukungan kepada
anak-anaknya untuk belajar sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya. Kelima,
pengembangan budaya masyarakat yang kondusif serta mendukung upaya belajar dalam
suasana nyaman, menggairahkan dan secara dinamik mengangkat harkat dan martabat
masyarakat, bangsa dan negaranya.
Peristiwa yang baru saja terjadi di Solo dan Surabaya itu sungguh merupakan
suatu awal yang sangat strategis karena terjadi beberapa hari sebelum Hari Pendidikan
Nasional tanggal 2 Mei 2002, dan diadakan tepat pada Peringatan Hari Kartini 21 April
2002. Kita ingin mengingatkan “kebetulan” itu sesungguhnya disengaja karena sebagai
gerakan nasional, upaya peningkatan mutu pendidikan harus ditujukan kepada sasaran
yang tepat, yaitu para remaja putri, yang biasanya selalu dianggap sebagai “anak nomor
dua” dalam setiap keluarga. Upacara simbolis memberikan dukungan kepada para anak
perempuan sungguh akan menghasilkan suatu peningkatan mutu generasi wanita masa
depan yang unggul dan sekaligus akan meningkatkan mutu keluarga yang ada.
Apabila mutu keluarga dapat ditingkatkan, diharapkan bahwa mutu masyarakat
dan akhirnya mutu bangsa akan dapat ditingkatkan pula dengan kecepatan yang sama.
Lebih-lebih lagi meluncurnya dengan deras upaya peningkatan mutu itu dibarengi pula
dengan upaya mempercepat pengentasan kemiskinan. Kita mengetahui bahwa Yayasan
Damandiri, yang selama lebih dari enam tahun ini telah berhasil mengajak tidak kurang
dari 13,9 juta keluarga kurang mampu untuk mulai belajar menabung, sebagian telah
berhasil pula belajar berusaha dan menjadi wirausahawan yang makin mandiri.
Kita mencatat dengan penuh rasa haru bahwa Ibu Megawati Soekarnoputri,
Presiden RI, telah berkenan menyerahkan secara simbolis pinjaman-pinjaman baru
kepada para ibu yang selama ini telah berhasil. Berbeda dengan sistem lama, para Ibu
yang menerima pinjaman secara simbolis di Solo itu tidak lagi membebani pemerintah
dengan segala macam subsidi dan kemudahan. Mereka menerima pinjaman dari Bank,
yaitu Bank Bukopin, Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Perkreditan Rakyat, yaitu
BPR YIS dan BPR Nusamba, seperti layaknya pengusaha yang bonafid lainnya.
Mereka sanggup menerima kredit dengan sistem executing, artinya diperlakukan
sebagai nasabah biasa yang membayar bunga pasar, menyediakan agunan, dan membayar
cicilan sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Mereka tidak seperti konglomerat
8
dengan segala kemudahan, tetapi seperti layaknya pengusaha yang mampu dan
mempunyai usaha yang maju.
Namun, pihak Yayasan yang memberikan dukungan di belakang layar, selalu
mengajak dan mengerahkan dukungan masyarakat untuk memberi dukungan moril
dengan membeli produk-produk mereka, dan mengusahakan agar anak-anak mereka
mendapat kemudahan dengan beasiswa, tabungan belajar mandiri, atau kalau perlu
membantu mengirim anak-anak keluarga kurang mampu yang drop out mengikuti kursuskursus
yang banyak gunanya untuk masa depan anak-anak tersebut yang lebih baik.
Oleh karena itu kepada setiap nasabah yang pada Peringatan Hari Kartini 2002
menerima akad kreditnya langsung dari Ibu Megawati, adalah contoh-contoh kader
pembangunan bangsa yang sepakat bekerja keras dalam usahanya dan sekaligus
mendukung investasi sumber daya manusia yang handal itu dalam pendekatan
komprehensip yang utuh. Dalam upaya ini mereka sanggup mengutamakan
pemberdayaan sumber daya manusia dengan bunga pasar karena mereka yakin bahwa
hasil dari bunga itu akan dikembalikan ke masyarakat berupa beasiswa untuk anak-anak
mereka juga. Mereka juga menabung untuk pemupukan modal, dan mempergunakan
kesempatan bekerja dan berusaha itu sebagai pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa,
semata-mta untuk meningkatkan iman dan taqwanya, mewariskan budi pekerti luhur dan
krepibadian yang mantab kepada anak-anaknya. Mereka sepakat, andaikan mereka tidak
terlalu miskin, atau bahkan terhitung lumayan karena dagangan atau usahanya relatip
telah berhasil, untuk mengajak anak-anak remaja tetangganya yang masih dirundung
malang. Mereka sepakat menempatkan anak-anak muda di kampungnya, khususnya
anak keluarga kurang mampu, sebagai titik sentral pembangunan.
Pendekatan kombinasi antara anak dan orang tua ini tidak berarti bahwa setiap
siswa boleh seenaknya tidak sekolah dan membantu usaha orang tuanya, tetapi para guru
akan bersama-sama mengawinkan pengalaman anak-anak dirumah masing-masing
dengan pilihan mata pelajaran yang cocok untuk masa depannya tanpa membabi buta.
Setiap orang tua, guru atau mereka yang dituakan mempunyai kewajiban moril untuk
membantu pemberdayaan siswa, termasuk dan terutama anak-anak keluarga kurang
mampu, dengan berbagai opsi yang luas dan tidak memihak agar setiap siswa bisa
melakukan pilihan secara arif dan bijaksana. Ada pula gagasan untuk menghimbau
lembaga-lembaga yang biasa memberikan beasiswa kepada siswa yang menonjol untuk
mengatur secara lain, yaitu memihak kepada anak-anak keluarga kurang mampu. Dengan
cara ini anak-anak keluarga kurang mampu bisa memperoleh kesempatan dan dorongan
untuk berjuang dalam kebersamaan yang lebih seimbang. (Prof. Dr. Haryono Suyono,
Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-(A1/B2/D1)
9
MENYIAPKAN SDM SEJAK DINI
Sidang Khusus PBB tentang Anak yang yang sedianya dilakukan tanggal 19-21
September 2001, di New York, ditunda tanggal 8-10 Mei 2002. Indonesia dengan jumlah
penduduk sekitar 211-212 juta jiwa adalah negara dengan jumlah anak-anak terbesar ke
empat setelah RRC, India, dan Amerika Serikat. Dengan jumlah anak-anak yang besar
itu, kita mempunyai tanggung jawab moril untuk ikut serta bicara dalam forum yang
terhormat tersebut. Kita harus mampu mengajukan konsep-konsep pembangunan
berkelanjutan yang bisa menghantar dengan mulus anak-anak yang melimpah itu ke masa
depan yang lebih baik.
Selama tigapuluh tahun terakhir ini pemerintah dan seluruh masyarakat, telah
mulai memperbaiki kondisi anak-anak bangsa. Orang tua telah dipersenjatai dengan
kemampuan mengatur kelahiran dan jumlah anak-anak melalui program KB dan
kesehatan yang tersedia di hampir seluruh pelosok desa. Dengan demikian tingkat
kelahiran dan tingkat kematian bayi dan anak-anak telah diturunkan lebih dari 50 persen.
Seperti kasus langka lainnya, kasus-kasus kurang gizi yang dewasa ini makin langka, dan
biasanya sukar menjadi berita, begitu muncul disuatu daerah langsung menjadi bahan
berita yang menarik. Disamping penanganan masalah kesehatan dan KB yang dilakukan
secara terpadu, kita bersyukur bahwa pada hari-hari libur para orang tua marak membawa
anak cucunya mendatangi tempat-tempat hiburan, yang murah meriah dan yang mahal,
tergantung pada kemampuan saku orang tua dan kerabatnya.
Disamping itu, seperti terjadi awal Maret 2002, setiap tahun, atas kerjasama
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan PT Indofood Sukses Makmur,
Tbk. diadakan Lomba Balita Sejahtera untuk merangsang dan memberi contoh
bagaimana mempersiapkan anak balita sejak dalam kandungan dan kelahirannya,
menyusui dan merawat bayi serta mengantar tumbuh kembangnya sampai usia balita
dengan baik.
Dalam skala yang lebih besar, untuk membantu setiap keluarga, terutama para
Ibu dan keluarganya mengantar anak balitanya, sejak tahun 1983 Kantor Menteri Negara
Urusan Peranan Wanita dan BKKBN telah melakukan upaya pemberdayaan wanita dan
keluarga. Dengan pendekatan komunitas dibentuk kelompok Ibu-ibu di desa. Selanjutnya
dikembangkan program Bina Keluarga Balita yang mendidik para Ibu dan seluruh
anggota keluarga yang kondisi sosial ekonominya sangat bervariasi mengenal tehniktehnik
sederhana mempersiapkan kelahiran bayi dan membina anak-anak balitanya.
Program itu dikembangkan untuk membantu para keluarga muda di pedesaan yang
kondisinya sangat rendah dan tidak lagi mendapat cukup bahan dari orang tua dan sanak
keluarganya yang bertambah sibuk mengurusi keperluan hidupnya yang makin sulit.
Program yang dikelola oleh masyarakat sendiri itu sangat berguna untuk para ibu dan
keluarganya membina anak-anak balita mengikuti pola tumbuh kembang yang lebih
dinamis.
Salah satu keuntungan dari program itu adalah mulai disadari pentingnya
pendidikan dini (early education) untuk anak-anak dibawah usia lima tahun dalam
10
lingkungan kelompok ibu-ibu di RT atau di desanya. Entah karena upaya ini atau karena
desakan kesibukan para ibu-ibu di kota dan desa maju, mulai tumbuh lembaga-lembaga
pendidikan formal untuk anak-anak balita. Upaya pendidikan dini itu diselenggarakan
oleh lembaga-lembaga formal dengan sedikit uluran tangan pemerintah atau sama sekali
tidak ada campur tangan dari pemerintah. Karena itu cakupannya masih sangat rendah.
Selama sepuluh tahun terakhir, tanpa memperhitungkan anak-anak yang mengikuti
pendidikan dini melalui pesantren dan sekolah-sekolah agama, pendidikan dini yang
bersifat formal baru mencakup sekitar 9,8 persen di tahun 1999. Angka ini sangat kecil
tetapi sesungguhnya sudah naik lebih dari 100 persen dibandingkan dengan keadaannya
pada tahun 1996 yang baru mencapai sekitar 4,7 persen saja.
Awal Maret 2002, sekitar 300 guru taman kanak-kanak dan pendidikan pra
sekolah, yang sehari-hari menangani pendidikan dini di seluruh pelosok Indonesia, dan
tergabung dalam Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) – PGRI, telah
bertemu dengan Pimpinan Yayasan Damandiri yang sedang mengembangkan Gerakan
Belajar Mandiri. Mereka “ngiri” mendengar Gerakan Belajar Mandiri yang
dikembangkan di kawasan timur Indonesia utamanya “hanya” ditujukan untuk
membantu anak-anak SMU, SMK dan Madrasah Aliyah menyiapkan diri menghadapi
hari depannya yang sangat dekat untuk terjun secara mandiri. Mereka berkilah bahwa
untuk menghasilkan mutu sumber daya manusia yang handal, pendidikan dini, atau
pendidikan pra sekolah, yang mampu memberi dasar kepribadian anak dalam sikap,
perilaku, daya cipta dan kreativitas yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan
zaman, harus mendapat perhatian yang sama besarnya, ditingkatkan mutunya dan segera
diperluas cakupannya.
Pendidikan dini mempunyai beberapa fungsi yang tidak dapat digantikan oleh
pendidikan pada tingkat usia lainnya. Pendidikan dini memberikan kesempatan kepada
setiap anak dalam usia yang sangat baik untuk mencintai orang tuanya dan sekaligus
gurunya sebagai pengantar menghadapi masa depannya yang ideal. Pendidikan dini
memberi kesempatan para orang tua saling bertemu dengan orang tua lain yang
mempunyai anak-anak sebaya pada waktu mengantarkan dan menunggu anaknya
sekolah. Pendidikan dini memberi kesempatan kepada setiap anak mencintai kawankawannya
seperti saudara sendiri dirumahnya. Pendidikan dini memberikan kesempatan
kepada setiap anak untuk mengembangkan kepribadian yang penuh toleransi, kedamaian,
saling pengertian, dan gotong royong dalam menghadapi tantangan, dan mempergunakan
kemampuan untuk menangkap kesempatan sosial budaya diluar asuhan orang tuanya.
Para guru yang sangat bangga akan profesi dan kesempatannya mendampingi
anak-anak balita di seluruh pelosok desa itu merasa bahwa perhatian pemerintah akan
pendidikan dini masih sangat tidak memuaskan. Mereka minta agar masalah ini segera
dibahas secara nasional dan dijadikan prioritas yang tinggi kalau kita ingin menghasilkan
remaja masa depan yang mempunyai kepribadian unggul. Mereka juga membayangkan
bahwa forum internasional Konperensi Khusus tentang Anak se Dunia nanti lebih dari
patut dijadikan ajang untuk meminta perhatian negara maju membantu negara-negara
berkembang menangani anak-anak balitanya secara lengkap dan terpadu.
11
Semoga keprihatinan 300 guru yang mewakili ratusan lainnya dari seluruh
Indonesia itu mendapat perhatian yang wajar. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat
Masalah Sosial Kemasyarakatan) – PengantarPendikanDini-1832002
12
MEMBANGUN SDM UNGGULAN
Dalam suasana globalisasi yang sekaligus dibarengi oleh adanya krisis
multidimensi di Indonesia sekarang ini semua pihak sadar bahwa penduduk Indonesia
yang jumlahnya telah melebihi 211 juta jiwa itu harus dikembangkan menjadi manusia
unggul. Upaya itu harus diiringi kebersamaan lembaga-lembaga seperti BKKBN,
Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, dan lembaga lain dengan
jajarannya. Lembaga-lembaga itu mutlak diperlukan untuk menghantar pengembangan
sumber daya manusia menjadi kekuatan yang unggul. Keberhasilan upaya itu diharapkan
bisa mengatasi krisis serta mengangkat setiap keluarga dan anggotanya menjadi keluarga
yang mandiri dan sejahtera.
Sukar sekali melihat gelombang reformasi itu dengan kaca mata biasa yang
sempit. Dengan kaca mata lama, menurut pikiran Talcott Parsons, seorang sosiolog
terkenal, dalam bukunya "The Social System" (1951), suatu "action" yang bercakrawala
luas dan bergerak dengan sangat cepat akan membentuk interaksinya secara bebas.
Sebagai bagian dari suatu sistem aksi dalam masyarakat itu, berbagai interaksi yang
sangat luas, vertikal dan horizontal, terutama yang berskala global, masing-masing
mengembangkan interaksinya sendiri sesuai dengan aktor-aktor yang bergerak
didalamnya. Sistem aksi itu kemudian menjadi suatu jaringan hubungan yang
membentuk, atau menuntut bentukan, sebagai suatu tatanan kemasyarakatan baru yang
mungkin berbeda dan asing dibandingkan dengan apa yang pernah ada sebelumnya.
Aktor-aktor yang tadinya bersifat individual dan masing-masing mempunyai
"status" kemudian ditempatkan dalam suatu tatanan jaringan yang berkembang. Dalam
pengembangan itu para aktor juga mempunyai fungsi-fungsi yang secara signifikan
membawanya dalam proses memapan sebagai "peranan" yang menuntunnya pada posisi
yang terhormat untuk menuju kepada keseimbangan barunya.
Dalam konteks reformasi yang gencar seperti sekarang, peranan aktor
sebagai manusia pelaku bisa menjadi sangat signifikan. Aktor bisa merupakan kombinasi
sinergik dari status yang diembannya serta dari peranan dalam suatu sistem sosial yang
berkembang pesat, bahkan tidak jarang mereka itu dari atau identik dengan tatanan
jaringan dimana dia dikembangkan sebelumnya.
Dalam suatu suasana Indonesia baru yang berubah dengan cepat dewasa ini
berbagai dinamika organisasi dan kepemimpinan akan mencuat keatas permukaan
mencari bentuknya secara tepat. Untuk itu para ahli menawarkan berbagai pikiran dan
perkiraan dengan argumentasinya masing-masing. David Osborne dan Ted Gaebler
(1992) dalam bukunya “Reinventing Government” menawarkan konsep dan anjuran
untuk mewirausahakan aparat birokrasi sebagai bagian dari upaya memberikan
pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat.
Oleh karena itu banyak orang sepakat bahwa dalam keadaan seperti ini
memimpin adalah suatu seni yang rumit dan memerlukan kerja yang sangat keras.
Banyak ahli lain berbicara dan menulis tentang hal ini. Robert H. Rosen dan Paul B.
Brown dalam bukunya, “Leading People” (1996), menulis, bahwa dewasa ini sukses
13
suatu usaha banyak sekali tergantung pada bagaimana kita melakukan investasi pada
manusia, dan bagaimana manusia-manusia itu menyatu menghasilkan produksi dan jasa
yang memuaskan pelanggannya. Kita harus bisa dan lebih melihat segala sesuatunya dari
rangkaian proses bagaimana manusia-manusia tersebut kita bawa kepada suatu sukses
yang menjadi komitmen bersama, bukan pada bagaimana masing-masing individu merasa
menempati posisi yang mereka anggap diperlukan dalam suatu organisasi tertentu.
Pada umumnya kita sepakat bahwa diperlukan berbagai persyaratan untuk
memimpin manusia-manusia andal dalam suatu proses tersebut, tetapi yang lebih penting
lagi adalah bagaimana kita mendapatkan kepercayaan dengan membawakan visi dan misi
yang jelas dan dapat diterima dengan perasaan lega oleh mereka yang kita ajak untuk
bersama-sama membawakannya kepada pencapaian tujuan yang disepakati.
Untuk melihat "reformasi" dalam suasana " globalisasi" sekarang ini, kita
harus bisa belajar hidup dalam keadaan khaos, mencoba hidup tenang, dan tidak mencari
kebenaran karena hal itu tidak akan ketemu. Kita harus secara dinamis menguasai atau
menciptakan masa depan dan tidak mengambil sikap menunggu untuk sekedar menjawab
tantangan yang dikeluarkannya.
Globalisasi dan Desentralisasi,
14
Kemajuan yang terjadi pada masa globalisasi dan desentralisasi sekarang ini
sesungguhnya merupakan suatu perubahan sosial yang cepat dan menarik. Dalam suatu
sistem sosial, secara sederhana diperlukan kebutuhan-kebutuhan fungsional dasar yang
sangat minimal untuk memungkinkan terjadinya interaksi antar berbagai status dan
peranan masing-masing. Untuk menghantar terjadinya perubahan sosial yang
menguntungkan, kebutuhan-kebutuhan fungsional tersebut harus tersedia atau
disediakan. Pertama, adalah kebutuhan dasar manusia, keluarga dan masyarakat yang
sangat esensial seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan.
Kedua, adalah kebutuhan dukungan dari berbagai sistem sosial lain yang
ada. Untuk itu diperlukan pemikiran-pemikiran agar ada kesediaan yang memadai untuk
saling memberi atau membangun dukungan sosial yang sekaligus dapat memenuhi
kebutuhan dasar untuk aktor-aktor dalam perubahan sosial maupun untuk anggota
masyarakat pengikut lainnya.
Dalam kondisi seperti itu setiap lembaga masyarakat memerlukan dukungan
sumber daya manusia yang mampu mengembangkan inovasi, berkreasi, dan bisa
merangsang pemenuhan kebutuhan internal maupun yang bisa menuntun kearah
penyesuaian diri terhadap perubahan eksternal yang terjadi dalam suasana dan
lingkungan baru yang cepat dan makin global tersebut. Dukungan sumber daya manusia
yang "unggul" itu harus bisa menjadi pendorong motivasi dan memberikan tuntunan
pada setiap tahapan agar setiap aktor dalam lembaga tersebut dapat mempersiapkan
lembaga atau organisasinya dalam era yang berubah. Kesiapan lembaga tersebut harus
mendahului suasana zaman yang berubah dan tetap mendorong lembaga itu
menghasilkan produk-produk yang memenuhi permintaan dan selera pasar yang
berkembang dengan pesat. Apabila tidak demikian halnya, maka peranan lembaga itu
akan habis ditelan oleh perubahan yang penuh dengan tantangan.
Perubahan Kelembagaan
Melihat adanya perubahan tersebut diperlukan berbagai dukungan yang luas
seperti manusia yang unggul, manajemen dan kemampuan komunikasi untuk
menangkap nuansa baru dari perubahan sosial yang sekaligus disertai dengan arus
globalisasi yang sangat dahsyat. Dukungan sumber daya manusia diperlukan untuk
memungkinkan dikembangkannya ide-ide baru yang segar yang bisa menangkap
“mimpi” dan “cita-cita” masyarakat dengan visi yang jauh kedepan melampaui
jamannya. Dilain pihak, manusia unggulan itu memerlukan dukungan manajemen
unggul dan berani mengimplementasikan berbagai gagasan yang kadang-kadang tidak
masuk akal pada jamannya. Menurut banyak ahli, gagasan-gagasan seperti itu biasanya
mati sebelum lahir, padahal sesungguhnya tidak boleh dimatikan tetapi harus ditunggu
waktunya yang tepat, istilahnya‘put on ice’.
Karena itu, diperlukan dukungan komunikasi untuk memberdayakan
seluruh kekuatan internal dan membantu mempersiapkan masyarakat untuk menghayati
nuansa baru yang berkembang. Dengan dukungan pemberdayaan melalui komunikasi
itu dirangsang terjadinya proses institusionalisasi secara internal yang mungkin saja
harus disertai dengan pengembangan visi yang jauh kedepan, perubahan struktur
organisasi, perubahan falsafah dasar lembaganya, reorientasi personilnya, pembaharuan
kekompakan mereka dalam tim yang sanggup menghasilkan produk berkualitas serta
15
cara-cara pemasaran produknya dalam dunia yang makin tidak dibatasi dengan dindingdinding
kaku yang bersifat fisik, sosial dan budaya, dunia yang makin terbuka.
Langkah-langkah itulah yang sekarang ini sedang terjadi pada tingkat
daerah. Banyak lembaga-lembaga pusat yang karena perubahan sentralisasi menjadi
desentralisasi harus mengalami restrukturisasi secara total. Langkah-langkah
restrukturisasi itu pada beberapa kalangan menimbulkan kegoncangan sedangkan pada
kalangan lain menimbulkan harapan bahwa secara eksternal diperlukan orientasi yang
berani pada kekuatan kelembagaan dalam upaya tim yang mampu menghasilkan karya
nyata dengan kualitas tinggi sebagai yang diinginkan oleh masyarakat luas.
Dari kenyataan itu, para pimpinan lembaga menganut pendekatan visionary
leadership dengan “memanu siakan manusia" dalam lembaganya dengan lebih banyak
mengembangkan kekompakan tim dengan wawasan yang jauh kedepan. (Prof. Dr.
Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-SDM-2192002.
16
PERANAN IBU MENDIDIK ANAK
DALAM ERA GLOBALISASI
Dalam abad ke dua puluh satu ini di seluruh dunia terdengar nyaring genderang
reformasi ditabuh bertalu-talu. Peristiwa ini menempatkan setiap Ibu rumah tangga
dalam persaingan yang dahsyat antara komunikasi dunia yang gegap gempita dan urusan
pendidikan anak yang sangat menantang. Disatu pihak setiap Ibu berusaha menanamkan
nilai-nilai agama dan budi pekerti luhur melalui pendidikan anak-anaknya untuk
membangun kemampuan untuk masa depan yang penuh kedamaian, kasih sayang dan
saling menghargai, dilain pihak semua orang dihadapkan pada fenomena lapangan yang
penuh dengan saling fitnah, saling hujat, saling hantam, dan saling bunuh.
Makin kita renung kehidupan ini makin kita bertanya apakah benar bahwa dalam
alam globalisasi yang marak, sistem komunikasi yang luar biasa, yang membuat setiap
negara di dunia saling berdempetan tanpa jarak, tanpa pembatas, harus diisi dengan
pergumulan, atau dengan peristiwa liar yang “menular” atau “ditiru” dengan lebih
dahsyat agar bisa menghiasi halaman-halaman media massa dunia yang gemar peristiwa
gemerlapan. Kalau semua itu yang dikehendaki sebagai tontonan yang menarik, bisa saja
perseteruan yang berawal dari konflik individu di besar-besarkan menjadi perhatian
dunia yang mengasyikkan. Konflik yang semula terjadi dalam tataran sederhana, di
kalangan yang sangat pribadi, bisa dengan mudah “dicuatkan” melebar dalam jajaran
yang sangat luas. Dengan kata lain, melalui corong yang membesarkan gema, bisa saja
“tetesan kecil” dengan mudah disulap menjadi “gr ojogan” yang maha dahsyat dan
mungkin saja oleh banyak orang bisa dianggap lebih “mengasyikkan”.
Dalam merenung kita bertanya, apa tidak bisa kita ini menggaungkan sesuatu
yang baik, mungkin masih kecil, dan belum tentu menarik, menjadi suatu peristiwa
dahsyat yang sangat menarik. Kita sungguh bersyukur, Ibu Megawati Soekarnoputri,
Presiden RI, berkenan menghadiri peringatan Hari Kartini di Solo 21 April 2002.
Dalam kesempatan yang berbahagia itu beliau berkenan menyerahkan beberapa
perangkat hadiah Tabungan Belajar Mandiri kepada para siswa SMU, SMK, dan MA,
yang biarpun berasal dari keluarga kurang mampu, tetapi mempunyai prestasi menonjol
di kabupatennya. Hadiah Tabungan Belajar Mandiri itu disediakan oleh Yayasan
Damandiri untuk masing-masing siswa senilai Rp. 300.000,-.
Peristiwa itu mungkin kecil, tetapi untuk mendapatkan hadiah tabungan yang
sangat berharga itu setiap siswa tidak saja tabah dan mempunyai kepercayaan diri yang
tinggi, tetapi harus belajar giat dan rajin membaca. Setiap siswa anak keluarga kurang
mampu bisa mengikuti program yang digelar di kawasan timur Indonesia itu melalui
sekolah-sekolahnya. Mereka harus menonjol dalam berbagai mata pelajaran, mempunyai
prestasi unggul diatas angka rata-rata teman-teman sesekolahnya, atau diatas rata-rata
teman-teman anak keluarga kurang mampu lainnya.
Di sekolah masing-masing anak-anak putri itu, Kartini masa depan, harus
mengikuti kuis untuk mendapatkan pencalonan sekolahnya. Setiap bulan calon-calon itu
dibawa oleh Kepala Sekolah atau guru mereka untuk mengikuti pemilihan pada tingkat
kabupaten/kota. Di tingkat kabupaten atau kota mereka diadu dengan teman-teman dari
sekolah lainnya. Kalau terpilih, di setiap kabupaten/kota, untuk wilayah Jawa Tengah
Yayasan Damandiri menyediakan 5 (lima) tabungan melalui mitra kerjanya. Di daerah
17
sekitar Surakarta, yaitu Sragen, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Tabungan Belajar Mandiri
itu disalurkan melalui BPR YIS, BPR Nusamba, Bank Bukopin, dan BPD Jateng.
Disamping menyerahkan dana Tabungan Belajar Mandiri, Ibu Megawati sempat
juga menyerahkan paket Pundi dan Warung Sudara untuk Ibu-ibu yang bekerja keras
membangun ekonomi kerakyatan. Ibu Mega mungkin saja tidak banyak bercerita tentang
ekonomi kerakyatan, tetapi dengan penyerahan secara simbolis paket-paket itu di Solo,
usaha ekonomi kerakyatan itu makin bergulir.
Yayasan Damandiri yang selama ini membantu pengentasan kemiskinan dengan
santunan kepada tidak kurang dari 13,9 juta keluarga yang dilatih menabung dan belajar
mempergunakan dana untuk usaha produktip akan menindak lanjuti usaha Presiden
tersebut.
Paket pengembangan Pundi, atau pembinaan usaha mandiri merupakan
dukungan bimbingan dan dana untuk usaha dalam berbagai bidang yang menghasilkan
untung bagi ibu-ibu yang ingin membangun keluarga sejahtera secara mandiri. Program
ini mendapat dukungan Ibu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Kepala
BKKBN karena mengutamakan pemberdayaan sasaran kaum ibu yang diharapkan akan
menjadi tiang penyangga yang handal dalam keluarganya.
Disamping paket pengembangan Pundi, diserahkan juga oleh Ibu Megawati
beberapa paket pengembangan Warung Sudara, atau Warung dengan sistem usaha
damai sejahtera yang merupakan paket bimbingan dan kredit untuk membuka warung,
dan memberi semangat kepada masyarakat sekitarnya untuk memanfaatkan warung itu
sebagai sarana membangun masyarakat sejahtera dengan penuh kedamaian dan
kesejahteraan. Pengembangan Warung Sudara yang diselenggarakan oleh Yayasan
Indra ini, selain mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah setempat, juga mendapat
dukungan dari Yayasan Damandiri dan berbagai perusahaan yang secara langsung
sangat berkepentingan menyalurkan barang-barang produksinya ke pasar konsumen
dengan harga yang terjangkau.
Kita bersyukur Hari Kartini tahun 2002 penuh makna dan konkrit. Ibu-ibu yang
mempunyai usaha produktip diharapkan tidak saja akan menjadi makin dinamik, tetapi
sekaligus menjadi Kartini modern dalam era globalisasi, yang akan menjadikan dirinya
contoh dengan ikut mendidik anak-anak bangsa dalam sistem Broad-Base Education,
menjadikan setiap anak belajar kewirausahaan yang handal untuk masa depannya yang
lebih baik. Mudah-mudahan membawa berkah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat
Masalah Sosial Kemasyarakatan). – Pengantar-Ibu-2242002.
18
MENINGKATKAN KUALITAS GENERASI MUDA
Minggu ketiga Januari 2003, Pimpinan Pengurus Pusat Himpunan Pandu dan
Pramuka Wreda (Hipprada) diterima oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
(Menko Kesra), Drs. Jusuf Kalla, dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
(Meneg PP), Ibu Sri Redjeki Sumarjoto, SH., di kantor masing-masing di Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung dengan penuh keakraban itu telah membahas upaya-upaya
peningkatan kualitas generasi muda, khususnya upaya meningkatkan peranan Hipprada
dan Gerakan Nasional Pramuka dalam pemberdayaan masa depan dan pengembangan
watak generasi muda.
Disampaikan dalam pertemuan itu bahwa salah satu upaya yang akan dilakukan
bersama oleh Hipprada, Gerakan Nasional Pramuka, dan Yayasan Damandiri adalah
mengembangkan program latihan untuk para Pembina Pramuka di beberapa propinsi
terpilih. Melalui latihan ini para pembina akan disegarkan kemampuannya dalam tehniktehnik
kepramukaan. Disamping itu para pembina akan dipersiapkan agar mampu
mengembangkan kegiatan bhakti Pramuka yang makin luas cakupannya. Para pembina
akan dilatih untuk mengembangkan program-program yang memungkinkan generasi
muda makin peka dan peduli terhadap kebutuhan masyarakat luas, terutama pada sesama
generasi muda yang kurang beruntung di kampung dan desa tempat tinggalnya.
Para Pembina akan dipersiapkan agar mampu mempersiapkan anggota Pramuka
yang berkualitas, makin peduli, mahir serta sanggup mempersiapkan, mengembangkan
dan mengelola program dan kegiatan dalam bidang kesehatan, terutama kesehatan
reproduksi, menghadapi godaan narkoba dan tantangan di bidang kesehatan lain yang
bakal dihadapi dalam abad ke 21 yang penuh tantangan sekarang ini. Para pembina akan
disiapkan pula untuk mengembangkan dan membina anggotanya tetap belajar menuntut
ilmu sebagai bekal menghadapi masa depan yang kompetitif. Mereka juga akan dilatih
untuk makin menguasai ketrampilan dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan usaha
ekonomi produktif dan mandiri.
Sementara itu disampaikan pula bahwa kegiatan yang akan dijadikan salah satu
andalan adalah melatih anak didik Pramuka untuk makin memupuk rasa solidaritas antar
kawan melalui upaya pengembangan Gerakan Sadar Menabung. Para anggota Pramuka
yang sekaligus siswa SD, SLTP dan SMU dari keluarga kurang mampu akan diusahakan
untuk memperoleh bantuan beasiswa yang disalurkan sebagai tabungan bagi setiap siswa
yang menerimanya. Untuk menambah tabungan para siswa yang kurang beruntung itu,
siswa lain, dan orang tua yang lebih mampu atau lembaga yang lebih mampu, akan
dihimbau untuk memberikan bantuan kepada siswa anak keluarga kurang mampu itu
dengan mengisi tambahan pada buku tabungan yang dimiliki oleh setiap siswa.
Karena tabungan itu dilakukan melalui Bank yang ada di daerah masing-masing,
maka bantuan penambahan sumbangan bisa disalurkan langsung kepada Bank yang
bersangkutan dengan perintah untuk disalurkan langsung kepada anak-anak yang
dipilihnya melalui tabungan masing-masing. Setiap penyumbang bisa melakukan kontrol
langsung melalui laporan bank yang bersangkutan.
Disampaikan bahwa pada awal tahun 2003 segera akan disalurkan bantuan
beasiswa kepada 50.000 anak-anak SD dari berbagai propinsi melalui Lembaga GN
OTA. Disamping itu akan disalurkan bantuan ProgramBelajar Mandiei kepada anak19
anak SMU, SMK dan MA tidak kurang dari 30.000 - 50.000 anak-anak keluarga kurang
mampu melalui Bank-Bank mitra kerja Yayasan Damandiri. di kawasan timur Indonesia.
Tidak kurang dari 2.000 siswa drop out juga akan mendapat bantuan melalui beberapa
BPR yang ditunjuk.
Anak-anak keluarga kurang mampu yang menerima bantuan secara otomatis
akan mengikuti gerakan sadar menabung. Kepada anak keluarga yang lebih mampu dan
membuka tabungan pada Bank peserta, kepadanya diberikan bonus secara khusus yaitu
kesempatan untuk mengajak temannya yang kurang mampu. Setiap anak yang membuka
tabungan dengan dana sendiri bisa menunjuk satu orang siswa dari keluarga kurang
mampu untuk menjadi mitranya dalam menabung. Tabungan pertama dari anak-anak
yang dijadikan mitra itu akan diisi oleh lembaga yang bekerjasama seperti tersebut
diatas. Dengan kata lain, seorang anak dari keluarga mampu mulai menabung, maka
secara otomatis dia memberi kesempatan kepada temannya untuk ikut serta menabung
dengan tabungan awal gratis. Beli satu dapat dua.
Pendekatan kedua dari gerakan ini adalah melalui gerakan nasional Pramuka.
Para anggota Pramuka anak keluarga mampu akan dianjurkan untuk menabung pada
Bank peserta. Seperti pendekatan melalui sekolah, bagi setiap anggota Pramuka yang
mulai menabung, yang bersangkutan bisa mengajak seorang anggota Pramuka lain yang
kebetulan anak keluarga kurang mampu untuk menabung. Tabungan awal dari anak
keluarga kurang mampu yang diajak itu ditanggung oleh kerjasama gerakan sadar
menabung seperti tersebut diatas. Disini juga berlaku, beli satu dapat dua.
Pendekatan ketiga yang ditempuh adalah dengan memberi kesempatan kepada
para nasabah Bank yang mendapatkan kredit untuk usaha produktip. Setiap nasabah
yang mendapat fasilitas kredit diharapkan mulai membuka tabungan pada Bank yang
memberikan kredit. Setiap nasabah yang membuka tabungan berhak menunjuk seorang
anak dari keluarga kurang mampu yang menjadi langganannya, atau tetangganya, untuk
mulai membuka tabungan juga. Setiap nasabah diminta menunjuk seorang anak calon
penabung dari keluarga kurang mampu, dengan harapan kalau nasabah itu mendapat
untung bisa membagi untungnya untuk mengisi tambahan tabungan untuk anak keluarga
kurang mampu yang diangkat dengan tabungannya tersebut. Proses itu diharapkan dapat
menciptakan kesempatan menikmati kesejahteraan yang lebih merata.
Untuk meningkatkan motivasi bagi para penabung, Bank-bank peserta gerakan
sadar menabung berjanji memberikan bonus berupa undian, sekali setiap tiga bulan
dengan hadiah-hadiah yang menarik, seperti mobil, sepeda motor, beasiswa dan hadiah
berupa uang tunai yang ditambahkan pada tabungan para penabung.
Atas pemaparan program tersebut kedua Menteri memberikan apresiasi dan
saran-saran untuk penyempurnaannya. Diharapkan pengembangan generasi muda yang
direncanakan itu dapat berjalan lancar. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah
Sosial Kemasyarakatan) – Pengantar-Perluasan-2712003
20
PAHLAWAN PEMBANGUNAN
Hari Pahlawan 2001 diperingati. Peringatan Hari yang sangat bersejarah ini
bersamaan waktu dengan berakhirnya Sidang Tahunan MPR 2001. Kebersamaan itu
membawa makna yang mendalam. Kita memberi hormat yang sangat tinggi dan terima
kasih yang tidak terhingga kepada para pendahulu. Mereka berjuang dengan darah,
nyawa serta kemampuan intelektual mengantar bangsa yang kita cintai ini kepintu
gerbang kemerdekaan. Kita juga memberi hormat kepada para anggota MPR yang
berjuang dengan gigih agar para pemimpin dan mereka yang kita harapkan mengisi
kemerdekaan bekerja dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab yang transparan
kepada rakyat yang dipimpinnya.
Sidang Tahunan MPR 2001, yang diadakan dalam suasana reformasi yang
demokratis mempunyai arti yang sangat penting. Para anggota yang terhormat
membicarakan topik bahasan yang cukup rumit. Banyak anggota masyarakat yang
kadang terkejut-kejut karena kita seakan-akan sedang melihat suatu tontonan mirip film
Holywood buatan Amerika. Ada yang langsung berteriak bahwa tontonan itu tidak
pantas dipertunjukkan.
Sebagai bangsa yang menganut adat ketimuran yang halus, tontonan itu dianggap
memalukan dan tidak pantas dipertunjukkan oleh para anggota yang terhormat. Kata
mereka bangsa ini menangis dan sedih melihat para pemimpinnya bertingkah seperti
preman. Mereka mengeluh bahwa phenomena yang terjadi sudah kebablasan dan tidak
terkendali. Ada lagi yang kawatir bahwa kita terperangkap dalam suatu persiapan
“Perang Saudara” seperti Baratayuda.
Tetapi ada pula yang diam-diam bergumam, kita sedang belajar budaya baru
yang tatanannya belum kita atur dengan rapi atau setidaknya belum kita pahami
bersama. Mereka menganggap apa yang sedang terjadi sebagai suatu peristiwa biasabiasa
saja. Mereka mengajak semua pihak agar dengan kepala dingin dan bijaksana
menyambut budaya baru itu dengan tetap tenang, tidak usah terburu-buru emosi untuk
merubah segalanya dalam sekejap. Dengan tetap memegang semangat persatuan,
kesatuan serta kebersamaan kita bangun bersama bangsa yang kita cintai ini dalam
suasana damai yang indah penuh kesejukkan.
Dalam memperingati hari yang sangat penting ini kami menghimbau agar semua
pihak menyegarkan dan memperkuat komitmen untuk mengembangkan restrukturisasi
dan rekapitalisasi sosial yang menyangkut bidang-bidang kesehatan, KB, pendidikan,
serta berupaya keras menjamin dan memberi kesempatan semua pihak untuk
berpartisipasi dalam pembangunan dengan kerja keras, terhormat dengan diiringi
keimanan dan ketaqwaan yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Restrukturisasi dan rekapitalisasi sosial itu sangat diperlukan untuk menjamin
pengembangan sumber daya manusia yang handal, yang sanggup menghantar bangsa ini
menjadi bangsa yang jaya dan sejahtera. Mereka kita harapkan menjadi pahlawan
pembangunan masa depan.
21
Kita tidak boleh iri kepada para pahlawan masa lalu yang namanya selalu
disebut dan diingat manakala kita memperingati Hari Pahlawan. Kita harus menyambut
seluruh peristiwa itu dengan rasa syukur, komitmen dan usaha baru yang jauh lebih gigih
dengan terus menerus bekerja keras mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. Jaman ini
adalah suatu era modern dimana setiap pejuang harus bekerja keras mengembangkan
budaya penghargaan yang tinggi terhadap harga diri manusia, kesejahteraan dan
hak-hak azasi manusia pada umumnya.
Oleh karena itu kita harus menyambut Hari Pahlawan 2001 dengan memihak
pada usaha-usaha konkrit yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kependidikan, para sesepuh,
orang tua, para guru dan banyak pihak yang usahanya dalam mencerdaskan bangsa tidak
dapat kita nilai harganya. Kita mengharapkan agar generasi muda menyambut
kesempatan mengenang para pahlawan dengan belajar giat seraya selalu menghargai
jasa para pahlawannya.
Disamping itu, kita harus memberi hormat yang tinggi terhadap para pejuang
yang dengan gigih memihak dan memberikan pelatihan yang melelahkan kepada para
penduduk miskin, tua muda, di pedesaan. Bukan seperti pahlawan dimasa revolusi,
mereka tidak menyiapkan negara baru. Mereka menyiapkan manusia baru dari sisa-sisa
kebangkrutan masa lalu yang belum bisa kita selesaikan sampai sekarang. Mereka
menyiapkan manusia-manusia pembangunan yang handal dan sanggup menjadi tiang
penyangga negara dan bangsa yang kita perjuangkan selama ini.
Kami ingin mengajak semua pihak untuk melihat betapa banyaknya anak-anak
muda remaja kita, yang karena miskin, tidak dapat meneruskan pendidikannya. Dimasa
lalu, kalau kita miskin, bisa tetap tinggal di desa, mengerjakan sawah dan ladang warisan
orang tua. Tetapi, kini, karena pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dimasa lalu,
serta sistem warisan yang selalu membagi habis sawah-sawah peninggalan orang tua,
sawah dan ladang untuk setiap keluarga menjadi sangat sempit. Atau bahkan tidak
tersisa lagi. Anak-anak muda tidak lagi mempunyai sawah atau ladang untuk
dikerjakannya di desa.
Kesulitan anak muda untuk tetap tinggal di desanya itu tidak sederhana. Sistem
warisan masih ditambah lagi dengan praktek-praktek lain yang merugikan petani di desa.
Masalah-masalah itu, biarpun sering dibahas, belum seluruhya tuntas diselesaikan.
Sistem kredit yang lebih banyak merugikan petani, membuat para petani terpaksa
menjual sawah ladangnya untuk membayar hutang yang tidak pernah mereka nikmati.
Suasana keberpihakan para pengusaha bukan kepada manusia, si petani, tetapi kepada
produksi dan keuntungan yang dapat diraihnya. Petani hampir selalu dirugikan. Setiap
pengusaha yang “berdagang” atau “membuka industri” di perdesaan hampir selalu tidak
meningkatkan kesejahteraan penduduknya, tetapi lebih tertarik kepada bagaimana
mengambil untung yang sebesar-besarnya dari eksploitasi manusia yang tidak berdosa.
Kita sangat sedih. Biarpun banyak dilakukan upaya-upaya yang akan atau telah
menguntungkan para petani, sampai sekarang para petani dan penduduk miskin pedesaan
masih tetap menjadi bagian termiskin dari negara tercinta ini. Kita belum berhasil
memotong lingkaran setan yang menyengsarakan itu. Sebabnya sangat sederhana.
Umumnya berbagai program itu tidak banyak memihak kepada petani di desa, manusia
lemah dan tidak berdaya. Hampir semua orientasinya adalah bagaimana mengambil
untung sebesar-besarnya, dengan ongkos serta pengorbanan yang sekecil-kecilnya, kalau
22
ada. Rakyat yang lemah tidak menjadi subyek pembangunan, tetapi sekedar obyek yang
lemah. Sungguh sangat menyedihkan.
Mempersiapkan Pahlawan
Dimasa lalu pahlawan muncul secara spontan karena situasi dan kondisi yang ada
di sekitarnya. Pahlawan itu menjadi besar karena mampu menanggapi situasi dan kondisi
yang ada dengan kebijaksanaan yang dapat diterima oleh kelompoknya. Karena
kemampuannya bekerja keras bersama rakyat mereka tumbuh membawa kelompoknya
bertahan, maju dan jaya. Bersama kelompoknya mereka gigih dan sanggup menanggapi
situasi dan kondisi gawat dengan pengorbanan yang ikhlas. Pemimpin dan pahlawan itu
adalah pemimpin berbakat dan alamiah.
Dalam mengisi kemerdekaan sekarang, kita tidak selalu bisa menemukan
pemimpin alamiah yang tumbuh sesuai dengan tuntutan jaman seperti itu. Kita bisa
menyiapkan pemimpin dan pahlawan seperti itu. Itulah sebabnya kita angkat jempol
kepada berbagai lembaga pendidikan, sekolah, dan perguruan tinggi yang mempunyai
kepedulian tinggi untuk menyatu dengan masyarakat serta membawa masyarakat itu
kejenjang yang lebih terhormat. Mereka terjun dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata
(KKN), Kuliah Kerja Usaha (KKU), dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Salah satu yang menarik adalah apa yang sedang dikerjakan oleh Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) di Surakarta. Dalam Fakultasnya
mereka mempunyai kegiatan kemahasiswaan yang didukung oleh seluruh komponennya
untuk menyantuni para pengusaha kecil menengah di pedesaan. Mereka bersama-sama
mempelajari hal-hal yang bisa mengantar mereka menjadi pengusaha yang sanggup
bersaing dengan masyarakat global yang menantang. Mereka mengantar penduduk
miskin di pedesaan menjadi manusia unggul untuk mampu mengarungi suasana
globalisasi yang dahsyat.
Fakultas Ekonomi ini tidak puas dengan mendidik anak muda calon-calon
sarjana ekonomi yang handal. Mereka membuka program D3 yang secara sederhana
memberi kesempatan kepada anak-anak dari wilayah sekitarnya untuk menjadi
mahasiswa dalam jangka waktu yang lebih pendek. Waktu yang lebih pendek itu mereka
perlukan karena mereka tidak yakin apakah secara ekonomis mampu bertahan di
Perguruan Tinggi dalam jangka waktu lebih panjang. Dengan masa kuliah yang lebih
pendek mereka berharap bisa segera kembali ke masyarakat untuk membantu orang tua
dan mempersiapkan dirinya menjadi manusia yang mandiri.
Para pengasuh dan dosennya, seperti Drs HM Amien Gunadi MP, Teguh
Wibowo, SE, dan banyak lagi, yang semasa mereka menjadi mahasiswa, lima sepuluh
tahun lalu, telah ikut terjun dalam kegiatan KKN dan KKU, serta banyak bergaul dengan
masyarakat dan keluarga miskin, sadar akan tuntutan dan kebutuhan mahasiswa dan
masyarakat sekitarnya. Mereka tidak saja membekali para mahasiswanya dengan ilmu
yang mutakhir, tetapi mengajak mereka bergaul akrab dengan dunia nyata.
Para mahasiswa diperkenalkan kepada para pengusaha kecil, menengah dan
besar di sekitarnya. Mereka diajak belajar praktek, meneliti, serta apabila perlu magang
kepada pengusaha-pengusaha yang dianggap berhasil. Bahkan para mahasiswa ditantang
untuk belajar kepada para pengusaha yang sedang “bingung” karena tidak selalu mampu
menangkap aspirasi dan tuntutan pasar. Para mahasiswa ditantang untuk “secara
23
ilmiah” ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh para pengusaha kecil dan
menengah itu.
Mahasiswa yang menerima teori dan mendasarkan analisis ilmiahnya pada tren
bisnis yang digelar berdasarkan hasil pembukuan yang rapi menjadi binggung. Pada
umumnya para pengusaha kecil di desa tidak mempunyai catatan pembukuan cash flow
atas usahanya. Mereka mencatat segala transaksinya dengan daya ingat lisan dan
kepercayaan. Tetapi para dosen, yang pernah dibesarkan dilapangan, tidak kehilangan
akal. Mereka menganjurkan kepada para mahasiswa untuk dengan sabar bekerja dengan
para pengusaha mengenal sistem pembukuan “kiak kiuk”. Manajemen pembukuan
“kiak kiuk” adalah suatu sistem pembukuan yang dicipta atas dasar cerita tentang
transaksi uang masuk, utang, hasil penjualan, uang keluar, cicilan utang, ongkos bahan
baku, dan sebagainya, yang dilakukan pengusaha setiap hari. Atas dasar cerita itu para
mahasiswa harus bisa menterjemahkannya menjadi suatu catatan cash flow sederhana
dan mudah dipahami.
Dengan bahasa dan cara sederhana itu para mahasiswa diajak bergaul dengan
masyarakat dengan cara penuh simpati. Dengan pendekatan itu para pengusaha kecil
yang menjadi mitranya bertambah yakin bahwa mahasiswa tidak “mengguruinya”,
tetapi justru menjadi sahabat atau teman kerja terpercaya. Mereka mencurahkan segala
uneg-unegnya untuk mendapat bantuan. Bahkan mereka rela produknya kemudian
muncul dalam situs-situs yang dikarang oleh para mahasiswa yang sedang belajar
praktek membuat situs di internet kampus mereka.
Kegiatan para mahasiswa menjadi makin “membumi”. Dilapangan mereka
kagum bahwa rakyat kecil yang tidak lulus Perguruan Tinggi, SMU atau bahkan tidak
lulus SLTP, mampu menciptakan inovasi yang tidak ada tandingannya. Mereka
menciptakan produk-produk yang mampu menarik minat pasar. Lebih mengagumkan
lagi, apabila usaha para pengusaha ini maju, mereka mengajak anak-anak muda di
kampungnya untuk ikut menjadi “karyawan magang”, membantu memperluas
perusahaannya. Mahasiswa yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa itu makin
yakin bahwa dalam era globalisasi yang sangat dahsyat persaingannya ini akan dapat
disongsong oleh masyarakat Indonesia kalau mereka menyatu dengan masyarakat luas.
Mereka akan berhasil kalau bisa memelihara kebersamaan dan mengisi kemerdekaan ini
dengan belajar giat, bekerja keras dan memelihara persatuan dan kesatuan. Mereka yakin
bisa mengisi kemerdekaan dengan cara yang sangat membumi itu.
Selamat memperingati Hari Pahlawan 2001, semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberkati para pahlawan yang mulia tersebut. Semoga mucul pahlawan-pahlawan
pembangunan baru yang sanggup mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan
bekerja keras dan tetap memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Pahlawan-10112001
(Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar