Sabtu, 04 September 2010

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dan Hipertensi Pada Wanita Di Kabupaten Sukoharjo

Rebecca
Bhisma Murti
ABSTRACT
Stressful life, eating habit, smoking, and sedentary life are some of known risk factors for hypertension among
women. Hypertension is an important public health issue, since it is a risk factor for various cardiovascular
complications, such as heart failure and stroke. Grossman’s theory on the demand for health capital contends
that education improves the marginal efficiency of investment in health, so that people with higher education
are predicted to have better health than those with lower education.The Grossman theory to support a lot of
examination before.This study aimed to test Grossman’s theory by examining the association between
education level and hypertension among women, especially in Sukoharjo District.
The study was analytic and observasional using cross sectional design. This study was conducted in Sukoharjo
District. A sampel of 120 women was drawn for the study. The statistical analysis was performed by use of
logistic regression.
The study showed a statistically significant association between education level and hypertension. Secondary
school reduced the risk for hypertension one fifth less than primary school/ no schooling (OR 0,21, CI 95%
0,45 to 0,99). University reduced the risk for hypertension one tenth less than primary school/ no schooling
(OR 0,10, CI 95% 0,02 to 0,59). This estimates had controlled for the effects of potential confounding factors,
including income, social capital, and age.
This study concludes that there is a statistically signficant association between education level and
hypertension. This conclusion was drawn after controlling for the effects of some confounding factors. Its is
suggested that women enhance their knowledge in health related issues in order to lessen the risk for
hypertension.
Key words: hypertension, education level, women
A. PENDAHULUAN
Tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat
dilihat dari Index Pembangunan Sumber Daya
Manusia (HDI= Human Development Index). HDI
merupakan suatu indikator komposit yang terdiri
dari derajat kesehatan, tingkat pendidikan dan
kemampuan ekonomi keluarga. Indikator yang
dipakai di bidang kesehatan adalah angka harapan
hidup, untuk pendidikan adalah angka dan
membaca pada orang dewasa yang dikombinasikan
dengan angka masuk SD, SMP dan SMA, serta
untuk kemampuan ekonomi dipakai Produk
Domestik Bruto (PDB) (Argadireja, 2003:2).
Badan Kesehatan Sedunia (WHO) telah lama
mengkampanyekan perubah-an strategi dari upaya
pemeliharaan kesehatan (health services) ke kampanye
untuk memerangi kemiskinan, sebagai strategi
untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat
miskin sedunia. Upaya kesehatan selektif dinilai
tidak dapat meningkatkan status kesehatan
masyarakat secara utuh (Price, 1994 dalam Srini, et
al, 2000: 3). Tingginya angka kematian ibu di
Indonesia, semakin menurunnya anak perempuan
yang mengikuti pendidikan formal di tingkat
sekolah lanjutan, terpusat-nya pekerja perempuan di
sektor yang rendah pendidikan, rendah ketrampilan
dan rendah upah. Kesemuanya secara tersendiri
maupun bersama-sama menggambarkan bahwa
kemiskinan masih melekat dan akrab dengan
perempuan (Sadli, 1999: 1).
Peran berganda wanita, termasuk peran
mereka dalam keluarga dan masyarakat seringkali
tidak diakui, sehingga mereka sering tidak mendapatkan
dukungan sosial, psikologis dan ekonomis
yang sangat diperlukan. Kesehatan perempuan
bergan-tung pada peningkatan ekonomi dan sosial
dalam bidang pendidikan, kondisi kerja dan standar
hidup (Asian Development Bank, 2007: 3-4).
Beban hidup yang berat, stres dan pola hidup
yang konsumtif menyebabkan perempuan
mempunyai tekanan darah tinggi. Hipertensi
merupakan satu diantara sekian banyak penyebab
gangguan pada jantung dan pembuluh darah.
Tekanan darah tinggi seringkali tidak memberikan
tanda-tanda peringat-an sehingga bisa menjadi
pembunuh diam-diam (silent killer), kecuali jika
kita secara tetap tentu melakukan pemeriksaan dan
pengobat-an ke dokter. Karena itu kepada setiap
orang dewasa dianjurkan untuk mengetahui tekanan
darahnya sendiri, karena ini menyangkut
kesehatannya sendiri. Jika tekanan darah tidak
terkontrol, maka tekanan darah tinggi dapat
membebani jantung dan pembuluh darah secara
berlebihan sehingga mempercepat penyumbatan
pembuluh arteri yang disebut artherosclerosis. Ini
dapat mengarah kepada serangan jantung, stroke,
kegagalan jantung (heart failure) dan kegagalan
ginjal (kidney failure) (Uripto, 2004: 1-8).
Seseorang dapat dianggap mempunyai
tekanan darah tinggi bila tekanan darahnya lebih
dari 140/90, tidak tergantung usianya. Pengukuran
tekanan darah harus dilakukan dalam sikap duduk
dan setelah istirahat selama 5 - 10 menit. Alat
pengukur tekanan darah elektronik dapat
digunakan, namun perlu dibandingkan dahulu
dengan sfigmo-manometer air raksa. Pengobatan
perlu menurunkan tekanan darah secara pelahan
hingga di bawah kriteria di atas, atau bila
sebelumnya tinggi sekali, paling tidak mendekati
140/90. tekanan darah tak boleh diturunkan secara
drastis, misalnya dari 250 sistolik ke 120, karena
dapat menimbulkan stroke. Perubahan gaya hidup
banyak mempengaruhi proses penurunan tekanan
darah. Makan terlalu banyak sehingga
menimbulkan kegemu-kan dapat bermuara pada
hipertensi. Hidup dengan gaya sibuk pun ikut
mempengaruhi tekanan darah. Belum lagi kebiasaan
merokok, yang juga salah satu pemicu hipertensi
(Uripto, 2004: 9).
Hasil pembangunan kesehatan di kabupaten
Sukoharjo pada tahun 2004 masih belum
menunjukkan hasil yang maksimal. Berbagai
hambatan dan kendala baik dari faktor internal
maupun eksternal yang harus dicari pemecahannya.
Masih banyak diperlu-kan upaya perbaikan dan
peningkatan terhadap berbagai program atau
kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat.
Selain dipengaruhi oleh faktor pelayanan kesehatan
yang menja-di titik tolak pembangunan kesehatan,
derajat kesehatan masyarakat, juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti perilaku masyarakat,
lingkungan dan demografi. Sehingga diperlukan
suatu perencanaan pembangunan kesehatan yang
terpadu, yang dapat mengoptimal-kan kekuatan dan
potensial Kabupaten Sukoharjo, serta dapat
memadukan semua sektor tersebut guna meningkatkan
dan memperbaiki derajat kesehatan masyarakat
(DinKes Kabupaten Suko-harjo, 2005: 61).
Laporan kegiatan Sukoharjo Sehat pada tahun
2004 dari 151.485 rumah tangga yang ada, berhasil
diperiksa sebanyak 24.223 rumah tangga. rumah
tangga strata pratama sebanyak 16,86%, rumah
tangga strata madya sebanyak 31,30%, rumah
tangga strata utama sebanyak 40,14% dan rumah
tangga strata paripurna sebanyak 11,75%. Wilayah
Puskesmas dengan cakupan rumah tangga strata
paripurna terendah di Puskesmas Bendosari
(0,52%), Puskesmas II Grogol (1,37%) dan
Puskesmas Weru (1,97%). Wilayah Puskesmas
dengan cakupan rumah tangga strata paripurna
tertinggi di Puskesmas II Kartosuro (60,06%) dan
Puskesmas II Mojolaban (48,78%) (DinKes
Kabupaten Sukoharjo, 2005: 32).
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka
merasa perlu untuk diteliti hubungan antara tingkat
pendidikan dan hipertensi pada wanita di
Kabupaten Sukoharjo setelah memperhitungkan
confounding factors: income keluarga, modal sosial
dan usia.
B. METODE PENELTIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan peneli-tian dengan
metode observasi analitik dengan pendekatan studi
potong lintang (Cross Sectional) yaitu mencuplik
sebuah sampel dari populasi dalam satu waktu, dan
memeriksa status paparan dan status penyakit pada
titik waktu yang sama dari masing-masing individu
dalam sampel tersebut (Murti, 2003: 214-215).
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten
Sukoharjo, yaitu Kecamatan Gatak, Kecamatan
Sukoharjo dan Kecamatan Grogol. Penelitian
dilaksa-nakan pada bulan Januari 2007.
3. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah wanita di
Kabupaten Sukoharjo sebanyak 412.364 orang
(DinKes Kabupaten Sukoharjo,2005:68). Sampel
diambil memakai desain pencuplikan (sampling
design) menggunakan pencu-plikan non-random
(non-probabilitas) dan kriteria restriksi dalam
pemilihan subyek, yaitu pencuplikan purposif
(purposive sampling) dengan memasuk-kan dua
jenis kriteria restriksi: kreteria inklusi dan kriteria
eksklusi (Murti, 2003: 136, 145).
Teknik Purposive Sampling, yaitu sampel
yang dipilih dengan cermat sehingga relevan
dengan rancangan riset (Sumarsono, 2004: 63).
a. Kriteria inklusi:
1). Wanita yang telah menikah dan memiliki
indentitas diri (KTP dan KK);
2). Warga masyarakat Kabupaten Sukoharjo.
b. Kriteria eksklusi:
1).Wanita jompo;
2).Wanita dengan kelainan jiwa (gila).
c. Ukuran Sampel
Jumlah sampel ditentukan dari variabel
independen x (15 20 observasi) (Hair, et al.,
1998: 166). Dalam penelitian ini terdapat 4
variabel independen sehingga jumlah sampel
minimum yang diperlukan adalah 4 x 20 = 80
orang. Sampel yang digunakan sebanyak 120
orang, dengan perincian Kecamatan Gatak
sebanyak 40 orang, Kecamatan Sukoharjo
sebanyak 40 orang dan Kecamatan Grogol
sebanyak 40 orang.
4. Analisis Data Penelitian
Analisis statistik dalam penelitian ini adalah
analisis regresi ganda logistik. Analisis regresi
ganda logistik adalah alat statistik yang sangat kuat
untuk menganalisis pengaruh antara sebuah paparan
dan penyakit (yang diukur ordinal) dan dengan
serentak mengontrol pengaruh sejumlah faktor
perancu potensial.
Menurut Murti (1997: 368-369), model
regresi logistik selanjutnya dapat digunakan untuk:
a). Mengukur pengaruh antara variabel respon dan
variabel prediktor setelah mengontrol pengaruh
prediktor (kovariat) lainnya.
b).Keistimewaan analisis regresi ganda logistik
dibanding dengan analisis ganda linier adalah
kemampuannya mengkon-versi koefisien regresi
(bi) menjadi Odds Ratio (OR). Untuk variabel
prediktor yang berskala katagorial, maka rumus
OR = Exp (bi).
Rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut (Murti, 1997: 368-369):
ln ÷ ÷
ø
ö
ç çè
æ
- p
p
1 = a + b1x1 + b2x2 +b3x3 + b4x4
Di mana :
p : Probabilitas wanita dengan status kesehatan tinggi
1 - p : Probabilitas wanita dengan status kesehatan rendah.
a : Konstanta
b1..b3 : Konstanta regresi variabel bebas x1…x4
x1 : Pendidikan
0. SD/Tidak Sekolah
1. SMP/SMA
2. Perguruan Tinggi
x2 : Pendapatan Keluarga
0. < Rp. 1.915.000,00 (Median)
1. ≥ Rp. 1.915.000,00
x3 : Modal Sosial
0. Rendah
1. Tinggi
X4 : Usia
0. < 43 tahun (Median)
1. ≥ 43 tahun
C. HASIL PENELITIAN
Analisis hubungan antara tingkat pendidikan
dan hipertensi pada wanita pada penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan Regresi Ganda
Logistik metode Enter, yaitu memasukkan semua
variabel hasil analisis univariat ke dalam model
berdasarkan kerangka konsep penelitian (Murti,
1997: 374-375). Analisis data menggunakan
program SPSS Version 15.0.
Tabel 1. Menunjukkan hasil regresi ganda
logistik variabel bebas yaitu: tingkat pendidikan,
income keluarga, modal sosial dan usia dengan
variabel terikat yaitu hipertensi pada wanita.
Tabel 1
Rangkuman Hasil Analisis Regresi Ganda Logistik Data Penelitian
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan, Income Keluarga, Modal Sosial dan Usia Terhadap Hipertensi Wanita di
Kabupaten Sukoharjo.
Variabel Odds Ratio
Exp (B)
Confidence
Interval 95%
Sig. Odds Ratio
Exp (B)
Confidence
Interval 95%
Sig.
Pendidikan (X1)
SD/Tdk Sekolah 1 1
SMP/SMU 0,21 (0,45– 0,99) 0,05 0,19 (0,05 – 0,74) 0,02
PT 0,10 (0,02 – 0,59) 0,02 0,17 (0,04– 0,70) 0,01
Income Keluarga (X2)
< Rp. 1.915.000,00 1
≥ Rp. 1.915.000,00 2,14 (0,74 -6,23) 0,16
Modal Sosial
Rendah 1
Tinggi 0,64 (0,21 – 1,96) 0,43
Usia
< 43 tahun 1
≥ 43 tahun 7,34 (3,07 -17,54) 0,00
N observasi 119 120
R2 Nagelkerke 0,33 0,09
-2 Log Likelihood 130,79 156,83
Sumber: Hasil penelitian, diolah.
Pada model 1, Odds Ratio tingkat pendidikan
SMP/SMU adalah 0,21 dan PT adalah 0,10,
sedangkan pada Model 2 Odds Ratio tingkat
pendidikan SMP/SMU adalah 0,19 dan PT adalah
0,17. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan
estimasi Odds Ratio antara Model 2 (analisis kasar
tanpa memperhitungkan variabel-variabel pe-rancu
potensial) dan Model 1 (analisis dengan
memperhitungkan confounding factors potensial).
Variabel income ke-luarga, modal sosial dan umur
memang merupakan confounding factors.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan
antara lain bahwa tingkat pendidikan berhubungan
signifikan dengan hipertensi pada wanita di
Kabupaten Sukoharjo. Wanita berpendi-dikan
SMP/SMU mempunyai risiko seperlima lebih kecil
untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan
yang berpendidikan SD/Tidak Sekolah (OR = 0,21;
CI 95 % = 0,45 – 0,99).
Wanita berpendidikan PT mem-punyai risiko
sepersepuluh kali lebih kecil untuk mengalami
hipertensi dibandingkan dengan yang berpendidikan
SD/Tidak Sekolah (OR = 0,10; CI 95 % =
0,02 – 0,59).
2. Saran
a. Bagi para ibu yang mempunyai pendapatan
keluarga rendah diharap-kan menabung untuk
meningkatkan status kesehatan keluarga. Bagi
yang Tidak Sekolah/SD dihimbau untuk
menimba ilmu kesehatan dengan mengikuti
penyuluhan kesehatan di lingkungan masingmasing.
Diharap-kan ibu yang mempunyai
modal sosial rendah agar lebih aktif dalam
kegiatan kemasyarakatan yang berhubungan
dengan pemberdayaan ekonomi dan kesehatan.
Ibu yang berusia lebih dari atau sama dengan 43
tahun diharapkan agar lebih banyak
memeriksakan kesehatannya di tempat
pelayanan kesehatan terdekat.
b. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo
diharapkan lebih mening-katkan penyuluhan
kesehatan bagi ibu-ibu pada kegiatan-kegiatan di
masyarakat pada umumnya dan keluarga miskin
(Gakin) pada khususnya. Diklat-diklat bagi
tenaga kesehatan dan kader kesehatan di
Puskesmas dan Posyandu perlu diadakan.
DAFTAR PUSTAKA
Alim, Y.Y., 2002. Modal Sosial Merajut Kebersamaan. http://www.mailarchive.
com/permias@listserv.syr.edu/msg13093.html [Akses: 2/9/2007]
Argadireja, 2003. Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2003. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departemen
Kesehatan.
Asian Development Bank, 2007. Daftar Periksa (Checklist) Gander: Kesehatan. Jakarta: Bank Pembangunan
Asia.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo, 2006. Sukoharjo Dalam Angka 2005. Sukoharjo: Badan Pusat
Statistik Kabupaten Sukoharjo.
Bartley dan Owen, 1996. Relation between socioeconomic status, employment, and health during economic
change, 1973-9. British Medicine Journal (BMJ) 1996;313:445-449 (24 August)
Basov, S., 2002. Heterogenous Human Capital: Life Cycle Investment in Health and Education. Australia:
University of Melbourne, Victoria 3010.
Boediono. 2002. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 1 Edisi 2. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Penerbit
BPFE
Brata, A.G., 2005. Kehancuran Ekonomi Perdesaan, Mengapa Berlanjut?. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Christopher, J.L.; Murray; dan Frenk, J., 2000. Sebuah kerangka bagi penilaian kinerja sistem kesehatan. The
World Health Report 2000 - Health systems: improving performance.
Cheng, Y.; Kawachi, I.; Coakley, E.H.; Schwartz, J.; dan Colditz, G. 2000. Association between psychosocial
work characteristics and health functioning in American women: prospective study. British Medicine
Journal (BMJ) 2000;320;1432-1436. Downloaded from bmj.com on 6 February 2007.
http://resources.bmj.com
DepKes RI, 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2000. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Deri Maria Sihombing dan G. Yuristianti, 2000. “Jayawijaya Watch Project: Health Section”. Jayawijaya
Women and Their Children’s Health Project AusAID - World Vision. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
DinKes Kabupaten Sukoharjo, 2005. Profil Kesehatan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2004. Sukoharjo: Dinas
Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.
Elliot M.M., 1999. Healthier Mother and Babies. Morbidity and Mortality Weekly Report Vol: 48 Iss 38 Page
849 – 858, Oct 1 1999.
Folland Sherman, Allen C. Goodman and Miron Stano, 2001. The Economics of Health and Health Care.
Third Edition. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Grossmann Michael, 1999. The Human Capital Model of The Demand for Health. Cambridge: National
Bureau of Economic Research.
Hair, J.F.; Anderson, R.E.; Tatham, R.L.; dan Black, W.C., 1998. Multivariate Data Analysis. Fifth Edition.
New Jersey: Prentice Hall.
Jayawijaya Watch Project, 2000. JAYAWIJAYA WATCH PROJECT: Annual Survey Report, February 2000.
Jowett M., P Contoyannis, and N.D. Vinh, 2002. The Impact of Public Voluntary Health Insurance on Private Health
Expenditures in Vietnam. Social Science and Medicine. Elsevier Science, Ltd.
King D.E., and Lahiri K., Socioeconomic Factors and the Odds of Vaginal Birth after Caesarean Delivery. JAMA. Vol:
272 (7): 524 –529. United States: Departemen of Economics, State University of New York.
Lisbet, C.A., 2004. Hubungan Antara Obesitas Berdasarkan Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian
Sindroma Metabolik Pada Karyawan Bank. Surakarta: UNS Program Pascasarjana.
Malvicini, C.V. dan Sweetser, A.T., 2003. Kemiskinan dan Pembangunan Sosial. Pengalaman dari RETA
5894: Kegiatan Pembinaan Kapasitas dan Partisipasi II. Jakarta: Asian Development Bank.
Marnia, 2007. Modal Sosial: Modal BKM dan Masyarakat Menanggulangi Kemiskinan. www.depsos.go.id
[Akses: 2/9/2007]
Mills, A., dan Gilson, L., 1990. Ekonomi Kesehatan untuk Negara-Negara Sedang Berkembang. Jakarta:
Penerbit Dian Rakyat.
Molo, 1995. Siklus Hidup, Aktivitas Ekonomi Wanita dan Mortalitas Anak. Pusat Studi Kependudukan Universitas
Sebelas Maret.
Murti, B., 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama Yogyakarta: Gadjah mada
University Press.
Nakertrans, 2007. Bidang Pembangunan Sosial Budaya. www.nakertrans.go.is [Akses: 2/9/2007].
Pena R., Wall S., Persson L.A., 2000. The Effect of Poverty, Social Inequity, and Maternal Education on Infant
Mortality in Nicaragua, 1988 – 1993. American Journal of Public Health. Vol. 90 Page: 64 – 69
January 2000.
Permaesih, D., 2000. Dampak Krisis Ekonomi terhadap Perubahan Status Gizi, Biokimia Gizi dan Pola
Makanan di Masyarakat Pedesaan (Data Tahun 1992 dibandingkan Tahun 1999). Jakarta: Badan
Litbang Kesehatan. Center for Research and Development of Nutrition and Food,
NIHRD.htttp:www.digilib.ekologi.litbang.depkes.go.id [Akses:2003-07-08 01:00:00].
Rajab, B., 2005. Membincangkan Modal Sosial (1). http://www.pikiranrakyat.
com/cetak/2005/0205/22/0803.htm [Akses: 2/9/2007]
Retherford; Robert, D.; Naohiro Ogawa; and Rikiya Matsukura, 2001. “Late Marriage and Less Mariage in
Japan”. Population and Development Review 27 (1): 65 – 102, March 2001.
Sadli, S., 1999. Kemiskinan Melekat Pada Perempuan. http://kolom.pacific.net.id/ind Kolom Pakar Pinter
[Akses: 2007-02-08].
Shibuya, K.; Hashimoto, H.; dan Yano, E., 2002. Individual income, income distribution, and self rated health
in Japan: cross sectional analysis of nationally representative sample. BMJ 2002;324:16BMJ 2002;324:16
Siswono, 2007. Perwujudan Kesetaraan Gender Menguntungkan Anak. http://www.suarapembaruan.com
[Akses: 25 Januari, 2007]
Soemanto, R.B., 1990. Proses Pengambilan Keputusan dalam Mengatasi Keadaan Sakit Anak di Kotamadya
Surakarta. Studi Kasus di Kal. Gilingan Kec. Banjarsari. Surakarta: Pusat Studi Kependudukan
Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret. Laporan Penelitian.
Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta
Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Penerbit Alfabeta
Suharto, E., 2007. Modal Sosial dan Kebijakan Publik. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial
Bandung.
Sumarsono, 2004. Metode Riset: Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.
Susana Srini, S.; Malisa, V.; Kombong,M.; Tekege, A.; dan Kogoya, T., 2000. Gender And Development
Jayawijaya Watch Project. Jayawijaya: Jayawijaya Watch Project.
Taichung, 2005. Wanita dan Kesehatan. http://www.penulislepas.com/more.php [Akses: 2/9/2007].
Tjiptoherijanto, P. dan Soesetyo, B., 1994. Ekonomi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Uripto, 2004. Tekanan Darah Tinggi. http://www1.bpkpenabur.or.id [akses: 4/2/2007]
Wiryo, H., 2001. Gerakan Mengubah Perilaku Dan Penajaman Program Prioritas Kesehatan Sebagai Upaya
Inovatif untuk Menurunkan AKB di NTB. Bali: Universitas Udayana www.tempointeraktif.com
[Akses:2/20/03].
World Bank, 1994. World Development Report, 1993. New York: Oxford University Press.
Zill N., 1996. Parental Schooling & Children’s Health. Public Health Reports Vol 111: 34 – 43. Jan – Feb
1996. United States: Child and Family Study Area, Westat, Inc., Rockville.
Mengukur Kualitas Pelayanan Untuk Meningkatkan Kinerja di Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) Klaten
Pemilu Purnomo
Bambang Setiaji
ABSTRACT
Development in Indonesia can’t be separated from tax. Of the national incomes, tax constitutes the most
prominent source. Playing such an important role, Director General of tax suggested the staffs to provide the
best service to the customers. Hence, the staffs in KPP Klaten attempted to provide the best service to the tax
payers.
On the basis of the reason, the study is conducted to find whether the service provided by KPP Klaten satisfies
the tax payers which can be seen from the income of the tax payers and their education levels.
The data of the research are analyzed using Cartesius and Regression. The results show that the levels of
education and the tax payers’ income are inversely proportional with gap. It indicates that the higher the tax
payers’ levels of education, the lesser they care of the service provided by the institution. In addition, the
higher the tax payers’ income, the lesser they care of the service provided by the institution.
Key words: quality of service, gap, education, and tax payers’ income
A. PENDAHULUAN
Urgensi pajak bagi kelangsungan
pembangunan di Indonesia tidak lagi disangsikan.
Karena itu wajar jika pemerintah terus berupaya
menggali berbagai potensi pajak dan menekan
kepatuhan pajak (tax complaince) dari masyarakat.
Namun demikian, kepatuh-an pajak yang
bersumber dari kesadaran masyarakat terhadap
pembayaran pajak itu tentu bukan sesuatu yang
berdiri sendiri.
Berbagai persoalan perpajakan muncul, baik
yang bersumber dari wajib pajak (WP), maupun
yang bersumber dari sistem perpajakan yang
menunjuk-kan bahwa persoalan pajak merupakan
hal yang komplek. Oleh karena penanganan
perpajakan ini memerlukan upaya secara sinergiskomprehensif.
Berbagai upaya untuk mencipta-kan
masyarakat agar memiliki apresiasi yang baik
terhadap kewajiban pajak tidak hanya melihat dari
sudut pandang wajib pajak saja, tetapi perlu
memper-timbangkan aspek-aspek lainnya secara
korelatif. Dengan pertimbangan yang matang,
solusi alternatif dan signifikan dimungkinkan akan
ada peningkatkan kualitas maupun kuantitas
terhadap perpajakan tersebut.
Diyakini pajak merupakan tulang punggung
pembangunan nasional, berbagai kendala
perpajakan masih sulit untuk dielakkan. Secara
simplikasi terdapat tiga permasalahan mendasar
pada perpajakan di Indonesia, yaitu pertama pada
masalah yang berkaitan dengan wajib pajak, kedua
masalah yang berkaitan dengan pemerintah, dan
ketiga masalah pada sistem perpajakan itu sendiri.
Masalah pertama merupakan permasalah
eksternal, yang berkaitan dengan kesadaran
masyarakat terhadap membayar pajak yang
tergolong sangat rendah, hal ini dapat ditunjukkan
data Ditjen Pajak bahwa dari 1,3 juta kepala
keluarga yang terdaftar sebagai wajib pajak hanya
850 ribu yang efektif membayar pajak, dan dari
jumlah tersebut hanya separohnya yang
menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT).
Masalah kedua dan ketiga adalah masalah yang
berkaitan dengan internal perpajakan. Masalah
kedua bersumber dari aparatur pajak, yaitu
mengenai sumber daya manusia yang dimiliki
kantor palayanan pajak, yaitu mengenai
pengetahuan tentang pajak serta pentingnya
pelayanan pajak pada wajib pajak. Sedangkan
masalah ketiga berhubungan dengan sistem
perpajakan, yaitu berkaitan dengan tax rasio (rasio
perpajakan) yang masih rendah, yaitu target
penerimaan pajak yang selalu terlampaui. Secara
teoritis pajak akan mampu menaikkan pungutan
pajak, hal ini perlu peraturan baru tentang potensi
mengurangi kesenjangan pendapatan.
Penelitian ini menyoroti pada permasalahan
kedua yaitu yang berhubungan dengan masalah
internal kantor pelayanan pajak, khususnya Kantor
Pelayanan Pajak Klaten. Permasalahan ini menitik
beratkan pada pelayanan yang ada di kantor
tersebut.
Pelayanan pelanggan merupakan barometer
keberhasilan suatu usaha. Jika pelayanan pelanggan
dilakukan dengan cara yang baik maka pelanggan
(wajib pajak) tersebut akan merasa puas, dengan
demikian wajib pajak akan merasa dihormati hakhaknya,
dan sebaliknya; jika pelayanan terhadap
wajib pajak itu kurang baik maka akan berimbas
pada penarikan pajak pada tahun-tahun berikutnya.
Wiyono dan Wahyudin (2005), melakukan
studi tentang kualitas pelayanan dan kepuasan
konsumen di Rumah Sakit Islam (RSI)
Manisrenggo Klaten. Analisa dan parameter yang
digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan
adalah dengan model regresi dengan prediktor
kualitas pelayanan medis, kualitas pelayanan
paramedis, serta kualitas pelayanan penunjang
medis. Hasilnya; kesemua parameter bertanda
positif serta signifikan dalam derajat keyakinan
alpha 10%. Penelitian tersebut menyimpulkan
bahwa variabel kualitas pelayanan paramedis
memiliki pengaruh terbesar terhadap kepuasan
konsumen.
Prasetyo dan Wahyudin (2005), melakukan
penelitian tentang pengaruh kepuasan dan motivasi
kerja terhadap produktivitas kerja karyawan Riyadi
Palace di Surakarta. Model penelitian menggunakan
probabilitas linear yang parameternya dapat ditaksir
dengan prosedur kuadrat terkecil biasa (OLS).
Variabel independen dalam penelitian adalah
kepuasan kerja dan motivasi. Variabel dependennya
adalah produk-tivitas kerja. Hasil analisa
menunjukkan seluruh variabel bertanda positif dan
signifikan dengan derajat keyakinan alpha 5% dan
1%.
Guntur dan Bambang (2005), meneliti
kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di
PDAM Kota Surakarta. Penelitian ini memprediksi
parameter yang dikemukakan oleh Zeithami et.al.,
atas 5 gap kesenjangan menggunakan analisa
SERQUAL (Service Quality) yaitu responsiveness,
assurance, tangible, empathy dan reliability. Hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua
variabel responsiveness dan empathy mempunyai
gap positif. Persepsi atau harapan pelanggan PDAM
terhadap pelayanan yang dilakukan oleh PDAM
lebih tinggi. Sedangkan variabel anssurance,
tangible dan reliability mempunyai gap negatif
yang artinya harapan pelanggan terhadap pelayanan
yang diberikan oleh PADM lebih tinggi dibanding
harapan pelanggan. Jadi pelayanan yang diberikan
belum sesuai dengan harapan konsumen.
Atas dasar pemikiran tersebut di atas perlu
diadakan sebuah penelitian yang secara khusus
untuk menjawab tentang apakah pelayanan pajak di
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Klaten sudah dapat
memuaskan wajib pajak. Pelayanan dimaksud
dilihat dari kualitas pelayanan yang dilakukan oleh
KPP Klaten ditinjau dari kesenjangan antara
pelayanan yang sebenarnya (riel) dengan pelayanan
yang diharapkan (expected).
B. METODE PENELITIAN
Objek utama penelitian ini adalah Wajib
Pajak (WP) di Kantor Pelayanan Pajak Klaten.
Penelitian didesain menggunakan riset deskriptif
sesuai dengan tujuan penelitian untuk menguraikan
sifat-sifat dari suatu keadaan. Data yang diperlukan
akan diperoleh berdasar atas perumusan
permasalahan.
Metode deskriptif kwantitatif digunakan
untuk pencarian fakta dengan interprestasi yang
tepat dan tujuannya adalah untuk mencari gambaran
yang sistematis, fakta yang akurat. Desain
penelitian pada dasarnya untuk menentukan metode
yang akan digunakan dalam penelitian, antara lain
metode pengumpulan data, rencana analisa data dan
pengujian hipothesa.
1. Metode Pengumpulan Data
Yang menjadi populasi di sini adalah seluruh
wajib pajak yang berada di wilayah Kantor
Pelayanan Pajak Klaten. Sedangkan sampel
sebagian dari objek penelitian yang dapat mewakili
(representatif) dari seluruh populasinya.
Pengambilan sampel dilakukan dari data wajib
pajak (WP) yang datang melapor ke Kantor
Pelayanan Pajak Klaten, dengan tehnik random
sampling. Pengambilan sample dilakukan antara
jam 9–11 setiap hari selama 10 hari dengan ratarata
pengambilan sample 20 responden.
Data yang digunakan dalam penelitian
merupakan data primer dan data sekunder. Data
primer diambil dan diolah dari angket (kuiseoner)
yang diberikan kepada 100 wajib pajak aktif di
Kantor Pelayanan Pajak Klaten untuk mencari
kriteria penilainan mengenai tangible (dapat diraba/
dirasakan), reliability (handal), responsiveness
(ketanggapan), assurance (jaminan) dan empathy
(empati). Data sekunder dikumpulkan dari Kantor
Pelayanan Pajak Klaten. Data sekunder ini
digunakan untuk mendukung data primer, yaitu
untuk mengetahui dan mengklasifikasikan tingkat
keaktifan Wajib Pajak dengan melihat data Sistem
Informasi Perpajakan (SIP) yang tersedia di Kantor
Pelayanan Pajak Klaten
2. Desain Penelitian
Penelitian menggunakan lima kriteria penentu
kualitas pelayanan di Kantor Pelayanan Pajak
Klaten. Kelima kriteria serta atributnya ditunjukkan
dalam gambar 1.
Faktor – factor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib
Pajak
RELIABILITY
Kejujuran, ketepataan ketegasan aparat pajak dalam
menerapkan peraturan perpajakan
Kecepatan dan ketepatan dalam mengelola dan
penyelesaian pelayanan
Pelaksanaan pelayanan yang sama terhadap semua
wajib pajak
RESPOSIVENESS
Aparat pajak cepat & tanggap atas masalah atau
keluhan wajib pajak
Aparat pajak menguasai peraturan pajak dan terampil
dalam bidang tugasnya.
ASSURANCE
Mampu memberikan penjelasan/ berkomunkasi dengan
baik
Bertindak ramah dan sopan
Memberikan pelayanan secara menyeluruh
EMPHATY
Memberikan pembinaan atau penyuluhan secara baik
dan teratur
Memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum
Memberikan perhatian khusus (individual) atas
masalah tertentu.
TANGIBLE
Formulir/ blangko perpajakan mudah diperoleh/
tersedia.
Pengisian dan pengunaan formulir/ blangko mudah.
Peralatan dan perlengkapan pelayanan pajak memadai
dan baik.
Ruang pelayanan nyaman dan memadai.
Gambar 1: Lima Kriteria Penentu Kualitas Pelayanan Pajak
Dari atribut di atas digunakan penilaian
dengan 5 tingkatan (Skala Likert), untuk memberi
penilaian terhadap jawaban responden. Adapun
kelima penilaian tersebut adalah seperti ditunjukkan
table 1.
Tabel 1
Penilaian Kueseoner Dengan Menggunakan Skala Likert
No. Tingkat Kepentingan Tingkat Pelaksanaan Penilaian
1. Sangat Penting Sangat Baik/ Sangat Puas 5
2. Penting Baik/ Puas 4
3. Cukup Penting Cukup Baik/ Cukup Puas 3
4. Kurang Penting Kurang Baik/ Kurang Puas 2
5. Tidak Penting Tidak Baik/ Tidak Puas 1
Tingkat
Kepentingan
Tanggapan
Pelanggan
Tingkat
Pelaksana
an
Kepuasan
Pelanggan
3. Metode Analisa Data
Untuk menjawab perumusan masalah
mengenai sejauh mana tingkat kepuasan wajib
pajak di Kantor Pelayanan Pajak Klaten
menggunakan metode tingkat kesesuaian
responden. Metode ini merupakan hasil
pengukuran secara kwantitatif atas tanggapan wajib
pajak dalam memperoleh pelayanan, dengan
membandingkan skor kinerja pegawai pajak
dengan skor pelayanan wajib pajak (pelanggan),
yaitu dengan melihat skor harapan (expected).
Metode deskripsi data mengguna-kan teknik
perbandingan antara tingkat harapan wajib pajak
dengan tingkat pelayanan yang ada. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui % (prosesntase)
tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan
mengenai pelayanan tersebut. Sedangkan tingkat
kesesuaian tersebut menggunakan rumus sebagai
berikut ;
x100%
Yi
Tki = Xi
Di mana Tki adalah tingkat kesesuaian pelanggan,
Xi adalah penilaian kinerja KPP Klaten dan Yi
adalah penilaian Wajib Pajak.
Metode analisa data mencari nilai rata-rata
baik dari variable X maupun variable Y.
Penggunaan rata-rata tersebut untuk menentukan
letak titik (jawaban pertanyaan) pada kwandran
diagram cartesius. Dalam menyederha-nakan
digunakan rumus sebagai berikut:
n
Xi
X å =
Di mana: X adalah skor rata-rata tingkat
pelaksanaan/kepuasan dan n adalah jumlah
responden. Penilaian tingkat pelaksanaan diambil
dari rata-rata jawaban dari pertanyaan tingkat
pelaksanaan pajak yang diajukan kepada responden.
Tingkat kepentingan mengguna-kan formula
sebagai berikut :
n
Yi
Y å =
Di mana Y adalah skor dari rata-rata tingkat
kepentingan dan n adalah jumlah responden.
Penilaian tingkat kepentingan merupakan penilaian
dari pertanyaan serta jawaban responden terhadap
harapan (expected) yang diinginkannya.
4. Tahap Riset
a. Definisi dan Pengukuran Variabel
1. Variabel dependen (Gap)
Penilaian variable gap adalah kesesuaian antara
harapan dengan kenyataan yang dialami wajib
pajak. Penilian variable gap adalah nilai
indikator total harapan dikurangi dengan total
nilai sebenarnya, menurut penilaian wajib pajak.
Gap = å harapan - å kenyataan
2. Variabel Pendidikan
Penilaian tahun pendidikan dikatego-rikan
menurut tingkat pendidikan terakhir yang di
tempuh oleh wajib pajak dengan jenjang seperti
yang ditunjukkan tabel 2.
Tabel 2
Penilaian Pendidikan Wajib Pajak
Kategori Pendidikan Penilaian
Tidak tamat SD 0
Tamat SD 6
Tamat SMP 9
Tamat SMA 12
Sarjana 16
3. Variabel Pendapatan (Income)
Variabel pendapatan (income) dinilai dari ratarata
penghasilan wajib pajak bulan lalu.
Penilaian tersebut dapat dilihat dalam tabel 3.
Tabel 3
Ratarata Penghasilan Wajib Pajak
(Dalam 000 Rupiah)
Penghasilan per Bulan Rata–rata
500 –1.000 750
1.000 – 2.000 1.500
2.000 – 3.000 2.500
3.000 – 4.000 3.500
4.000 – 5.000 4.500
5.000 – 10.000 7.500
b. Pengujian Kuiseoner
(Validitas dan Reliabilitas)
Penilaian uji reliabilitas dapat dilihat dari
nilai pengujian Cronbach alpha. Sedangkan uji
validitas data dilihat dari score korelasi pearson
product moment, dengan kriteria valid bila semua
butir (item pertanyaan) dalam kuesioner signifikan
(lebih besar dari nilai kritis korelasi pearson
product moment) (Iman Ghozali, 2001 dalam Lau,
2004). Kedua pengujian tersebut dapat dilakukan
dengan program statistik SPSS (Statistical
Program for Social Science)
c. Pengujian Hipothesis
Pengujian hipothesa regresi dilakukan dengan
meregres model berikut ini ;
gap = a + b Pend + b Incom + e 1 2
Di mana gap adalah penilaian kesen-jangan antara
pelayanan di Kantor Pelayanan Pajak Klaten
dengan harapan wajib pajak. Kesenjangan (gap) ini
merupakan indikator dari kesesuaian 5 dimensi
kualitas pelayanan yaitu responsiveness (tanggap),
assurance (jaminan), tangible (tampilan fisik),
empathy (perhatian) dan reliability (keandalaan).
Sedangkan variable pen-jelas (independen) adalah
kondisi riel wajib pajak dengan mengkategorikan
mengenai pendidikan wajib pajak dan pendapatan
(income).
d. Teknik Analisa Data
1. Uji t-statistik
Uji t-statistik untuk mengetahui estimasi
parameter a, b1, b2 apakah dapat dipercaya
(signifikan). Perhitung-an nilai t-statistik
menggunakan rumus berikut :
2
ˆ( )
= ³
Se a
Ta a
Di mana ;
s å
å = 2
2
ˆ( )
i n X
X
Se a
2
ˆ( )
= ³
Se b
Tb b
å
=
2
( )
i X
Se b s
2
2
-
= å
n
e
s
Jika t hitung > t tabel berarti terdapat
pengaruh yang signifikansi antara variabel
independen dengan variabel dependen secara
individu, demikian juga sebaliknya (Santosa: 2000:
168).
2. Uji F-statistik
Uji F untuk mengetahui tingkat signifikansi
variabel-variabel indepen-den terhadap variabel
dependen secara bersama-sama. Rumus yang
digunakan untuk perhitungan F-statistik adalah :
( )
(1 )
( 1)
2
2
n k
R
k
R
F
-
-
= -
Apabila F hitung > F tabel maka variabel
independen secara bersama-sama berpengaruh
signifikansi terhadap variabel dependen (Santosa:
2000: 168).
3. uji R2 (goodness of fit)
Koefisien ini digunakan untuk mengetahui
seberapa jauh kekuatan variabel independen
terhadap variabel dependen. Koefiein dihitung
dengan rumus (Gujarati,1995:84) :
2
2
2
) Y ~ Σ(Y
) Y ~

Σ(
-
R = -

= Y estimasi
Y ~
= Y rata-rata
Nilai koefisien R2 berkisar 0 sampai dengan
1. Jika nilai koefisien R2 mendekati 1 maka variabel
independen semakin kuat berpengaruh terhadap
variabel independen, dan sebaliknya.
4. Otokorelasi (DW)
Otokorelasi kondisi dimana seri et memiliki
korelasi yang tinggi dengan seri et-1 atau data
berkorelasi dengan dirinya sendiri. Untuk
mengetahui adanya permasalahan otokorelasi dapat
menggunakan laporan dari hasil analisa SPSS
dengan melihat nilai Durbin Watson (DW).
Perhitungan untuk DW adalah (Gujarati,1995; 421)
:
÷ ÷
ø
ö
ç ç
è
æ
= - å -
2
2 1 1
t
t t
e
e e
d
Agar tidak menolak hipothesa nol atau tidak
menerima hipotesa alternatif (tidak ada korelasi)
maka diharapkan nilai d berada di antara 1,5 sampai
2,5.
5. Heterokedastisitas
Heterokedastisitas untuk menguji apakah
model tersebar secara konstan selama observasi .
Pengujian ini dengan menggunakan LM test
(Langrang Multiplier Test), yaitu meregresikan
antara residual (e) kwadrat sebagai variabel
dependen dan prediksi (Y) kwadrat sebagai variabel
independen. Persamaan regresi antara residual dan
prediktor tersebut adalah sebagai berikut :
eˆ2 = a + b1Yˆ 2 + u
Kaidah keputusan ada/tidaknya masalah
heterokedastisitas dengan metode LM test adalah :
jika R2 persamaan regresi tersebut dikalikan jumlah
sampel (R2.N) £ 9,2 (batas kritis tabel Chi-Square)
maka model dinyatakan tidak mengalami masalah
heterokedastisitas, dan sebaliknya.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Uji Reliabilitas dan Validitas
Pengujian kuiseoner (validitas dan
reliabilitas) dilakukan kepada 20 responden
sementara. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
apakah semua item pertanyaan yang dibuat sudah
valid dan reliabel. Hasil pengujian validitas dapat
dilihat dalam tabel 4.
Dari 15 pertanyaan, terdapat 14 pertanyaan
yang memenuhi tahap validitas karena lebih besar
dari batas kritis (0,33). Terdapat satu pertanyaan
yang tidak valid (yaitu butir pertanyaan no. 8).
Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien a
=0,924 (di atas 0,6). Berdasarkan besarnya
koefisien ini maka diputuskan bahwa butir-butir
yang digunakan dalam kuesioner reliable atau
konsiten.
Tabel 4
Hasil Uji Reliabilitas Corrected Item Total
Corelation
No. Item
Pertanyaan
Score
Validitas Keterangan
1 Item_1 0.803 Valid
2 Item_2 0.763 Valid
3 Item_3 0.677 Valid
4 Item_4 0.773 Valid
5 Item_5 0.698 Valid
6 Item_6 0.355 Valid
7 Item_7 0.805 Valid
8 Item_8 0.101 Tidak Valid
9 Item_9 0.794 Valid
10 Item_10 0.563 Valid
11 Item_11 0.748 Valid
12 Item_12 0.722 Valid
13 Item_13 0.723 Valid
14 Item_14 0.466 Valid
15 Item_15 0.723 Valid
Ket. Batas kritis : 0,33
Sumber : Diolah dari kuiseoner
2. Analisa Regresi
Regresi digunakan untuk meng-ukur gap
(selisih antara nilai harapan dan kenyataan
pelaksanaan pelayanan), dengan pendidikan wajib
pajak serta penghasilannya. Dua ukuran ini
(pendidikan dan penghasilan) diharap-kan dapat
menerangkan tingkat kepuas-an para wajib pajak.
Hasil perhitungan dengan menggunakan software
SPSS adalah sebagai berikut :
gap = 23,16 - 1,02Pendk - 0.002Incom
(21,08)***(-8,64)*** (-4,24)***
R2 = 0.772
F = 164,14
DW = 1,728
Heterokedastisitas
LM Tes = 0,9
Normalitas = 33,3
*) sign a = 10%,**) sign a = 5%, ***) sign a = 1%
Hasil perhitungan menunjukkan, bahwa pendidikan
berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan
konsumen (gap) sebesar negatif 1,02. Hal ini
mengindikasikan bahwa jika pendidikan itu
meningkat maka kesenjangan atas pelayanan di
Kantor Pelayanan Perpa-jakan Klaten menurun
sebesar 1,02. Demikian juga mengenai penghasilan
(income) wajib pajak yang bertanda negative;
mengindikasikan jika pengha-silan meningkat maka
kesenjangan terhadap pelayanan menurun sebesar
0,002.
3. Pengujian Estimasi
a. Uji t-statistik
Uji t-statistik menunjukkan, thitung pendidikan
sebesar –8,64 > 2.42 ttabel batas kritis alpha 1%.
Sedangkan signifikansi thitung Income sebesar –4,24
> 2.42 ttabel batas kritis alpha 1%. Jadi dapat
dikatakan bahwa kedua variabel independen
(pendidikan dan penghasilan), signifikan dalam
derajat keyakinan alpha 1%.
b. Uji R2 (ketepatan model)
Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1. Semakin
mendekati angka 1 maka variable independen dapat
menjelaskan variable dependennya, demikian juga
sebaliknya. Nilai R2 sebesar 0,772. Artinya bahwa
sebesar 77,2% model diterangkan oleh variasi
variabel inde-penden (pendidikan dan penghasilan),
sedangkan sisanya 22,8% diterangkan oleh variabel
di luar model (model yang tidak dimasukkan dalam
penelitian).
c. Uji F-statistik
F-statistik merupakan pengujian statistik
secara bersama 4.82 (batas kritis alpha 1%, k-1, N =
100). Artinya bahwa variasi variabel independen
pendidikan dan penghasilan secara bersama-sama
menerangkan gap (kepuasan) dengan derajat
keyakinan alpha 1%.
4. Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Otokorelasi (Durbin Watson)
Koefisien Durbin Watson dengan N = 100
dan k = 3 serta alpha = 1%, yaitu; dL sebesar 1,50
dan dU sebesar 1,56. Sedangkan nilai 4-dU sebesar
2,44 dan 4-dL sebesar 2,50. Dari uraian di atas uji
Durbin Watson mensyaratkan diterima-nya
Hipotesa alternatif (Ha) antara 1,56 sampai 2,44.
Hasil perhitungan tersebut me-nunjukkan
nilai Durbin Watson sebesar 1,728 berada di daerah
terima. Artinya bahwa model regresi diatas tidak
mengalami masalah otokorelasi.
b. Uji Heterokedastisitas LM test
Hasil perhitungan heterokedas-tisitas LM test
adalah 0,9 < 9,2. Dengan demikian diputuskan
bahwa model yang digunakan tidak mengalami
masalah heterokedastisitas. Penyebaran data yang
digunakan relatif konstan (tidak melebar atau
menyempit)
c. UJi Normalitas
Pengujian normalitas mengguna-kan Jerque
Berra (JB). Koefisien JB hasil perhitungan
dibandingkan dengan nilai table X2 dengan derajat
kebebas-an a = 5%. Asumsi, jika nilai JB hasil
perhitungan lebih kecil dari nilai X2 maka tidak
terjadi masalah dengan kenormalan data, dan juga
sebaliknya.
Hasil perhitungan, koefisien JB = 33,3.
Sedangkan X2 tabel pada a = 5% adalah 40,48.
Hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa
nilai JB (25,5) lebih kecil dari table X2 (40,48).
Hasil perbandingan tersebut menunjuk-kan bahwa
nilai JB (25,5) lebih kecil dari tabel X2 (40,48)
sehingga diputus-kan bahwa tidak ada masalah
mengenai kenormalan data.
Persamaan regresi yang diperoleh tidak
mengandung permasalahan baik dengan pengujian
estimasi maupun dengan pengujian asumsi klasik.
Persamaan regresi hasil perhitungan memberikan
informasi bahwa tingkat pendidikan mempunyai
hubungan yang negatif dengan gap (kepuasan wajib
pajak). Hal ini ditunjukkan uji regesi (parameter
bertanda negatif). Suatu indikasi bahwa apabila
pendidikan wajib pajak itu tinggi mereka tidak
begitu mempermasalahkan dengan pelaksanaan
(kepuasan pelayanan) di Kantor Pelayanan Pajak
Klaten, dan sebaliknya; jika pendidikan mereka itu
relatif rendah maka mereka banyak menuntut akan
pelayanan yang telah diberikan.
Penghasilan juga mempunyai hubungan
negatif terhadap gap (kepuas-an pelayanan).
Indikasi bahwa jika penghasilan mereka itu besar
mereka cenderung tidak mempermasalahkan
(memperhatikan) masalah pelayanan yang
dirasakan di Kantor Pelayanan Perpajakan Klaten.
Hal ini tidak berlaku sebaliknya, jika penghasilan
wajib pajak itu relatif rendah maka mereka
cenderung menuntut dan mempermasa-lahkan
pelayanan di Kantor Pelayanan Perpajakan Klaten.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan,
pertama dari keempat kuadran kartesius ada
beberapa variable yang perlu perhatian khusus
karena pelaksaan belum dapat memuaskan wajib
pajak, yaitu pembinaan atau penyuluhan secara baik
dan teratur, perhatian khusus atas permasalahan
wajib pajak, peralatan dan perlengkapan pajak serta
ruang pelayanan.
Kedua, pelaksanaan yang perlu
dipertahankan, karena dianggap telah memenuhi
pelayanan yang diharapkan oleh wajib pajak, yaitu
kejujuran, ketepatan dan ketegasan aparat pajak,
pelaksanaan pelayanan yang sama, penguasaan
peraturan perpajakan dan dapat memberikan
informasi dengan baik.
Ketiga, kuadran selanjutnya meru-pakan
kuadran yang dianggap kurang penting oleh wajib
pajak namun demi-kian Kantor Pelayanan
Perpajakan Klaten memberikan pelayanan yang
berlebihan, yaitu kecepatan dan ketepat-an dalam
mengelola penyelesaian pelayanan, kecepatan
dalam menangani keluhan wajib pajak dan
bertindak ramah serta sopan.
Keempat, antara pendidikan dan penghasilan
wajib pajak ternyata berbanding terbalik dengan
kepuasan wajib pajak. Dimana pendidikan wajib
pajak itu meningkat tidak mempermasa-lahkan
mengenai kualitas layanan (hanya pendidikan
rendah yang sering komplain). Demikian juga
mengenai penghasilan wajib pajak, semakin
meningkat penghasilan wajib pajak maka mereka
kurang memperhatikan masalahan kualiatas
pelayanan di Kantor Pelayanan Perpajaka Klaten.
2. Rekomendasi
Kantor Pelayanan Perpajakan Klaten perlu
memperhatikan masalah-masalah yang
berhubungan dengan pelayanan kepada wajib pajak,
khusus-nya mengenai pembinaan, penyuluhan,
perhatian khusus terhadap wajib pajak, peralatan
pelayanan perpajakan serta ruang pelayanan.
Kantor Pelayanan Perpajakan Klaten juga
harus lebih memperhatikan wajib pajak yang
berpendidikan dan berpenghasilan rendah yang
jumlahnya relative banyak. Selain sebagai aset,
mereka ini memiliki kecenderungan untuk minta
pelayanan yang lebih.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari.200. Analisa Regresi : Teori, Kasus, dan Solusi. Edisi Kedua. Penerbit BPFE Yogyakarta.
Amstrong, Gary dan Philip Kotler. 1998. Dasar – Dasar Pemasaran. Edisi Indonesia. Jilid 2 . Prentice Hall Inc.
Blixrud, Julia C. 2002. Evaluating Library Service Quality ; Use of LibQual+TM. http://www.libqual.org.
Association of Reserach Libraries.
Chang, Chia Ming, Chin-Tsu, Chin-Hsien Hsu. Review of Service Quality in Corporate and Recreational
Sport/ Fitness Program. Http://www.thesportjournal.org/2002_journal/vol-no.3/service_quality
Frederick., 2003. Corporate Management Of Quality In Employee Health Plans. http://proquest.umi.com. Vol
28, Iss. 1; pg. 27, 14 pgs.
Gaszpert, Vincent. 2002. Manajemen Kualitas dalam Industri Jasa. Jakarta. Gramedia.
Guntur, Muhammad dan Bambang Setiaji. Analisa Service Quality Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada
PDAM Kota Surakarta. Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Gujarati, Damodar N. 1995. Basic Econometric. International Edition, 3th edition. McGraw-Hill
Indra, Dodik Agung dan Tri Gunarsih., Pengaruh Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah Kredit Perorangan
Dan Kelompok ; Studi Kasus Pada PD BPR Bank Pasar Kabupaten Karanganyar. Diakses dari internet
tahun 2006. Program Pascasarjanan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Kirilidou, Martha. 2001. Symposium on Measuring Library Service Qualityh. ARL Bimontly Report 215.
http://www.arl.org/newsth/215/octsymp.html.
Oloruniwo Festus, Maxwell K Hsu dan Goldin J udo., 2006. Service Quality, Customer Satisfaction And
Behaviour Intenstions In The Servive Factory. http://proquest.umi.com.The Journal of Servive
Markeitng. Vol. 20, Iss. 1; pg. 59, 14 pgs.
Prasetyo, Edhi dan M Wahyudin., Pengaruh Kepuasan Dan Motivasi Kerja Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Riyadi Palace Hotel Di Surakarta., Diakses dari internet tahun 2006. Program Pascasarjanan
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Santosa, Singgih. 2001. Buku latihan SPSS Statistik Parametri (Edisi Pertama). Jakarta. PT. Alex Media
Komputindo.
Supranto, J. 1997. Pengukuran Tinkat Kepuasan Pelanggan ; Untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Penerbit
Rineka Cipta. Jakarta.
Washington. 2005. The Dilemma of the Unsatisfied Customer in a Market Model of Public Administration.
http://proquest.umi.com. Vol.65, Iss. 1 ; pg. 76, 9 pgs.
Wiyono, Azis Slamet dan M Wahyudin., 2005. Studi Tentang Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen di
Rumah Sakit Islam Manisrenggo Klaten. Diakses Dari Internet Tahun 2006. Program Pascasarjanan
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Zeithami, V.A. Parasuraman, A.Berry, LL. 1990. Delivering Quality Service: Balancing Customer Perceptions
and Expectations. New York; The Free Press.
Analisis Pengaruh Upah, Dana Pensiun dan Penghasilan Tidak Kena Pajak Terhadap
Penerimaan Pajak (PPh OP)
Pada Kantor Pelayanan Pajak Kudus
Andreas Felix Andi S.
Grahita Chandrarin
ABSTRACT
This Research is centering at problems related accept by employees /working woman fee used for the personal
exemptions, paying pension fund and pay for tax. While type acceptance of tax to check is income tax
especially income tax for individual taxpayers, with research subject that is employees of PT. Djarum Kudus.
Research conducted with direct survey at research object, that is doing investigation to get explaining by
factual directly at object, by do research of case study.
Sampling design used with sampling probability method, where population members are the overall of
assumed employees. Homogeneous or have same characteristic. This research that become responder is
employees at PT. Djarum Kudus that entirely amount to counted 300 people from totalizing employees
population PT. Djarum Kudus. Utilize to get data’s which is needed in this research is needed a questioner.
The Questioner was allotting to 300 responders and here in after from the amount that re-accepted counted
195 and there are 55 bad answers, finally obtained counted 140 responder people, and propagated to
employees of PT. Djarum Kudus.
Pursuant the research result was proving that fee and personal exemptions (separately) influencing by
signifikan acceptance of personal income tax. Variable pension fund linearly don’t have influence to personal
income tax, even though pension fund variable have strong correlation with fee and personal exemptions.
Keywords: wages, pension fund, personal income, tax.
A. PENDAHULUAN
Kondisi perkembangan dari masyarakat
agraris ke kekuatan bidang industri menimbulkan
adanya dua kondisi dalam aspek kehidupan
bernegara dan kehidupan pribadi setiap warga
negara. Aspek pertama, negara memiliki
kepentingan dalam penyeleng-garaan negara di
mana pajak menjadi sumber utama bagi penerimaan
serta pembiayaan negara. Kedua, setiap orang tidak
hanya memikirkan kesejah-teraan di saat berkerja
tetapi juga memikirkan kesejahteraan di masa tua
atau pensiun.
Mengamati kondisi tersebut, peran pemerintah
belum maksimal, hingga harus mengorbankan
sebagian warga yang memasuki masa pensiun
dengan tetap dibebani dengan pajak. Model
pemungutan yang digunakan pemerin-tah seperti
tersebut di atas adalah prinsip kemampuan
membayar (ability to pay).
Penghasilan tidak kena pajak (PTKP)
merupakan perubahan kebijak-an bidang perpajakan
yang tercatat sudah lima kali terjadi perubahan atau
penyesuaian besarnya penghasilan tidak kena pajak
sejak 1983 sampai 2006 ini, dimulai dengan UU.
No. 7/ 1983, UU. No. 7/ 1991, UU. No. 10/ 1994,
UU. No. 17/ 2000, dan terakhir dengan Keputusan
Menteri Keuangan No. 564/ KMK.03/ 2004 tanggal
29 Nopember 2004 yang berlaku mulai 1 Januari
2005. Besarnya penghasilan tidak kena pajak yang
diatur pada Keputusan Menteri Keuangan No. 564/
KMK.03/ 2004 tanggal 29 Nopember 2004 yang
berlaku mulai 1 Januari 2005 tesebut menyebutkan
bahwa besarnya pengha-silan tidak kena pajak
untuk setahun nilainya diubah sebagai berikut.
1. Semula Rp 2.880.000,00 diubah menjadi Rp
12.000.000,00 untuk diri wajib pajak;
2. Semula Rp 1.440.000,00 diubah menjadi Rp
1.200.000,00 tambahan untuk diri wajib pajak
yang kawin;
3. Semula Rp 2.880.000,00 diubah menjadi Rp
12.000.000,00 tambahan seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan
suami;
4. Semula Rp 1.440.000,00 diubah menjadi Rp
1.2000.000,00 untuk tambahan setiap anggota
keluarga sedarah dan sekeluarga semenda dalam
garis keturunan lurus serta anak angkatnya yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak
3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.
Di sisi lain, upah sebagai pengha-silan
merupakan salah satu isu penting dalam manajemen
sumber daya manu-sia. Upah adalah salah satu
bentuk kompensasi. Kompensasi adalah semua
bentuk pembayaran atau hadiah yang diberikan
kepada karyawan dan muncul dari pekerjaan
mereka (Dessler, 2005: 46). Kompensasi adalah
pengaturan keseluruhan pemberian balas jasa bagi
employers maupun employees baik yang langsung
berupa uang (finansial) maupun yang tidak
langsung berupa uang (nonfinancial) (Martoyo,
2000: 114).
Berdasarkan penelitian denagn judul“Upah
Antar Industri di Indonesia” yang dilakukan oleh
Setiadji (2002: 145) yang memfokuskan pada gap
upah akibat perbedaan nonproduksi menyim-pulkan
bahwa peran industri peng-olahan sedang dan besar
di luar minyak dan gas yang semakin penting, hal
ini terlihat dari pertumbuhan output yang cepat,
yaitu 10,4 persen dan 9,5 persen selama dua dasa
warsa sebelum krisis. Pertumbuhan tersebut sejalan
dengan pertumbuhan tenaga kerja sekitar 8,5 %
setahun dan sisanya disebabkan oleh peningkatan
penggunaan kapital per tenaga kerja, peningkatan
teknologi atau peningkatan efisien dalam
perusahaan. Tingkat konsentrasi terbatas pada
industri sedang dan besar cenderung tinggi, yaitu
sekitar 45% industri memiliki tingkat konsentrasi
805 atau lebih dan hanya 5% industri yang memiliki
konsentrasi kurang dari 20%. Terdapat korelasi
positif antara modal asing dan tingkat konsentrasi
serta nilai kapitalisasi per tenaga kerja, tetapi
hubungan modal asing dan unsur-unsur
nonkapitalisasi yakni ukuran tenaga kerja dan
jaringan pasar luar negeri lebih besar.
Salah satu sumber finansial yang masih perlu
digarap antara lain adalah investasi dana pensiun.
Berkaitan dengan hal ini, dapat disampaikan bahwa
investasi dana pensiun yang mencapai tiga puluh
delapan triliun rupiah akan mengalami pergeseran
pola investasi setelah kebijakan blankeet guarantee
dicabut (artikel JAKARTA Bisnis). Ketua Bidang
Investasi Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI)
Darjono menyatakan sebagian besar investasi dana
pensiun senilai 38 triliun rupiah pada 2002, masih
ditempatkan pada instrumen deposito. "Kendati
bunga deposito terus mengalami penurunan,
investasi dana pensiun di deposito masih sekitar 21
triliun rupiah," katanya di Jakarta.
Survei ADPI memperlihatkan meski sebagian
besar dana investasi dana pensiun ditempatkan di
deposito, selama tahun 2002 rata-rata hasil investasi
yang diperoleh dana pensiun mencapai 14,36%.
Hasil investasi yang diperoleh dana pensiun,
lanjutnya, dapat lebih besar lagi bila dana pensiun
mendapat perhatian yang lebih dari otoritas. "Perlu
ada insentif tambahan bagi dana pensiun sehingga
bisa memberi manfaat yang lebih besar bagi
masyarakat, mengingat dana pensiun dapat
berfungsi sebagai social security." Salah satu
insentif yang diharapkan dana pensiun adalah
mengenai masalah perpajakan bagi kegiatan
investasi yang dilakukan dana pensiun. "Hasil
investasi diharapkan semuanya bukan objek pajak.
Kalau sekarang kan hanya beberapa saja yang bebas
pajak. Selain itu, masalah pajak anuitas juga
sebaiknya dilakukan pada saat finalnya, bukan pada
saat dialihkan," tutur Darjono.
Mengingat bahwa penghasilan pajak perlu
untuk selalu ditingkatkan dan penghasilan tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor, maka dirasa perlu
untuk melakukan studi yang berfokus pada
penerimaan pajak (PPh OP), beserta faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Diharapkan dengan studi
tersebut diperoleh hasil yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
kebijakan dalam upaya meningkatkan optimalisasi
penerimaan pajak dan masukan kepada Direktorat
Jenderal Pajak dalam mengambil kebijakan yang
berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan
pajak penghasilan orang pribadi.
B. METODE PENELITIAN
1. Data dan Sampel
Design yang digunakan yaitu metode sensus,
dimana anggota populasi adalah keseluruhan
karyawan /karyawati yang dianggap homogen atau
memiliki karakteristik yang sama. Penelitian ini
yang menjadi responden adalah karyawan pada PT.
Djarum Kudus yang seluruhnya berjumlah
sebanyak tiga ratus orang dari total populasi
Karyawan pada PT. Djarum Kudus. Guna
mendapatkan data-data yang diperlukan dalam
penelitian ini diperlukan kuesioner. Kuesioner
tersebut dibagikan kepada tiga ratus responden dan
selanjutnya dari jumlah tersebut yang diterima
kembali sebanyak seratus sembilan puluh lima dan
terdapat lima puluh lima jawaban yang salah,
akhirnya diperoleh sebanyak seratus empat puluh
orang responden, yang disebarkan kepada karyawan
PT. Djarum Kudus
2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari :
a. Upah karyawan (X1) merupakan variabel
dependen;
b. Penghasilan tidak kena pajak (X2) merupakan
variabel dependen;
c. Dana pensiun (X3) merupakan variabel
independent;
d. Penerimaan Pajak (Y) merupakan variabel
independent.
Scoring yaitu mengolah data yang ada dengan
cara memberi penilaian data yang telah masuk serta
memberi skor pada tiap-tiap jawaban yang
diperoleh dari setiap responden. Adapun skornya
adalah sebagai berikut (Sugiyono, 2001: 88) :
1) Jawaban Sangat Setuju bobotnya 5;
2) Jawaban Setuju bobotnya 4;
3) Jawaban Netral bobotnya 3;
4) Jawaban Tidak Setuju bobotnya 2;
5) Jawaban Sangat Tidak Setuju bobotnya 1;
Data dianalisis dengan mengguna-kan analisa
regresi berganda yang diestimasi menggunakan:
a. Validitas dan Rentabilitas
Penelitian ini menggunakan kuesi-oner yang
diajukan kepada responden, untuk itu diperlukan
adanya uji valid-itas dan reliabilitas pada masingmasing
butir pertanyaan dari masing-masing
variabel agar diperoleh data yang valid.
b. Analisis Regresi
1) Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh vari-abel bebas
terhadap variabel terikat dilakukan dengan analisis
regresi bertingkat. Persamaan regresi yang
digunakan adalah sebagai berikut ini.
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e1
Keterangan :
b1 = Variabel upah (X1),
b2 = Variabel dana pensiun (X2),
b3 = Variabel penghasilan tidak kena pajak (Y1),
e = Variabel pengganggu (error esti-mate).
2) Pengujian Koefisien Regresi
Parameter yang dapat digunakan untuk
meninterprestasikan koefisien variabel bebas
(independen) dapat menggunakan unstandarized
unstan-dardized coefficients (Gozali, 2001: 87).
3) Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis menggunakan uji
signifikansi yaitu dengan melihat besarnya nilai F
dibandingkan dengan besarnya nilai signifikansinya
dan probabilitasnya.
4) Uji Ketepatan Model
Pengujian ketepatan model meng-gunakan uji
Koefisien determinasi dinilai melalui adjusted R
square digunakan untuk mengetahui prosentase
perubahan variabel independen secara
simultan/berganda dapat mempengaruhi variabel
dependen. Berdasarkan nilai adjusted R Square ini
dapat diketahui besarnya pengaruh variabel lain di
luar model regresi.
Tidak ada ukuran yang pasti berapa besar R2
untuk mengatakan bahwa suatu pilihan variabel
sudah tepat. Jika R2 semakin besar atau mendekati 1
maka model akan semakin tepat. Untuk data survai
yang berarti bersifat cross section data yang
diperoleh dari banyak responden pada waktu yang
sama, maka nilai R2 = 0,2 atau 0,3 sudah cukup baik
(Setiadji, 2006: 29)
c. Analisis Korelasi
Analisis korelasi bertujuan untuk mengukur
kekuatan asosiasi (hubungan) linier antara dua
variabel. Korelasi tidak menunjukkan hubungan
fungsion-al atau dengan kata lain analisis korelasi
tidak membedakan antara variabel dependen
dengan variabel independen (Ghozali, 2006: 82).
Penelitian ini mencari kekuatan hubungan, pertama
antara variabel upah dengan variabel penghasilan
tidak kena pajak, kedua antara variabel penghasilan
tidak kena pajak dengan dana pensiun, dan ketiga
antara variabel upah dan variabel dana pensiun.
C. HASIL PEMBAHASAN
1. Deskripsi Variabel
a. Variabel Upah (X1)
Berdasarkan hasil pengolahan data hasil
jawaban responden sebanyak 140 karyawan PT.
Djarum Kudus secara terperinci dapat dijelaskan
bahwa rata-rata atau nilai mean dari setiap item
pertanyaan variabel upah diperoleh hasil sebagian
besar lebih besar dari 4, hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memberikan jawaban
Setuju dan Sangat Setuju dengan nilai
kecenderungan standart deviasi di atas 0,500
sehingga dapat diartikan bahwa upah menurut
pendapat sebagian besar dari reponden adalah baik.
b. Variabel Dana Pensiun (X2)
Berdasarkan hasil pengolahan data hasil
jawaban responden sebanyak 140 karyawan PT.
Djarum Kudus secara terperinci dapat dijelaskan
bahwa rata-rata atau nilai mean dari setiap item
pertanyaan variabel dana pensiun diperoleh hasil
sebagian besar lebih besar dari 4, hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar responden
memberikan jawaban Setuju dan Sangat Setuju
dengan nilai kecenderungan standart deviasi di atas
0,500 sehingga dapat diartikan bahwa dana pensiun
menurut pendapat sebagian besar dari responden
adalah sangat baik.
c. Variabel PTKP (X3)
Berdasarkan hasil pengolahan data hasil
jawaban responden sebanyak 140 karyawan PT.
Djarum Kudus secara terperinci dapat dijelaskan
bahwa rata-rata atau nilai mean dari setiap item
pertanyaan variabel PTKP diperoleh hasil sebagian
besar lebih besar dari 4, hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memberikan jawaban
Setuju dan Sangat Setuju dengan nilai
kecenderungan standart deviasi di atas 0,500
sehingga dapat diartikan bahwa PTKP menurut
pendapat sebagian besar dari responden adalah
sangat baik.
d. Variabel Penerimaan PPh OP (Y)
Berdasarkan hasil pengolahan data hasil
jawaban responden sebanyak 140 karyawan PT.
Djarum Kudus secara terperinci dapat dijelaskan
bahwa rata-rata atau nilai mean dari setiap item
pertanyaan variabel penerimaan PPh OP diperoleh
hasil sebagian besar lebih besar dari 4, hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar responden
memberikan jawaban Setuju dan Sangat Setuju
dengan nilai kecenderungan standart deviasi di atas
0,500 sehingga dapat diartikan bahwa penerimaan
PPh OP karyawan menurut pendapat sebagian besar
dari responden adalah baik.
2. Uji Validitas dan Reliabilitas
a. Uji Validitas
Berdasarkan hasil pengujian validitas setiap
item pertanyaan dari dari masing-masing variabel
dengan menggunakan bantuan program SPSS,
diperoleh hasil dengan nilai factor loading sudah
signifikan diatas 0,4 dengan tingkat signifikansi
lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa kuesioner
variabel upah, dana pensiun, PTKP dan
penerimaan PPh OP dapat dikata-kan valid atau
dapat menghasilkan data yang akurat.
1. Variabel Upah (X1)
Berdasarkan hasil pengujian validitas setiap
item pertanyaan dari variabel upah dengan
menggunakan bantuan program SPSS, diperoleh
hasil dengan nilai factor loading lebih besar dari 0,4
dan nilai KMO and Bartlett test yaitu sebesar 0,808
diatas 0,5 dengan tingkat signifikansi lebih kecil
dari 0,05 menunjukkan bahwa kuesioner variabel
upah (X1) dapat dikatakan valid atau dapat
menghasilkan data yang akurat.
2. Variabel Dana pensiun (X2)
Berdasarkan hasil pengujian validitas setiap
item pertanyaan dari variabel dana pensiun dengan
menggu-nakan bantuan program SPSS, diperoleh
hasil dengan nilai factor loading lebih besar dari 0,4
dan nilai KMO and Bartlett test yaitu sebesar 0,782
diatas 0,5 dengan tingkat signifikansi lebih kecil
dari 0,05 menunjukkan bahwa kuesioner variabel
dana pensiun (X2) dapat dikatakan valid atau dapat
menghasilkan data yang akurat.
3. Variabel PTKP (X3)
Berdasarkan hasil pengujian validitas setiap
item pertanyaan dari variabel PTKP dengan
menggunakan bantuan program SPSS, diperoleh
hasil dengan nilai factor loading lebih besar dari 0,4
dan nilai KMO and Bartlett test yaitu sebesar 0,865
diatas 0,5 dengan tingkat signifikansi lebih kecil
dari 0,05 menunjukkan bahwa kuesioner variabel
PTKP (X3) dapat dikatakan valid atau dapat
menghasilkan data yang akurat.
4. Variabel Penerimaan PPh OP (Y)
Berdasarkan hasil pengujian validitas setiap
item pertanyaan dari variabel penerimaan PPh OP
dengan menggunakan bantuan program SPSS,
diperoleh hasil dengan nilai factor loading lebih
besar dari 0,4 dan nilai KMO and Bartlett test yaitu
sebesar 0,691 diatas 0,5 dengan tingkat signifi-kansi
lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa kuesioner
variabel penerimaan PPh OP (Y) dapat dikatakan
valid atau dapat menghasilkan data yang akurat.
b. Uji Reliabilitas
Sesudah diadakan uji validitas langkah
berikutnya adalah mengadakan uji reliabilitas
dengan uji statistik Cronbach Alpha. Adapun hasil
uji reliabilitas masing-masing variabel dapat dilihat
pada hasil perhitungan dalam lampiran 5.
Berdasarkan hasil uji reliabilitas di atas
menunjukkan bahwa keseluruhan nilai dari
Corrected Item-Total Corelatioan nilainya lebih
besar dari 0,3 sehingga dapat dikatakan bahwa
keseluruhan item dari variabel upah adalah reliabel
atau dapat mengha-silkan data yang dapat dipercaya
atau handal. Berdasarkan perhitungan SPSS
diperoleh nilai Cronbach Alpha seperti yang terlihat
pada lampiran 5.
Berdasarkan hasil pengujian relia-bilitas dari
setiap variabel penelitian dengan menggunakan
bantuan program SPSS, diperoleh hasil dengan nilai
alpha lebih besar dari nilai 0,6. Jadi dapat
dinyatakan bahwa upah (X1), dana pensiun (X2),
PTKP (X3) dan penerimaan PPh OP (Y) yang
diguna-kan dapat menghasilkan data yang reliabel
atau dapat dipercaya.
3. Analisis Regresi
Analisis ini digunakan untuk menentukan
suatu persamaan regresi yang dapat menunjukkan
ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Hasil perhitungan dengan
menggunakan software SPSS atas data yang
diperoleh dari hasil penelitian dan setelah melalui
pengujian validitas maupun reliabilitas disajikan
melalui tabel 1. Tabel tersebut membe-rikan
informasi terkait dengan koefisien regresi dalam
model yang digunakan. Koefisien dimaksud
menunjukkan besarnya pengaruh setiap variabel
bebas (independent) terhadap variable terikat
(dependent).
Tabel 1
Hasil Pengujian Model
Variabel Penjelas Koefisien Nilai t
Upah 0,456 5,569
Dana Pensiun 0,063 0,719
PTKP 0,438 6,538
R2 0,818
F 203,951
nilai t* = signifikan pada uji 10 persen;
** signifikan pada uji 5 persen; *** signifikan pada uji 1 persen
Sumber: Hasil olahan data
a. Hasil Uji Koefisien Regresi
Berdasarkan model penelitian di atas dapat
dijelaskan persamaan matematisnya dan hasil
model sebagai berikut.
Y = b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Y = 0,456X1 + 0,063X2 + 0,438X3
Hasil analisis regresi menunjuk-kan bahwa
tingkat signifikansinya adalah sebesar 0,000 < 0,05
sehingga variabel upah dan dana pensiun terbukti
secara signifikan memiliki pengaruh terhadap. Nilai
koefisien regresi b1 = 0,311 dan b2 = 0,063 serta b3
= 0,438 (nilai standarized coefficients beta). Secara
keseluruhan berdasarkan hasil tersebut dapat
dijelaskan bahwa:
Koefisien regresi 0,311 menyata-kan bahwa
setiap terjadi kenaikan upah Rp 1 akan
meningkatkan penerimaan pajak penghasilan orang
pribadi khusunya karyawan sebesar Rp 0,311 atau
sebesar 31,1% tanpa dipengaruhi faktor lainnya
atau dalam asumsi ceteris paribus. Hal ini
menunjukkan bahwa berdasarkan pertanyaan yang
diajukan kepada seluruh Karyawan pada PT.
Djarum Kudus diperoleh hasil bahwa variabel upah
terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif
terhadap penerimaan pajak penghasilan orang
pribadi karyawan sebesar 0,311;
Koefisien regresi 0,063 menya-takan bahwa
setiap terjadi kenaikan tingkat dana pensiun yang
diberikan kepada karyawan akan meningkatkan
penerimaan pajak penghasilan orang pribadi
karyawan sebesar 0,063 atau sebesar 6,3% tanpa
dipengaruhi faktor lainnya atau dalam asumsi
ceteris paribus;
Koefisien regresi 0,438 menyata-kan bahwa
setiap terjadi kenaikan tingkat PTKP yang diberikan
kepada karyawan akan meningkatkan peneri-maan
pajak penghasilan orang pribadi karyawan sebesar
0,438 atau sebesar 43,8% tanpa dipengaruhi faktor
lainnya atau dalam asumsi ceteris paribus.
b. Hasil Uji Ketepatan Model
dan Hasil Uji Hipotesis
1. Uji Ketepatan Model
Hasil model penelitian diperoleh R Square
sebesar 0,818. Artinya variabel independent yang
terdiri variabel upah, dana pensiun dan PTKP
memberikan kontiribusi sumbangan sebesar 81,8%
terhadap penerimaan pajak penghasilan orang
pribadi karyawan. Dari angka tersebut berarti ada
variabel independen di luar model regresi ini yang
berpeng-aruh terhadap penerimaan pajak penghasilan
orang pribadi karyawan yang hanya sebesar
18,2%.
2. Uji Hipotesis
Pengaruh secara serempak antara upah, PTKP
dan dana pensiun dengan penerimaan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan.
Berdasar hasil tabel 12 di atas, diperoleh hasil F
sebesar 203,95 dengan tingkat signifi-kansi 0,000
dan dibandingkan dengan 0,05 maka hipotesis H0
ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti secara linier
terdapat pengaruh upah, penghasilan tidak kena
pajak dan dana pensiun dengan penerimaan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan;
Pengaruh upah terhadap peneri-maan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan.
Berdasar hasil tabel 12 di atas, nilai t sebesar 5,569
dengan tingkat signifikansi 0,000 dan dibandingkan
dengan 0,05 maka hipotesis H0 ditolak dan H1
diterima. Hal ini berarti secara linier terdapat
pengaruh antara upah dengan peneri-maan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan;
Pengaruh dana pensiun terhadap penerimaan
pajak penghasilan orang pribadi khususnya
karyawan. Berdasar hasil tabel 12 di atas, nilai t
sebesar 0,719 dengan tingkat signifikansi 0,473 dan
dibandingkan dengan 0,05 maka hipotesis H0
diterima dan H1 ditolak. Hal ini berarti secara linier
tidak terdapat pengaruh antara dana pensiun dengan
penerimaan pajak penghasilan orang pribadi
khususnya karyawan;
Pengaruh PTKP terhadap peneri-maan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan.
Berdasar hasil tabel 12 di atas, nilai t sebesar 6,538
dengan tingkat signifikansi 0,000 dan dibandingkan
dengan 0,05 maka hipotesis H0 ditolak dan H1
diterima. Hal ini berarti secara linier terdapat
pengaruh antara PTKP dengan peneri-maan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan.
Hipotesis yang mengatakan bahwa upah
memiliki pengaruh secara signifikan terhadap
variabel penerimaan pajak penghasilan orang
pribadi khususnya karyawan terbukti benar dimana
hasilnya dibuktikan dari hasil uji signifikansi yang
menunjukkan bahwa nilai signifikansi hasil
pengujian < dibandingkan dengan nilai probalistik
= 0,05. Variabel upah memiliki pengaruh terhadap
penerimaan pajak penghasilan orang pribadi
khususnya karyawan sebesar koefisien regresinya
sebesar 0,311 menunjukkan bahwa berdasarkan
pertanyaan yang diajukan kepada seluruh
responden diperoleh hasil bahwa variabel upah
terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif
terhadap PTKP sebesar 0,311.
Hipotesis yang mengatakan bahwa dana
pensiun memiliki pengaruh secara signifikan
terhadap variabel penerimaan pajak penghasilan
orang pribadi khususnya terbukti tidak benar
dimana hasil uji signifikansi yang menunjukkan
bahwa nilai signifikansi hasil pengujian (0,473) >
dibandingkan dengan probabilistik (0,05). Variabel
dana pensiun tidak memiliki pengaruh terhadap
penerimaan pajak penghasilan orang pribadi
khusunya karyawan. Walaupun tidak memiliki
hubungan secara linier dengan penerimaan pajak
penghasilan orang pribadi khususnya karyawan,
variabel dana pensiun ini mempunyai korelasi yang
kuat dengan variabel independen yang lain, yakni
upah dan penghasilan tidak kena pajak.
Hipotesis yang mengatakan peng-hasilan
tidak kena pajak memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap variabel penerimaan PPh OP
terbukti benar dimana hasilnya dibuktikan dari hasil
uji signifikansi yang menunjukkan bahwa nilai
signifikansi hasil pengujian lebih kecil
dibandingkan dengan proba-bilistik = 0,05.
Variabel penghasilan tidak kena pajak memiliki
pengaruh terhadap penerimaan PPh OP karyawan
sebesar koefisien regresinya sebesar 0,438
menunjukkan bahwa berdasarkan pertanyaan yang
diajukan kepada res-ponden diperoleh hasil bahwa
variabel penghasilan tidak kena pajak terbukti
secara signifikan memiliki pengaruh positif
terhadap penerimaan PPh OP sebesar 0,438.
Hipotesis yang mengatakan bahwa upah,
penghasilan tidak kena pajak dan dana pensiun
memiliki pengaruh secara signifikan terhadap
variabel penerimaan pajak penghasilan orang
pribadi khususnya karyawan terbukti benar dimana
hasilnya dibuktikan dari hasil uji signifikansi yang
menunjukkan bahwa nilai signifikansi hasil
pengujian (0,000) < dibandingkan dengan nilai α
signifikansi = 0,05. Variabel upah, penghasilan
tidak kena pajak dan dana pensiun memiliki
pengaruh terhadap penerimaan PPh OP karyawan
sebesar 81,8%.
4. Analisis Korelasi
Hubungan upah dan dana pensiun
menunjukan angka 0,887 yang berarti hubungannya
kuat dan searah (karena angkanya positip). Kedua
varibel upah dan dana pensiun selain mempunyai
hubungan sangat kuat dan searah juga menunjukan
sifat signifikan, hal ini ditunjukkan dengan angka
signifikansi 0,000 < 0,05.
Hubungan upah dan penghasilan tidak kena
pajak menunjukan angka 0,798 yang berarti
hubungannya kuat dan searah (karena angkanya
positip). Kedua varibel upah dan upah dan
penghasilan tidak kena pajak selain mempunyai
hubungan kuat dan searah juga menunjukan sifat
signifikan, hal ini ditunjukkan dengan angka
signifikansi 0,000 < 0,05.
Hubungan dana pensiun dan penghasilan tidak
kena pajak menunjukan angka 0,825 yang berarti
hubungannya kuat dan searah (karena angkanya
positip). Kedua varibel dana pensiun dan
penghasilan tidak kena pajak selain mempunyai
hubungan kuat dan searah juga menunjukan sifat
signifikan, hal ini ditunjukkan dengan angka
signifikansi 0,000 < 0,05.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh
antara upah, dana pensiun dan PTKP terhadap
penerimaan pajak orang pribadi khususnya
karyawan. Penelitian ini juga mengamati korelasi
antara upah, dana pensiun dan PTKP. Berdasarkan
hasil penelitian terbukti bahwa upah dan
penghasilan tidak kena pajak (secara terpisah)
secara signifikan mempengaruhi penerimaan pajak
orang pribadi. Variabel dana pensiun secara linier
tidak mempunyai pengaruh terhadap penerimaan
pajak orang pribadi khususnya karyawan, walaupun
demikian, variabel dana pensiun mempunyai
korelasi yang kuat dengan variabel upah dan PTKP.
2. Rekomendasi
a.Untuk peningkatkan kesejahteraan karyawan
maka upah tiap tahun perlu ditinjau ulang oleh
perusahaan maupun perundangan pemerintah yang
mendasarkan pada tingginya biaya hidup dari
tahun ke tahun;
b.Dana pensiun tidak memiliki pengaruh terhadap
penerimaan pajak penghasilan orang pribadi,
walaupun demikian hendaknya masyarakat tenaga
kerja tetap memikirkan kesejateraan di hari tua.
Pihak pemerintah dapat memanfaatkan data
pemegang polis asuransi apapun bentuknya untuk
mengoptimalkan penerimaan pajak;
c.Upah mempunyai pengaruh yang paling dominan
maka tergantung pada perusahaan untuk
memperha-tikan kondisi upah yang selama ini
diberikan pada karyawannya karena dari total
upah yang dibayarkan karyawan masih harus
menanggung beban biaya hidup dan pajak
penghasilan;
d.Pengaruh dana pensiun pada posisi paling rendah,
hendaknya dicarikan upaya untuk memperbaiki
kebijakan dana pensiun, misalnya mengubah
prinsip ability to pay khusus untuk perlakuan
pajak atas karyawan, dimana pada saat memupuk
dana cadangan pensiun tetap dikenakan pajak,
tetapi pada saat menerima penghasilan pada masa
pensiun tidak dipungut pajak lagi.
DAFTAR BACAAN
KUTIPAN
1) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 6. Dikutip dari buku Perpajakan karangan Prof Dr.
Mardiamso, MBA Ak. Tahun 2003.
2) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 9. Dikutip dari Keputusan Menteri Keuangan No.
564/ KMK.03/ 2004 tanggal 29 Nopember 2004
3) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 10. Dikutip dari buku Manajemen Sumber Daya
Manusia karangan Kolonel Kal. Susilo Martoyo, SE tahun 1994.
4) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 14. Dikutip dari buku Upah Antar Industri di
Indonesia karangan Bambang Setiadji tahun 2002
5) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 16. Dikutip dari buku Manajemen Lembaga
Keuangan karangan Dahlan Siamat tahun 2001
6) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 17. Dikutip dari buku Artikel Berita Asuransi dalam
Jakarta (Bisnis), 15 Agustus 2003
7) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 26. Dikutip dari buku Metode Peneltian Bisnis
karangan Dr. Sugiyono tahun 1999
8) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 28. Dikutip dari buku Panduan Riset dengan
Pendekatan Kuantitatif karangan Prof. Dr. Bambang Setiadji tahun 2006
9) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 30. Dikutip dari buku Aplikasi Analisis Multivariate
dengan Program SPSS karangan Prof. Dr. H. Imam Ghozali, M. Com, Akt tahun 2006
10) Bukti Bacaan yang dikutip di tesis pada halaman 29. Dikutip dari buku Multivariate Data Analysis
karangan Joseph F. Hair Jr, William C. Black, Barry J Babin, Rolph E. Anderson, Ronald L. Tatham
tahun 2006
NON KUTIPAN
1) Hasil Penelitian Studi Penentuan Upah Minimal Kabupaten Kudus
2) Evaluasi Dampak Penerapan PP No. 47 Tahun 2003 tentang PPh pasal 21 Ditanggung Pemerintah pada
PT X (di Kudus)
3) Manajemen Sumber Daya Manusia karangan Drs. H. Malayu SP Hasibuan
4) Analisis Jalur untuk Riset Bisnis dengan SPSS, karangan Jonathan Sarwono
5) Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis, karangan Drs. Husein Umar, SE, MM, MBA
6) Manajemen Personalia, karangan Drs. Heidjarcman Ranupandojo dan Dr. Suad Husnan
7) Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, karangan T. Hani Handoko
8) Pajak Penghasilan, karangan Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH
9) Tinjauan Perpajakan Indonesia (The Indonesian Tax In Brief)
10) Pentingnya Mengenal dan Memahami Lembaga Dana Pensiun, Harian umum Sore Sinar Harapan tahun
2003
11) Menyiapkan Dana Pensiun, Harian umum Sore Sinar Harapan tahun 2002
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil
di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Purwodadi
Mohammad Taufiq Hidayanto
M. Wahyuddin
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif cara penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil untuk
instansi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Purwodadi dengan menggunakan faktor-faktor dari kriteria
Garry Dessler yaitu: kualitas, kuantitas, supervisi, kehadiran, dan konservasi. Dalam penelitian ini, sehubungan
dengan populasi yang hanya berjumlah 27, maka penulis tidak menggunakan sampel.
Hasil dari analisis data menunjukkan dari kelima variabel independen dari faktor-faktor tersebut di atas
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Goodness of fit yaitu R square sebesar 0,981%, yang berarti 98,1% kelima variabel bebas yang dimasukkan
dapat menjelaskan variabel dependen yaitu prestasi kerja pegawai, sedangkan 1,9% dijelaskan oleh variabel di
luar model. Uji F diperoleh nilai sebesar 216,613 dengan signifikansi sebesar 0,000 dengan derajat keyakinan
99% atau α = 0,01 sehingga lima variabel independen tersebut secara bersama-sama terbukti berpengaruh
secara signifikan terhadap variabel dependen.
Kata kunci : prestasi kerja, Pegawai Negeri Sipil.
A. PENDAHULUAN
Prestasi kerja adalah hasil atau tingkat
keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama
periode tertentu di dalam melaksanakan tugas
dibanding-kan dengan berbagai kemungkinan,
seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau
kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan
telah disepakati bersama.
Evaluasi prestasi kerja (perfor-mance
evaluation), yang dikenal juga dengan istilah
penilaian prestasi kerja (performance appraisal),
pada dasarnya merupakan proses yang digunakan
perusahaan untuk mengevaluasi job performance.
Penilaian prestasi kerja sangat penting antara
lain dapat mengidenti-fikasi peningkatan yang
diperlukan pada SDM yang berhubungan dengan
analisis dan penempatan, pelatihan dan
pengembangan, perencanaan karir, dan lain-lain.
Disamping itu, penilaian pres-tasi kerja sangat
penting untuk memfo-kuskan karyawan terhadap
tujuan strategis dan untuk penempatan, untuk
penggantian perencanaan dan tujuan untuk
pelatihan dan pengembangan.
Penilaian prestasi kerja (Perfor-mance
Appraisal) memainkan peranan yang sangat penting
dalam peningkatan motivasi di tempat kerja.
Karyawan menginginkan dan membutuhkan balikan
berkenaan dengan prestasi kerja mereka dan
penilaian menyediakan kesempatan untuk
memberikan balikan kepada mereka. Apabila
prestasi kerja tidak sesuai dengan standar, maka
penilaian menyediakan kesempatan untuk meninjau
kemajuan karyawan dan untuk menyusun rencana
pening-katan prestasi kerja (Dessler, 1997: 536)
Penilaian prestasi kerja merupa-kan kajian
sistematis tentang kondisi kerja karyawan yang
dilaksanakan secara formal yang dikaitkan dengan
standar kerja yang telah ditentukan perusahaan
(Rivai, 2005: 18). Evaluasi prestasi kerja adalah
satu sistem dan cara penilaian pencapaian hasil
kerja suatu perusahaan atau organisasi dan penilaian
pencapaian hasil kerja setiap individu yang bekerja
di dalam dan untuk perusahaan tersebut
(Simanjuntak, 2005: 20).
Ada beberapa metode atau teknik yang dapat
dipakai dalam melakukan penilaian prestasi kerja
antara lain : teknik skala penilaian grafik, metode
pemeringkatan berselang-selaing, meto-de
perbandingan berpasangan, metode distribusi paksa,
metode insiden kritis, skala penilaian perilaku, dan
metode gabungan (Dessler, 1997: 514).
Masalahnya adalah penyimpang-an (deviasi)
dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi.
Oleh karena itu, alternatif cara penilaian prestasi
kerja Pegawai Negeri Sipil untuk instansi Kantor
Pelayanan Perbendaha-raan Negara Purwodadi
perlu diberikan.
Rodhiyah, 2003, dalam tesisnya menguji
prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dengan
membandingkan penilaian melalui DP-3,
berkesimpulan pertama, bahwa penilaian prestasi
kerja dengan metode Gary Dessler dengan penilaian
menggunakan kriteria DP3 mempunyai hubungan
yang positif atau arah yang sama sehingga dapat
menunjukkan bahwa semakin tinggi prestasi kerja
seorang pegawai akan semakin tinggi pula prestasi
kerja DP-3 pegawai. Kedua, variabel prestasi kerja
Dessler secara parsial mempengaruhi prestasi kerja
DP-3.
Sunardjo, 2004, dalam tesisnya,
berkesimpulan bahwa penilaian prestasi kerja
pegawai dengan DP-3 dan penilaian prestasi kerja
dengan kriteria Gary Dessler dapat digunakan
sebagai alat atau instrumen penilaian pegawai.
Penilaian prestasi kerja pegawai dengan metode ini
dapat digunakan sebagai standart penilaian prestasi
kerja pegawai karena obyektivitasnya lebih baik
karena dilakukan pejabat penilai dengan
melakukan observasi atau pencatatan-pencatatan
selama masa penilaian.
B. METODOLOGI PENELITIAN
1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan dari subyek
yang akan diteliti. Populasi ini dapat bersifat
universe yang berarti bahwa keseluruhan subyek
penelitian atau jumlah keseluruhan dari unit analisis
yang ciri-cirinya akan diduga.
Berdasarkan pengertian tersebut populasi
dalam penelitian ini adalah jumlah pegawai yang
tercatat dan masih aktif bekerja di lingkungan
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
Purwodadi sebanyak 27 orang. Sampel merupakan
subyek yang mewakili populasi. Dalam penelitian
ini, sehu-bungan dengan populasi yang hanya
berjumlah 27, penulis mengambil data seluruh
populasi jadi tidak mengguna-kan sampel.
2. Metode Pengumpulan Data
Data dalam riset ini akan diper-oleh secara
langsung dari hasil wawan-cara dengan menyebar
kuisioner yang telah disediakan jawabannya dan
atau dari hasil observasi lapangan. Data yang
menunjukkan intensitas suatu perilaku, berupa
besaran kualitatif akan dikuanti-tatifkan dengan
menggunakan skala Likert (sangat setuju skor 4,
setuju skor 3, kurang setuju skor 2, tidak setuju skor
1).
3. Teknik Analisis Data
a. Uji Instrumen
1. Uji Validitas
Apabila nilai korelasi atau r hitung dibawah
0,30, maka dapat disimpulkan bahwa butir
instrumen tersebut tidak valid, sehingga harus
diperbaiki atau dibuang (Sugiyono, 1999: 116).
Dalam penelitian ini meng-gunakan teknik
pengujian Product Moment Pearson Correlation
dengan formulasi:
( ) ( )
[ å (å ) å (å ) ]
å å å
- -
-
=
2 2 2 2
N XY
r
N X X N Y Y
X Y
Keterangan :
r = Koefisien korelasi product moment
X = Skor setiap item/butir pertanyaan
Y = Skor total dari X
N = Jumlah responden
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas menunjuk suatu pengertian
bahwa suatu instrumen cukup dapat dipecaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena
instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik
tidak akan bersifat tendensius mengarahkan
responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu
sehingga data yang diambil dapat dipercaya.
Reliabilitas dapat dilakukan dengan
mengkorelasikan antara data instrumen yang satu
dengan data instrumen yang dijadikan ekuivalen.
Apabila hasil korelasi adalah positif dan signifikan,
maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
Konsistensi jawaban ditunjukkan oleh tingginya
koefisien alpha (cronbach).
Teknik Cronbach’s Alpha dengan rumus
sebagai berikut:
ú úû
ù
ê êë
é
- úû
ù
êë
é
-
= å
2
1
2
11 1
1 s
s b
k
r k
Keterangan:
r11 : Reliabilitas instrumen
k : Banyaknya butir pertanyaan
å 2
b s : Jumlah varians butir
å 2
1 s : Varians total
b. Model Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah regresi Linier Probability
Model (LPM) karena variabel bebasnya lebih dari
satu variabel. Adapun bentuk regresi Linier
Probability Model (LPM) yang diguna-kan dalam
penelitian ini dengan persamaan sebagai berikut:
i
i
i i i i i i i
i
w
u
w
X
w
X
w
X
w
X
w
X
w w
Y
= + + + + + 5 +
6
4
5
3
4
2
3
1
2
1 b b b b b
b
Di mana :
Y = Variabel dependen prestasi kerja
1 X = Variabel kualitas pekerjaan
2 X = Variabel kuantitas pekerjaan
3 X = Variabel supervisi
4 X = Variabel kehadiran
5 X = Variabel konservasi
b = koefisien regresi/parameter
wi = weighted, pembobotan melalui poses
i u = Residual
c. Uji Ketepatan Parameter (uji t)
1
1
Sb
t = b
di mana:
1 b = Nilai Koefisien Parameter
1 Sb = Standar Error dari b
d. Uji Ketepatan Model (F, R2)
1. Uji F
2. Koefisien
Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi digunakan untuk
menjelaskan besarnya pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen. Koefisien
determinasi pada dasarnya mengukur seberapa
kemampu-an model dalam menjelaskan variabel.
( )
( )2
2
2 ˆ
Y Y
R Y Y
å -
= å -
Di mana:
Yˆ = nilai Y estimate
Y = nilai Y rata-rata
Nilai R2 adalah antara 0 sampai dengan 1, bila
R2 mendekati 1 maka model yang dipilih mendekati
kebenar-an.
C. HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Dalam rangka meningkatkan efektifitas
pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan
kinerja Direktorat Jenderal Perbendaharaan,
khususnya dalam rangka lebih mendekatkan kantor
bayar dan pelaksanaan fungsi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan di wilayah Kabupaten Grobogan
dan Kabupaten Blora, pemerintah dalam hal ini
Departemen Keuangan memandang perlu untuk
membuka Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara baru dengan wilayah kerja Kabupaten
Grobogan dan Kabupaten Blora.
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
Purwodadi resmi beroperasi pada tanggal 1 Oktober
2002 dan diresmikan oleh Bupati Grobogan.
Struktur Organisasi di Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara Purwodadi adalah sebagai
berikut:
1. Sub Bagian Umum
Sub Bagian Umum terdiri atas 3 (tiga)
Koordinator Pelaksana, yaitu:
a. Koordinator Pelaksana Kepega-waian;
b. Koordinator Pelaksana Tata Usaha dan
Keuangan;
c. Koordinator Pelaksana Rumah Tangga dan
Pelaporan.
2. Seksi Perbendaharaan
Seksi Perbendaharaan terdiri atas 2 (tiga)
Koordinator Pelaksana, yaitu:
a. Koordinator Pelaksana Perbenda-haraan A;
b. Koordinator Pelaksana Perbenda-haraan B.
3. Seksi Bendaharawan umum
Seksi Bendaharawan Umum terdiri atas 2 (tiga)
Koordinator Pelaksana, yaitu:
a. Koordinator Pelaksana Giro Pos dan
Pembukuan;
b. Koordinator Pelaksana Bank Tunggal.
4. Seksi Verifikasi dan Akuntansi
Seksi Verifikasi dan Akuntansi terdiri atas 2 (tiga)
Koordinator Pelaksana, yaitu:
a. Koordinator Pelaksana Verifikasi dan
Akuntansi A;
b. Koordinator Pelaksana Verifikasi dan
Akuntansi B.
2. Profil Responden
a. Karakteristik Pegawai Berdasarkan Jenis
Kelamin
Tabel 1
Karakteristik Pegawai KPPN Purwodadi
Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah %
Laki-laki 25 92,6
Perempuan 2 7,4
Total 27 100
Sumber: Data Primer diolah
Karakteristik pegawai berdasar-kan jenis
kelamin, diketahui bahwa jumlah pegawai dengan
jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 orang atau
92,6%, sedangkan perempuan 2 orang atau 7,4%.
b. Karakteristik Pegawai Berdasarkan
Kelompok Umur
( 2 ) ( )2
2
1 / 3
/ 2
- -
=
R n
F R
Berdasarkan hasil penelitian dengan melihat
jumlah responden seperti dalam tabel 2, umur
pegawai yang paling banyak adalah reponden yang
berusia 41 tahun sampai dengan 50 tahun yaitu
dengan jumlah 12 atau 44,4% dari total responden,
sedangkan yang paling sedikit adalah responden
dengan usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 3
dan terdapat 1 responden tidak menyantumkan
identitas umur.
Tabel 2
Karakteristik Pegawai KPPN Purwodadi
Berdasarkan Kelompok Umur
Kelompok Umur Jumlah %
< 30 tahun 3 11,1
30 s.d 40 tahun 7 25,9
41 s.d 50 tahun 12 44,4
> 50 tahun 4 14,8
Tidak
Menyantumkan
1 3,8
Total 27 100
Sumber: Data Primer Diolah
c. Karakteristik Pegawai Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tabel 3
Karakteristik Pegawai KPPN Purwodadi
Berdasarkan
Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah %
S1 13 48,2%
Diploma
(Sarjana Muda)
5 18,5%
SLTA 9 33,3%
Total 100 100%
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tingkat pendidikan seperti
terlihat dalam tabel 3 maka jumlah pegawai yang
paling banyak adalah dengan tingkat pendidikan
sarjana yaitu sebanyak 13 atau 48,1%, kemudian
tingkat Diploma/Sarjana Muda sebanyak 5
responden dan tingkat SLTA sebanyak 9 orang.
d. Karakteristik Pegawai Berdasarkan Status
Pernikahan
Berdasarkan status kepegawaian maka
gambaran responden akan terlihat seperti dalam
tabel 4 sebagai berikut:
Tabel 4
Karakteristik Pegawai KPPN Purwodadi
Berdasarkan Status Pernikahan
Status Jumlah %
Menikah 24 88,9
Belum Menikah 3 11,1
Total 100 100,0
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan status pernikahan terdapat 24
responden telah menikah dan 3 responden
menyatakan belum menikah.
3. Analisis Data
Untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam penilaian prestasi kerja
pegawai di Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara Purwodadi maka digunakan yaitu: Model
Regresi LPM (Linier Probability Model), dari hasil
pengolahan data dengan menggunakan program
SPSS, diperoleh hasil sebagaimana dapat dilihat
pada rumusan fungsi regresi sebagai berikut:
i
i
w
Y
= 0,038 + 0,081X1 - 0,018X2 - 0,026X3 - 0,047X4 + 0,029X5
(19,377)*** (-5,999)*** (-8,443)*** (-13,913)*** (7,820)***
R2 = 0,981
F = 216,613 Sig F = 0,000
( ) = menunjukkan thitung
*** = signifikan pada taraf uji 1%
Variabel Prestasi kerja 0,038 artinya apabila
tidak ada faktor kualitas pekerjaan, kuantitas
pekerjaan, supervisi, kehadiran, dan konservasi
maka prestasi kerja mempunyai skor sebesar 0,038.
Variabel kualitas pekerjaan sebesar 0,081 artinya
apabila skor kualitas pekerjaan naik satu skor maka
akan menaikkan prestasi kerja pegawai sebesar
0,081 skor, variabel kuantitas pekerjaan sebesar
-0,018 artinya apabila faktor kuantitas pekerjaan
naik satu skor maka akan menurunkan prestasi kerja
pegawai sebesar 0,018 skor, variabel supervisi
sebesar -0,026 artinya apabila faktor supervisi naik
satu skor maka menurunkan prestasi kerja pegawai
sebesar 0,026 skor. Variabel kehadiran sebesar
-0,046 artinya apabila faktor kehadiran naik satu
skor maka menurunkan prestasi kerja pegawai
sebesar 0,046 skor. Variabel konservasi sebesar
0,029 artinya apabila faktor konservasi naik satu
skor maka menaikkan prestasi kerja pegawai
sebesar 0,029 skor.
a. Pengujian Parameter-parameter
Dari hasil yang diperoleh model regresi
berganda dengan metode LPM di atas dapat
dilakukan pengujian-pengujian sebagai berikut:
1. Uji tanda
Hasil uji tanda dengan metode LPM diperoleh
nilai b faktor kualitas pekerjaan (X1) sebesar 0,081,
faktor kuantitas pekerjaan (X2) sebesar -0,018,
faktor supervisi (X3) sebesar -0,026, faktor
kehadiran (X4) sebesar -0,047 dan faktor konservasi
(X5) sebesar 0,029.
Pada faktor kuantitas, faktor supervisi, dan
kehadiran nilai b adalah negatif, yang berarti
menunjukkan bahwa hubungan faktor kuantitas,
faktor supervisi, dan kehadiran terhadap prestasi
kerja tidak searah, yaitu setiap terjadi peningkatan
pada faktor kuantitas, faktor supervisi dan
kehadiran akan menurunkan prestasi kerja,
sedangkan pada faktor kualitas pekerjaan, dan
konservasi bernilai positif artinya bahwa hubungan
faktor kualitas pekerjaan dan konservasi terhadap
prestasi kerja searah, yaitu setiap terjadi
peningkatan faktor kualitas pekerjaan, dan
konservasi akan meningkatkan prestasi kerja
pegawai.
2. Uji signifikansi parsial (Uji t)
Dari print out program SPSS dengan metode
LPM, terdapat perubah-an yaitu diperoleh nilai
signifikansi faktor kualitas pekerjaan (X1) = 0,000,
faktor kuantitas pekerjaan (X2) = 0,000, faktor
supervisi (X3) = 0,000, faktor kehadiran (X4) =
0,000 dan faktor konservasi (X5) = 0,000, dengan
tingkat keyakinan 99% atau α = 0,01 maka dapat
disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan
antara aspek-aspek tersebut terhadap prestasi kerja
pegawai. Adapun besarnya pengaruh dari masingmasing
variabel bebas terhadap variabel terikat
yaitu prestasi kerja dengan metode LPM yaitu,
faktor kualitas pekerjaan (b1) = 0,081, faktor
kuantitas pekerjaan (b2) = -0,018, faktor supervisi
(b3) = -0,026, faktor kehadiran (b4) = -0,047 dan
faktor konservasi (b5) = 0,029. Dari besaran nilai b
ketiga koefisien regresi tersebut dapat diketahui
bahwa variabel yang paling dominan pengaruhnya
terhadap prestasi kerja adalah faktor kualitas
pekerjaan dengan nilai b1 = 0,081.
3. Uji signifikansi simultan
(Uji statistik F)
Apakah semua variabel bebas yang
dimasukkan ke dalam model mempunyai pengaruh
secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Dengan metode LPM, diperoleh nilai F sebesar
216,613 dengan signifikansi 0,000, dengan derajat
keyakinan 99% atau α = 0,01, sehingga lima
variabel independen tersebut di atas adalah secara
bersama-sama terbukti berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependen.
4. Uji koefisien determinasi (R2)
Seberapa jauh variabel prestasi kerja pegawai
yang dijelaskan oleh tiga variabel yaitu faktor
kualitas pekerjaan, faktor kuantitas pekerjaan,
faktor supervisi, faktor kehadiran dan faktor
konservasi. Dengan metode LPM, dari perhitungan
SPSS, menunjukkan nilai R2 sebesar 0,981%, yang
berarti 98,1% kelima variabel bebas yang
dimasukkan dapat menjelaskan variabel terikat
yaitu prestasi kerja pegawai, sedangkan 1,9%
dijelaskan oleh variabel di luar model.
Penelitian ini mendukung teori Dessler,
(1997: 515), yang menyebut-kan bahwa penilaian
pretasi kerja dapat dinilai dengan kualitas
pekerjaan, kuan-titas pekerjaan, supervisi,
kehadiran, dan konservasi.
Penelitian ini mendukung peneli-tian
Rodhiyah, 2003, dalam tesisnya menguji prestasi
kerja Pegawai Negeri Sipil dengan membandingkan
penilaian melalui DP-3, berkesimpulan pertama,
bahwa penilaian prestasi kerja dengan metode Gary
Dessler dengan penilaian menggunakan kriteria
DP3 mempunyai hubungan yang positif atau arah
yang sama sehingga dapat menunjukkan bahwa
semakin tinggi prestasi kerja seorang pegawai akan
semakin tinggi pula prestasi kerja DP-3 pegawai.
Kedua, variabel prestasi kerja Dessler secara parsial
mempengaruhi prestasi kerja DP-3.
Sunardjo, 2004, dalam tesisnya,
berkesimpulan bahwa penilaian prestasi kerja
pegawai dengan DP-3 dan penilaian prestasi kerja
dengan kriteria Gary Dessler dapat digunakan
sebagai alat atau instrumen penilaian pegawai.
Penilaian prestasi kerja pegawai dengan metode ini
dapat digunakan sebagai standart penilaian prestasi
kerja pegawai
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uji validitas dan reliabilitas, baik
variabel terikat maupun variabel bebas
menunjukkan bahawa daftar kuesioner yang
disampaikan kepada responden telah memenuhi
persyaratan. Terdapat pengaruh yang signifikan
antara faktor kualitas pekerjaan, faktor kuantitas
pekerjaan, faktor supervisi, faktor kehadiran dan
faktor konservasi terhadap prestasi kerja pegawai.
Kualitas pekerjaan mempunyai pengaruh
paling dominan terhadap pres-tasi kerja pegawai
dibanding dengan faktor-faktor yang lain. Sebesar
98,1% dari kelima variabel bebas yang dimasukkan
dapat menjelaskan variabel ter-ikat yaitu
prestasi kerja pegawai, sedang 1,9% dijelaskan oleh
variabel di luar model.
2. Saran
Dari hasil penelitian ini, saran yang diberikan
:
1. Untuk meningkatkan prestasi kerja, perlu
adanya peningkatan kualitas pekerjaan yaitu
dengan cara mening-katkan akurasi, ketelitian,
penampilan dan output dari pekerjaan;
2. Kuantitas pekerjaan berpengaruh negatif
terhadap prestasi kerja, untuk itu perlu
dilakukan pengukuran beban kerja yang akurat
masing-masing pegawai sehingga diharapkan
beban kerja dan kontribusi masing-masing
pegawai merata;
3. Supervisi berpengaruh negatif terha-dap prestasi
kerja, untuk itu diharap-kan saran dan arahan
yang diberikan atasan jangan terlalu ketat
sehingga terjamin adanya otoritas dalam bekerja
tanpa melanggar aturan-turn yang ada;
4. Kehadiran berpengaruh negatif terha-dap
prestasi kerja, untuk itu diharap-kan adanya
peningkatan dalam hal regularitas dan ketepatan
waktu masing-masing pegawai sehingga untuk
ke depan masing-masing pega-wai dapat
meningkatkan prestasi kerjanya;
5. Konservasi berpengaruh positif terha-dap
prestasi kerja, untuk itu perlu terus ditingkatkan
kegitan-kegiatan yang mendukung adanya
pencegahan, pemborosan dan pemeliharaan peralatan,
sehingga diharapkan setiap pegawai akan
nyaman dalam bekerja yang otomatis akan
berpengaruh positif dalam peningkatan prestasi
kerja;
6. Hasil penelitian ini hendaklah dapat
dipergunakan sebagai pertimbangan membuat
kebijakan dalam penilaian dan penataan
pegawai di Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara Purwodadi.
DAFTAR PUSTAKA
Dessler, Gary, Manajemen Personalia, Teknik dan Konsep Modern, diterjemahkan oleh: Agus Dharma,
Erlangga, Jakarta, Tahun 1997.
Dessler, Gary, Manajemen Sumber Daya Manusia, Human Resource Management 7e, jilid 2, PT. Prenhallindo,
Jakarta, Tahun 1998.
Dharma, Surya, Manajemen Kinerja, Falsafah Teori dan Penerapannya, Pustaka Pelajar, Jakarta, Tahun 2005.
Gujarati, N. Damodar, Basic Econometric, Third edition, International editions, Prinfeed in Singapore, Tahun
1995.
Handoko, T.H., Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, BPFE Yogyakarta, Tahun 2000.
Mahmudi, Manajemen Kinerja Sektor Publik, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, Tahun 2005.
Nawawi, Hadari, Manajemen Sumber Daya Manusia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Tahun 2000.
Rodhiyah, Studi Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil Dengan Kriteria Gary Dessler (Kasus di Sekretariat
Daerah Kabupaten Wonogiri), Tesis, Magister Manajemen-UMS, Surakarta, Tahun 2003.
Rivai, Veithzal, Performance Appraisal, Sistem yang tepat untuk menilai kinerja karyawan dan meningkatkan
daya saing perusahaan, Jakarta, Tahun 2005.
Simanjuntak, Payaman J., Manajemen Dan Evaluasi Kinerja, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta, Tahun 2005.
Sunardjo, Studi Kinerja Pegawai Di Lingkungan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Dan
Penanaman Modal Kabupaten Sragen Dengan Membandingkan Metode Perilaku Yang Terobservasi
(BOS) Dengan DP-3, Tesis, Magister Manajemen-UMS, Surakarta, Tahun 2004.
Sunarno, Studi Tentang Kinerja Pegawai Negeri Sipil Di Kantor Dinas Pertanian Karanganyar, Tesis,
Magister Manajemen-UMS, Surakarta, Tahun 2004.

Pengaruh Komunikasi Internal, Budaya Organisasi dan Reward Terhadap Motivasi Kerja di
Kantor Pelayanan Pajak Surakarta
Esti Hartari
ABSTRAK
Motivasi kerja memegang peranan penting dalam upaya peningkatan produktivitas kerja. adalah proses
mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau
melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Motivasi atau dorongan (driving force) dimaksudkan sebagai
desakan yang alami untuk memuaskan dan mempertahankan kehidupan. Secara populer dapat dikatakan
bahwa pemberian motivasi hanya akan efektif apabila dalam diri para bawahan yang digerakkan itu terdapat
keyakinan bahwa dengan tercapainya tujuan dan berbagai sasaran organisasi tujuan pribadipun ikut pula
tercapai.
Beberapa variabel yang mendorong motivasi kerja yaitu komunikasi internal, budaya organisasi dan reward
yang diterima karyawan. Hasil dari analisis regresi binary logistic diperoleh kesimpulan antara lain bahwa
variabel independen yang terdiri dari komunikasi internal, budaya organisasi, dan reward berpengaruh positif
dan signifikan terhadap motivasi kerja. Dari hasil uji ekspektasi B atau Exp(B) diketahui bahwa kontribusi
yang diberikan variabel komunikasi internal terhadap motivasi kerja paling besar dibandingkan variabel
budaya organisasi dan reward.
Kata kunci : komunikasi internal, budaya organisasi, reward, motivasi.
A. PENDAHULUAN
Pemberian motivasi berkaitan langsung
dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai
sasaran organisasi-onal. Tersirat pada pandangan
ini ialah bahwa dalam tujuan dan sasaran
organisasi telah tercakup tujuan dan sasaran
pribadi para anggota organisasi yang diberi
motivasi tersebut. Secara populer dapat dikatakan
bahwa pemberian motivasi hanya akan efektif
apabila dalam diri para bawahan yang digerakkan
itu terdapat keyakinan bahwa dengan tercapainya
tujuan dan berbagai sasaran organisasi tujuan
pribadipun ikut pula tercapai.
Untuk memberikan motivasi kerja kepada
pegawai agar tujuan dapat tercapai maka seorang
pemimpin organisasi harus berusaha semaksimal
mungkin untuk dapat memenuhi kebutuhankebutuhan
dasar hidupnya minimal kebutuhan akan
sandang dan pangan. Dengan memberikan motivasi
kepada bawahan seorang pimpinan dapat
mengharapkan peningkatan hasil kerja sesuai
dengan yang diinginkan. Disamping menciptakan
komunikasi yang baik, dan menciptakan budaya
organisasi yang baik, seorang pimpinan dalam
rangka meningkatkan motivasi kepada bawahannya
dapat melakukan tindakan yang mengarah pada
pemberian insentif positif yang berupa
penghargaan, anugerah, imbalan, dan sejenisnya
kepada bawahan. Dengan tindakan-tindakan
tersebut seorang pimpinan dapat memberikan
motivasi kepada bawahannya untuk bekerja lebih
baik.
Kantor Pelayanan Pajak Surakarta merupakan
instansi pemerintah yang memiliki tugas utama
melakukan pelayanan pajak, memiliki pegawai
yang berjumlah 134 orang. Dalam rangka
peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan
peningkatan produktiv-itas kerjanya pimpinan
Kantor Pela-yanan Pajak Surakarta senantiasa
berusaha menciptakan komunikasi dengan
bawahan, dan mengadakan pembinaan secara rutin
agar pegawai yang satu dengan yang lainnya dapat
terjalin komunikasi yang baik, membangun budaya
organisasi yang baik, dan berupaya memberikan
insentif terhadap pegawainya dengan harapan
pegawai Kantor Pelayanan Pajak Surakarta dapat
termotivasi untuk melakukan tugas-tugasnya
dengan penuh tanggung jawab.
Dengan adanya motivasi kerja yang tinggi,
maka pimpinan Kantor Pelayanan Pajak Surakarta
akan mudah dalam mengelola, melaporkan,
memper-tanggung jawabkan dan mengungkap-kan
segala aktivitas dan kegiatan yang berkaitan dengan
penggunaan sumber daya publik khususnya yang
berkaitan dengan pajak. Dengan motivasi kerja
yang tinggi pula pimpinan akan mudah memberikan
informasi atas aktivitas dan kinerja di
lingkungannya kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
Dalam melaksanakan tugasnya pegawai
Kantor Pelayanan Pajak Surakarta khususnya yang
berkaitan dengan motivasi tentunya banyak
mengalami hambatan dan permasalah-an,
permasalahan tersebut antara lain: adanya
perbedaan bagian basah dan kering sehingga pada
bagian yang dianggap kering kurang memiliki
motivasi kerja, adanya perbedaan beban pekerjaan
antara pegawai satu dengan pegawai lainnya,
pemberian insentif yang dinilai tidak merata oleh
sebagian pegawai, dan lain sebagainya.
Hasil penelitian Korte (2006), Wong (2006),
Kominis (2006), Kahya (2007) dan Kankaanranta
(2006) menunjukkan bahwa variabel-variabel;
komunikasi internal, budaya organisasi dan reward
berhubungan dengan motivasi kerja. Berdasarkan
latar belakang di atas, maka perlu untuk diketahui
pengaruh komunikasi internal, budaya organisasi,
dan reward terhadap motivasi kerja di Kantor
Pelayanan Pajak Surakarta.
B. METODOLOGI PENELITIAN
1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kantor Pelayanan
Pajak Surakarta, yang beralamat di Jalan KH. Agus
Salim No. 1 Surakarta.
2. Data dan Sumber Data
a. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang
bersumber dari responden melalui jawaban
kuesioner.
b. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini
adalah kuesioner, yaitu melalui penyebaran angket
kepada karyawan/pegawai Kantor Pelayanan Pajak
Surakarta.
3. Populasi, Sampel, dan
Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
karyawan/pegawai Kantor Pelayanan Pajak
Surakarta yang berjumlah 134 orang. Sampel yang
diambil sebanyak 40 responden. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan teknik sampling insidental.
4. Definisi Operasional
a. Komunikasi Internal, adalah proses
penyampaian informasi dari pegawai satu
kepegawai lainnya, atasan kepada bawahan dan
bawahan kepada atasan yang dilakukan di
Kantor Pelayanan Pajak Surakarta, dengan
menggunakan indikator adanya orang yang
menyampaikan informasi, adanya informasi,
adanya orang yang menerima informasi, dan
kejelasan informasi yang disampai-kan;
b. Budaya Organisasi, adalah kultur dan
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di Kantor
Pelayanan Pajak Surakarta, budaya organisasi
diukur dengan tingkat kebiasaan-kebiasaan dan
norma-norma dalam melaksana-kan pekerjaan
yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak
Surakarta;
c. Reward, adalah insentif positif yang berupa
penghargaan, anugerah, imbalan akibat dari
hasil kerja yang baik yang dilakukan oleh
Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Surakarta.
Reward diukur dengan sejauh mana Kantor
Pelayanan Pajak Surakarta memberikan
penghargaan, anugerah, dan imbalan kepada
pegawai yang berprestasi;
d. Motivasi Kerja, adalah dorongan yang
menimbulkan semangat pada diri seorang
pegawai Kantor Pelayanan Pajak Surakarta
dalam melakukan pekerjaan yang dibeban-kan
kepadanya. Motivasi kerja dapat diukur dengan
menggunakan indika-tor tingkat kompensasi,
kondisi kerja yang baik, perasan diikut sertakan,
pemberian penghargaan, tugas peker-jaan yang
sifatnya menarik dan cara pendisiplinan yang
manusiawi.
5. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas (independent varia-ble). Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel bebas
adalah komunikasi internal (X1), budaya kerja
(X2), dan reward (X3);
b. Variabel tergantung (dependent variable), yaitu
variabel yang nilainya tergantung dan
dipengaruhi oleh variabel bebas (independent
variabel) Dalam penelitian ini yang dimaksud
variabel dependent adalah motivasi kerja (Y).
6. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian
ini adalah dengan mengguna-kan kuesioner ini
dimaksudkan untuk memperoleh data guna menguji
hipo-tesis dan model kajian.
7. Metode Analisis Data
a. Uji Instrumen
Terdiri dari pengujian validitas dan
reliabilitas.
b. Uji Hipotesis
1. Model Analisis Regresi Logistik
Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi kerja pegawai dan
mengapa digunakan alat analisis ekonometrika
dengan menggu-nakan model regresi logistik.
Model logistik, dirancang untuk melakukan prediksi
keanggotaan grup. Regresi logistik digunakan bila
variabel-variabel prediktor (predictors) merupakan
campuran antara variabel diskrit dan kontinyu dan
distribusi data yang digunakan tidak normal
(Wahyuddin, 2004: 34).
Pada penelitian ini, analisis untuk
membedakan antara pegawai yang termotivasi dan
pegawai yang tidak termotivasi. Analisis model
regresi logistik binari, dilakukan dengan
menggunakan persamaan berikut ini:
Dmotivasi = b0 + b1X1+ b2X2+ b3X3+V
Di mana Dmotivasi adalah dummy motivasi (dimana
nilai 1 adalah motivasi tinggi, sedangkan nilai 0
adalah motivasi rendah), X1, X2, dan X3, masingmasing
adalah komunikasi internal (X1), budaya
organisasi (X2), dan reward (X3).
2. Uji ketepatan Model Regresi
Untuk menguji hipotesis diguna-kan model
Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test, jika
nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit
Test statistik sama dengan atau kurang dari 0,05,
maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada
perbedaan signifikan antara model dengan nilai
observasinya, yang Goodness fit model tidak baik,
karena model tidak dapat memprediksi nilai
observasinya (Ghozali, 2001: 218).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden
a. Pendidikan
Tabel 1
Distribusi Responden Penelitian Menurut
pendidikan
Pendidikan Banyaknya %
SMP 6 15
SMU 8 20
Diploma 10 25
Sarjana 16 40
Jumlah 40 100
Sumber : Data Primer, 2007
Berdasarkan hasil kuesioner dapat diketahui
karakteristik responden berda-sarkan pendidikan,
dapat dikelompok-kan seperti tabel 1.
b. Kelompok Umur
Karakteristik responden berdasarkan
kelompok umur dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2
Distribusi Responden Penelitian Menurut Umur
Umur Banyaknya %
<20 3 8
20 - 25 6 15
26-30 8 20
31-35 12 30
36-40 6 15
>40 5 13
Jumlah 40 100
Sumber: Data Primer, 2007
c. Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasar-kan
kelompok Jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3
Distribusi Responden Penelitian Menurut jenis
kelamin
Jenis kelamin Banyaknya %
Laki-laki 26 65
Perempuan 14 35
Jumlah 40 100
Sumber: Data Primer, 2007
Sebagin besar responden adalah laki-laki. Hal
ini menjadi latar belakang motivasi kerja dimana
mereka umumnya bertanggung jawab sebagai
mencari nafkah keluarga.
2. Uji Kuesioner
a. Uji Validitas
1. Variabel Komunikasi Internal
Tabel 4
Rangkuman Uji Validitas
Variabel Komunikasi Internal (X1)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,416 0,312 Valid
2 0,430 0,312 Valid
3 0,548 0,312 Valid
4 0,471 0,312 Valid
5 0,481 0,312 Valid
6 0,576 0,312 Valid
7 0,693 0,312 Valid
8 0,590 0,312 Valid
9 0,477 0,312 Valid
10 0,341 0,312 Valid
Sumber: Data Primer diolah.
2. Variabel Budaya Organisasi (X2)
Tabel 5
Rangkuman Uji Validitas
Variabel Budaya organisasi (X2)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,345 0,312 Valid
2 0,486 0,312 Valid
3 0,347 0,312 Valid
4 0,548 0,312 Valid
5 0,472 0,312 Valid
6 0,558 0,312 Valid
7 0,627 0,312 Valid
8 0,727 0,312 Valid
9 0,750 0,312 Valid
10 0,653 0,312 Valid
Sumber: Data primer diolah (2007)
3. Variabel reward (X3)
Tabel 6
Rangkuman Uji Validitas
Variabel Reward (X3)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,467 0,312 Valid
2 0,606 0,312 Valid
3 0,814 0,312 Valid
4 0,738 0,312 Valid
5 0,761 0,312 Valid
6 0,756 0,312 Valid
7 0,367 0,312 Valid
8 0,476 0,312 Valid
Sumber: Data primer diolah (2007)
b. Uji Reliabilitas
Tabel 7
Uji Reliabilitas Angket
No Variabel Alpha R kritis Hasil uji
1 Komunikasi
internal (X1)
0,6759 0,600 Reliabel
2 Budaya organisasi
(X2)
0,7454 0,600 Reliabel
3 Reward (X3) 0,7730 0,600 Reliabel
Sumber: Data primer diolah (2007)
3. Analisis Data
a. Model Regresi Binary Logistic
Model regresi binary logistic dilakukan
dengan menggunakan persa-maan berikut ini:
Y=β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + v
Di mana:
Y = Motivasi kerja
X1 = Komunikasi internal
X2 = Budaya Organisasi
X3 = Reward
v = error
Setelah dilakukan estimasi dan berbagai uji
dengan komputer hasilnya dapat disajikan seperti
tabel berikut:
Tabel 8
Uji Koefisien Regresi Binary Logistic
Variabel B Wald Sig
Konstanta -70,238 10,181 0,000***
Komunikasi internal
(X1)
0,993 8,263 0,004***
Budaya organisasi (X2) 0,448 7,011 0,008***
Reward (X3) 0,455 6,214 0,013**
Sumber Data primer diolah
Hasil data pengujian model regresi binary
logistic dengan variabel dependen motivasi kerja
(Y) diperoleh persamaan sebagai berikut.
Y= -70,238+ 0,993 X1+ 0,448 X2 + 0,455 X3
(8,263) (7,011) (6,214)
Keterangan:
( ) = Menerangkan nilai wald
*** = Signifikan pada 1%
** = Signifikan pada 5%
Persamaan di atas dapat ditafsir-kan bahwa
variabel komunikasi inter-nal, budaya organisasi,
dan reward berpengaruh positif terhadap motivasi
kerja.
b. Uji Ketepatan Model Regresi
Dari hasil penelitian SPSS diperoleh nilai
Goodness adalah 8,789 dengan nilai signifikan
sebesar 0,360 yang berarti > 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa model dapat diterima.
c. Uji Koefisien Regresi
Uji signifikansi pengaruh variabel komunikasi
internal, budaya organisasi, dan reward terhadap
motivasi kerja. Dari hasil analisis regresi binary
logistic diketahui bahwa semua variabel independen
berpengaruh signifikan terhadap variabel motivasi
kerja. Hal ini ditunjukkan dari nilai signifikansi
Wald < 0,05 atau 5 persen.
d. Uji Ekspektasi B
Nilai Exp(B) yang dilaporkan pada output
SPSS dapat digunakan sebagai petunjuk untuk
mengetahui besarnya kontribusi yang diberikan
masing-masing variabel terhadap motivasi kerja.
Berdasarkan hasil pengujian model regresi binary
logistic diperoleh hasil uji ekspektasi B atau nilai
Exp(B) dari variabel yang signifikan seperti
nampak pada tabel 9.
Tabel 9
Uji Ekspektasi B
Variabel
Independen
Nilai Exp (B)
X1 2,700***
X2 1,565***
X3 1,577**
Keterangan:
***= Signifikan pada a=0,01
** = Signifikan pada a=0,05
Sumber: Data primer olah.
Melihat besarnya nilai ekstektasi B atau nilai
Exp(B) diatas, menunjuk-kan bahwa variabel
komunikasi internal mempunyai pengaruh yang
lebih besar (nilai Exp(B)= 2,700) terhadap motivasi
kerja dibandingkan variabel budaya organisasi dan
reward. Hal ini menun-jukkan, bahwa variabel
komunikasi internal memberikan kontribusi yang
paling besar dibandingkan variabel lain.
Di samping uji ekspektasi, besar-nya
pengaruh variabel komunikasi internal, budaya
organisasi, dan reward terhadap motivasi kerja,
dapat dilihat pada koefisien beta, seperti terlihat
pada tabel 8.
4. Analisis Motivasi Kerja
Hasil koefisien regresi Logistik diketahui
bahwa semua variabel inde-penden berpengaruh
signifikan terhadap variabel motivasi kerja.
Menurut pre-diksi pegawai yang mempunyai
motivasi rendah dengan kode nol (0) adalah 10
responden, sedangkan obser-vasi keseluruhan
sebanyak 11. Jadi ketepatan klasifikasi 90,9%
(10/11), sedangkan prediksi pegawai yang
mempunyai motivasi tinggi dengan kode satu (1)
ada 27 responden, sedangkan hasil observasi
keseluruhan sebanyak 29. jadi ketepatan
klasifikasi 93,1% (27/29) atau secara keselurahan
ketepatan klasifikasi adalah 92,5% (92,5/100).
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
a) Hasil dari analisis regresi binary logistic
diperoleh kesimpulan bahwa variabel
independen yang terdiri dari komunikasi
internal, budaya organ-isasi, dan reward
berpengaruh posi-tif dan signifikan terhadap
motivasi kerja;
b) Dari hasil uji ekspektasi B atau Exp(B)
diketahui bahwa kontribusi yang diberikan
variabel komunikasi internal terhadap motivasi
kerja paling besar dibandingkan variabel budaya
organisasi dan reward. Hal ini ditunjukkan dari
besarnya nilai Exp(B) = 2,700, sedangkan
variabel budaya organisasi besarnya Exp(B)
adalah 1,565, dan variabel reward adalah 1,577.
Hal ini juga dapat dilihat dari besarnya nilai
koefisien Beta variabel komunikasi internal
paling besar yaitu 0,993, sedangkan variabel
budaya organisasi besarnya nilai Koefisien Beta
adalah 0,448, dan variabel reward adalah
0,455.
2. Saran
a. Untuk Kantor Pelayanan Pajak Surakarta
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa
komunikasi internal mempu-nyai kontribusi
yang paling besar dalam mempengaruhi
motivasi kerja. Pegawai Kantor Pelayanan Pajak
Surakarta hendaknya dapat menjaga iklim
komunikasi baik dari atasan kepada bawahan,
bawahan kepada atasan dan komunikasi antar
pegawai yang ada di kantor tesebut.
b. Untuk Peneliti berikutnya
Dalam penelitian ini hanya meneliti tiga
variabel yang mempengaruhi motivasi kerja
pegawai Kantor Pelayanan Pajak Surakarta,
tentunya faktor lain yang berkaitan dengan
motivasi kerja Kantor Pelayanan Pajak
Surakarta yang lainnya masih di teliti lebih
lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek, PT, Rineka
Cipta, Jakarta;
Echols, John, M., et al., 2004, Kamus Inggris
Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta;
Ghozali, Imam, 2001, Analisis Multivariate dengan
program SPSS, Badan Peneribit Universitas
Diponegoro, Semarang;
Gomes, Faustino Cardoso, 2001, Manajemen
Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Andi
Offset;
Hadi, Sutrisno, 2004, Metodologi Research 1,
Penerbit Yayasan Fakultas Psikologi UGM,
Yogyakarta;
Hamzah B. Uno, 2007, Teori Motivasi dan
Pengukurannya Analisis di Bidang
Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Handoko, T. Hani, 2003, Manajemen Edisi 2,
BPFE, Yogyakarta;
Hansen, Brent,Gilbert, Wade, Hamel, Tim., 2003,
Successful coaches’ viewa on motivation
and motivational strategies, Journal of
Physical Education, Recreation & Dance,
Academic Research Library;
Hariandja, Marihot Tua Efendi, 2007, Manajemen
Sumber Daya Manusia, PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta;
Hopkins, Andrew, 2006, Studying Orgnaisational
cultures and their effects on safety,
Departement of Sociology, in the Faculty
of Arts, and National Research Centre for
OHS Regulation, Australian National
University, Australia, Safety Science;
Kahya, Emin, 2007, The effects of job
characteristics and working conditions on
job performance, Departement of
Industrial Engineering, Eksisehir
Osmangazi University, Bademlik Campus,
Eskisehir, Turkey, International Journal
Indutrial Ergonomics;
Kankaanranta, Terhi, et. al., 2006, The role of job
satisfaction, job dissatisfaction and
demographic factors on physicians’
intentions to switch work sector from public
to private. Pirkanmaa Hospital District,
Centre of General Practise, Medical School,
University of Tampere, Finland, Medical
School, Department of General Practice,
Univesity of Tampere, Finland, Health
Policy;
Kominis, George, Emmanuel, Clive R., 2006, The
expectancy-valence theory revisited:
Developing an extended model of
managerial motivation, Departemen of
Accounting & Finance, University of
Glasgow, UK, Management Accounting
Research;
Korte, Russel F., Chermack, Thomas J., 2006,
Changing organizational culture with
scenario planning, University of Minnesota ,
Vo Tech Ed Building, 1745 Minnehaha
Avenue West, 1954 Buford Acvenue, Saint
Paul, MN 55108, USA, Departement of
Learning and Performance Systems, The
Pennyslvania State University, 305C Keller
Building University Park, PA 16802, USA,
Futures;
Kuncoro, Mudrajad, 2003, Metode Riset Untuk
Bisnis dan Ekonomi, Erlangga, Jakarta;
Luthans, Fred, 2006, Perilaku Organisasi, Andi,
Yogyakarta;
Mahmudi, 2005, Manajemen Kinerja Sektor Publik,
UPP AMP YKPN, Yogyakarta;
Mangkuprawira, Syafri, 2003, Manajemen Sumber
Daya Manusia Strategik, Ghalia Indonesia,
Jakarta;
Notoatmojo, Soekidjo, 2003, Pengembangan
Sumber Daya Manusia, Rineka Cipta,
Jakarta;
Pfau, N. Bruce, kay, Ira T., 2002, The five key
elements of a total rewards and
accountability orientation, Benefit
Quarterly; Third Quarter, Academic
Research Library;
Samsudin, Sadili, 2006, Manajemen Sumber Daya
Manusia, CV. Pustaka Setia, Bandung;
Siagian, P, Sondang. 2002. Kiat Meningkatkan
Produktivitas Kerja.. Jakarta: PT, Rineka
Cipta;
Sugiyono, 2003, Metode Penelitian Bisnis,
Alfabeta, Bandung;
Wahyuddin, M., 2004. Industri dan Orientasi
Ekspor: Dinamika dan analisis Spasial,
Muhammadiyah University Press. Surakarta;
Wong, Jehn-Yih, Lin, Jo-Hui, 2006, The role of job
control and job support in adjusting service
employee’s work – to- leisure conflict, Graduate
Institute of Management, Ming Chuan University,
250, Chung Shan North Road, Sec 5, Taipei, 111
Taiwan, ROC, Tourism Management
PERAN KEPEMIMPINAN
TRANSFORMASIONAL, KEPEMIMPINAN
TRANSAKSIONAL, KOMUNIKASI
INTERNAL, DAN PENGEMBANGAN
KARIR TERHADAP KEPUASAN KERJA DI
PT. SUMBER BENGAWAN PLASINDO
KARANGANYAR
Sidiq Nurrachmat
M. Wahyuddin
ABSTRACT
Target of this research is (1) To analyse factor
leadership of transformational, leadership of
transactional, internal communications, and career
development how far have association to with
satisfaction work in PT. Source Of Bengawan
Plasindo Karanganyar; and (2) To lay open most
dominant factor in influencing satisfaction work at PT.
Source Of Bengawan Plasindo Karanganyar.
Technique Intake of sampel done/conducted with
acsidental sampling. used by method at this research
is regression logistic binary. Test accuracy model
regresi used to assess ketepataan model regresi in this
research is measured with Chi-Square value with Test
Hosmer Lemeshow and.
Result of regression logistic binary analysis obtained
that independent variable consisting of leadership of
transformational, leadership of transactional, internal
communications, and career development have an
effect on positive and signifikan to satisfaction of
job/activity. Result of B ekspectation test that is
variable leadership of transformational equal to
1,293, variable leadership of transactional equal to
1,335, internal communications variable equal to
1,372, and career development variable equal to
1,375. Result of Coefficient Beta test is variable
leadership of transformational equal to 0,257,
variable leadership of transactional equal to 0,289,
internal communications variable equal to 0,316, and
career development variable equal to 0,319. From
result of B ekspectation test and beta coefficient can
be known that biggest career development variable
contribution in influencing satisfaction of job/activity
compared to with variable leadership of
transformational, leadership of transactional,
and internal communications.
Keyword: leadership of transformational,
leadership of transactional, internal
communications, career
development, and satisfaction of
job/activity
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Peran pimpinan dalam suatu perusahaan
sangat diharapkan dalam menciptakan rasa
keadilan bagi karyawan, karakteristik pimpinan
akan berpengaruh terhadap iklim kerja dalam suatu
perusahaan. Berbagai model seorang pimpinan
mempengaruhi karyawannya agar dapat melakukan
pekerjaan sesuai dengan kebijakan yang telah
ditetapkan, di antaranya dengan memberikan
pujian, memberikan hadiah dan penghargaan
tertentu, melakukan tindakan korektif, bahkan yang
menggunakan cara memberikan tekanan terhadap
karyawannya. Pimpinan yang diharapkan oleh
karyawan perusahaan adalah pimpinan yang
mampu memberikan kepuasan kerja bagi
karyawannya.
Dalam rangka menciptakan hubungan yang
harmonis pada suatu perusahaan, komunikasi yang
baik dalam suatu perusahaan perlu dijaga.
Kurangnya komunikasi atau tidak adanya
komunikasi mengakibatkan macetnya suatu
perusahaan. Komunikasi yang efektif adalah
penting bagi suatu perusahaan yang menginginkan
kerjasama yang baik. Oleh karena itu pimpinan
perusahaan perlu memahami dan menyempurnakan
komunikasi mereka (Muhammad, 2004: 1).
Selain hal tersebut di atas, kepuasan kerja
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan
disebabkan pula adanya pengembangan karir yang
jelas dalam perusahaan. Dengan adanya
pengembangan karir dan rencana pengembangan
yang jelas, maka seorang karyawan akan memiliki
rasa aman dalam bekerja, karena mereka dapat
memprediksi karir yang akan dilalui hingga masa
pensiun.
PT. Sumber Bengawan Plasindo
Karanganyar, merupakan perusahaan swasta
nasional dengan jumlah karyawan yang cukup
besar, selalu berusaha untuk menciptakan
kewajaran dan keadilan terhadap karyawannya
dengan harapan agar kepuasan kerja karyawan
dapat terpelihara. Usaha yang dilakukan oleh PT.
Sumber Bengawan Plasindo Karanganyar antara
lain: menerapkan model kepemimpinan yang
sesuai, menciptakan iklim komunikasi yang baik,
menetapkan jenjang karir bagi karyawan,
memberikan kompensasi yang wajar dan lain
sebagainya. Namun hal tersebut perlu di teliti,
apakah kebijakan yang telah dilakukan oleh
perusahaan selama ini memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kepuasan kerja
karyawannya. Peneliti menjadikan PT.
Sumber Bengawan Plasindo Karanganyar
sebagai objek penelitian dengan
memfokuskan pada pembuktian empiris
Peran Kepemimpinan Transformasional,
Kepemimpinan Transaksional, Komunikasi
Internal, dan Pengembangan Karir Terhadap
Kepuasan Kerja Di PT. Sumber Bengawan
Plasindo Karanganyar.
B. METODE PENELITIAN
1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh karyawan/pegawai PT. Sumber
Bengawan Plasindo Karanganyar yang
berjumlah 1.026 orang. Pengambilan sampel
dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan teknik convenience sampling.
Sampling convenience adalah cara memilih
anggota dari populasi untuk dijadikan
sampel di mana sesukanya peneliti
(convenience). Mengingat penelitian ini
merupakan studi korelasional, maka
besarnya sampel yang diambil dalam
penelitian ini ditetapkan 100 orang, hal ini
berdasarkan pendapat Kuncoro (2003: 111)
yang menyatakan untuk studi korelasional,
dibutuhkan minimal 30 sampel untuk
menguji ada tidaknya hubungan.
2. Definisi Operasional
2. Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan Transformasional
merupakan model kepemimpinan bagi
seorang pemimpin yang cenderung untuk
memberikan motivasi kepada bawahan
untuk bekerja lebih baik serta
menitikberatkan pada perilaku untuk
membantu transformasi antara individu
dengan organisasi. Gaya
kepemimpinanya transformasional
meliputi :
1) Charisma/Idealized Influence;
2) Inspirational Motivation;
3) Intelectual Stimulation;
4) Individualized Consideration.
3. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan Transaksional adalah
model kepemimpinan dimana seorang
pemimpin cenderung memberikan arahan
kepada bawahan, serta memberi imbalan dan
hukuman atas kinerja mereka serta menitikberatkan
pada perilaku untuk memandu
pengikut mereka ke arah tujuan yang
ditetapkan dengan memperjelas peran dan
tuntutan tugas. Gaya kepemimpinan
transaksional meliputi dimensi:
1) Contingent Reward;
2) Active Management by Exception;
3) Passive Management by Exception;
4) Laissez-faire Leadership.
4. Komunikasi Internal
Penyampaian informasi dari karyawan
satu dengan karyawan lainnya baik dalam
rangka hubungan kerja maupun personal yang
dilakukan di PT. Sumber Bengawan Plasindo
Karanganyar, yang diukur dengan tingkat
kelancaran seorang karyawan dalam
menyampaikan informasi kepada pihak lain;
5. Pengembangan Karir
Pengembangan karir merupakan
perhatian PT. Sumber Bengawan Plasindo
Karanganyar terhadap karir seorang karyawan
yang di ukur dengan menggunakan tolok ukur
dari perencanaan organisasi dalam
merencanakan karir pegawai yang berdasarkan
kemampuan, pengetahuan, sistem promosi,
pelatihan tambahan, dan program
pengembangan pegawai
6. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan sikap
umum yang merupakan hasil dari beberapa
sikap khusus terhadap faktor-faktor pekerjaan
penyesuaian diri dan hubungan sosial
individu di luar kerja karyawan PT. Sumber
Bengawan Plasindo Karanganyar, yang
dinyatakan dengan pernyataan puas dan tidak
puas.
3. Variabel Penelitian
Variabel Penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini, adalah:
a) Variabel bebas (independent variable).
Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel bebas adalah Kepemimpinan
Transformasional, Kepemimpinan
Transaksional, komunikasi internal, dan
pengembangan karir selanjutnya dalam
penelitian ini diberi notasi X1, X2, X3 dan
X4.
b) Variabel tergantung (dependent
variable), yaitu variabel yang nilainya
tergantung dan dipengaruhi oleh variabel
bebas (independent variabel) yang
biasanya diberi notasi Y. Dalam
penelitian ini yang dimaksud variabel
dependent adalah kepuasan kerja
karyawan.
4. Metode Analisis Data
a) Uji Instrumen
a. Pengujian validitas
b. Pengujian Reliabilitas
b) Uji Hipotesis
1) Model Analisis Regresi Logistik
Model regresi logistik binari,
dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut ini:
Dpuas = b0 + b1X1+ b2X2+ b3X3+b4X4+V
Di mana Dpuas adalah dummy
kepuasan (dimana nilai 1 adalah
puas, sedangkan nilai 0 adalah tidak
puas), X1, X2, X3, dan X4, masingmasing
adalah kepemimpinan
transformasional (X1), kepemimpinan
transaksional (X2), komunikasi
internal (X3), dan pengembangan
karir (X4).
2) Uji ketepatan Model Regresi
Untuk menguji hipotesis digunakan
model Hosmer and Lemeshow’s
Goodness of Fit Test, jika nilai
Hosmer and Lemeshow’s Goodness
of Fit Test statistik sama dengan atau
kurang dari 0,05, maka hipotesis nol
ditolak yang berarti ada perbedaan
signifikan antara model dengan nilai
observasinya, yang Goodness fit
model tidak baik, karena model tidak
dapat memprediksi nilai
observasinya. (Ghozali, 2001: 218).
C. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
A. Hasil Penelitian
1. Uji Validitas
a. Uji validitas instrumen pertanyaan variabel
Kepemimpinan Transformasional (X1)
Tabel IV.3. Rangkuman Uji Validitas
Variabel kepemimpinan
transformasional (X1)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,428 0,195 Valid
2 0,674 0,195 Valid
3 0,744 0,195 Valid
4 0,724 0,195 Valid
5 0,727 0,195 Valid
6 0,579 0,195 Valid
7 0,657 0,195 Valid
8 0,598 0,195 Valid
9 0,552 0,195 Valid
10 0,517 0,195 Valid
11 0,659 0,195 Valid
Sumber: Data Primer diolah (2007) lampiran 3
b. Uji validitas instrumen pertanyaan variabel
kepemimpinan transaksional (X2)
Tabel IV. 4 Rangkuman Uji Validitas
variabel Kepemimpinan
transaksional (X2)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,501 0,195 Valid
2 0,504 0,195 Valid
3 0,635 0,195 Valid
4 0,550 0,195 Valid
5 0,687 0,195 Valid
6 0,662 0,195 Valid
7 0,615 0,195 Valid
8 0,500 0,195 Valid
9 0,583 0,195 Valid
10 0,471 0,195 Valid
Sumber: Data primer diolah (2007) lampiran 3
c. Uji validitas instrumen pertanyaan variabel
komunikasi internal (X3)
Tabel IV.5. Rangkuman Uji Validitas variabel
komunikasi internal (X3)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,429 0,195 Valid
2 0,343 0,195 Valid
3 0,443 0,195 Valid
4 0,577 0,195 Valid
5 0,629 0,195 Valid
6 0,548 0,195 Valid
7 0,596 0,195 Valid
8 0,563 0,195 Valid
Sumber: Data primer diolah (2007) lampiran 3
d. Uji validitas instrumen pertanyaan
variabel pengembangan karir (X4)
Tabel IV.6. Rangkuman Uji Validitas
variabel pengembangan
karir (X4)
No Rhitung R0,05 Kesimpulan
1 0,575 0,195 Valid
2 0,719 0,195 Valid
3 0,724 0,195 Valid
4 0,772 0,195 Valid
5 0,685 0,195 Valid
6 0,715 0,195 Valid
7 0,587 0,195 Valid
8 0,603 0,195 Valid
9 0,653 0,195 Valid
10 0,456 0,195 Valid
Sumber: Data primer diolah (2007) lampiran 3
2. Uji Reliabilitas
Tabel IV.7. Uji Reliabilitas Angket
No Variabel Alpha R tabel Hasil uji
1 Kepemimpinan
transformasional
(X1)
0,8405 0,60 Reliabel
2 Kepemimpinan
transaksional
(X2)
0,7686 0,60 Reliabel
3 Komunikasi
internal (X3)
0,6119 0,60 Reliabel
4 Pengembangan
karir (X4)
0,8446 0,60 Reliabel
Sumber: Data primer diolah (2007) lampiran 4
B. Analisis Data
1. Model Regresi Logistik Binari
Setelah dilakukan estimasi dan
berbagai uji dengan komputer hasilnya
dapat disajikan seperti tabel berikut:
Tabel IV.8. Uji Koefisien Regresi
Logistik Binari
Variabel B Wald P
Konstanta -43,028 22,112 0,000***
Kepemimpinan
transformasional (X1)
0,257 6,930 0,008***
Kepemimpinan
transaksional (X2)
0,289 4,969 0,026**
Komunikasi internal
(X3)
0,316 6,218 0,013**
Pengembangan karir
(X4)
0,319 8,422 0,004***
Sumber Data primer diolah (2007) lampiran 5
Hasil data pengujian model regresi
logistik binari dengan variabel dependen
kepuasan kerja (Y) diperoleh persamaan
sebagai berikut.
Y= -43,028+ 0,257X1 + 0,289X2 + 0,316X3 + 0,319X3
(6,930)*** (4,969)** (6,218)** (8,422)***
Keterangan:
( ) = Menerangkan nilai wald
*** = Signifikan pada a = 1%
** = Signifikan pada a = 5%
Persamaan di atas dapat ditafsirkan bahwa
variabel kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan transaksional, komunikasi
internal, dan pengembangan karir berpengaruh
positif terhadap kepuasan kerja.
2. Uji Ketepatan Model Regresi
Dari hasil penelitian SPSS diperoleh
nilai Goodness adalah 4,439 dengan nilai
signifikan sebesar 0,816 yang berarti > 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa model dapat
diterima.
2. Uji Koefisien Regresi
Uji signifikansi pengaruh variabel
kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan transaksional, komunikasi
internal, dan pengembangan karir terhadap
kepuasan kerja. Dari hasil analisis regresi
logistik binari diketahui bahwa semua variabel
independen berpengaruh signifikan terhadap
variabel kepuasan kerja. Hal ini ditunjukkan
dari nilai signifikansi Wald < 0,05 atau 5
persen.
3. Uji Ekspektasi B
Tabel IV.9. Uji Ekspektasi B
Variabel
Independen
Nilai Exp
(B)
Sig
X1 1,293 0,008***
X2 1,335 0,026**
X3 1,372 0,013**
X4 1,375 0,004***
Sumber: Data primer olah (2007)
Keterangan:
*** = Signifikan pada a = 1%
** = Signifikan pada a = 5%
C. Analisis Kepuasan Kerja
Hasil koefisien regresi logistik binari
diketahui bahwa semua variabel independen
berpengaruh signifikan terhadap variabel kepuasan
kerja. Menurut prediksi pegawai yang merasa
tidak puas dengan kode nol (0) adalah 24
responden, sedangkan observasi keseluruhan
sebanyak 31. Jadi ketepatan klasifikasi
77,4% (24/31), sedangkan prediksi pegawai
yang merasa puas dengan kode satu (1) ada
64 responden, sedangkan hasil observasi
keseluruhan sebanyak 69. jadi ketepatan
klasifikasi 92,8% (64/69) atau secara
keseluruhan ketepatan klasifikasi adalah
88% (88/100).
D. KESIMPULAN DAN SARAN
A Kesimpulan
1 Dari pengolahan data dengan
menggunakan analisis regresi binary
logistic diperoleh hasil bahwa variabel
independen yang terdiri dari
kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan transaksional, komunikasi
internal, dan pengembangan karir
berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan kerja, hal ini
ditunjukkan dengan nilai hosmer and
lemeshow test menunjukkan besarnya sig
0,816 yang berarti lebih besar dari 0,05.
2 Hasil uji ekspektasi B atau Exp(B)
diketahui bahwa kontribusi yang
diberikan variabel pengembangan karir
terhadap kepuasan kerja yang paling
besar dibandingkan variabel
kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan transaksional, dan
komunikasi internal. Hal ini ditunjukkan
dari besarnya nilai Exp(B) = 1,375 yang
paling besar dari nilai Exp(B) variabel
yang lain. Hal ini juga dapat dilihat dari
besarnya nilai koefisien Beta variabel
pengembangan karir paling besar yaitu 0,
319.
B Saran
Untuk meningkatkan kepuasan
kerja PT. Sumber Bengawan Plasindo
Karanganyar perlu adanya tindakan yang
berkaitan dengan pengembangan karir
karyawan seperti adanya daftar urut
kepangkatan, penjenjangan, dan penempatan
jabatan yang jelas, sehingga karyawan
memiliki rasa puas untuk melakukan
pekerjaanya. Selain itu dalam rangka
meningkatkan kepuasan kerja karyawan,
pimpinan hendaknya berani mengadakan
perubahan, mempercayai karyawan, dapat berlaku
sebagai motor penggerak, dapat memunculkan rasa
bangga terhadap karyawannya, melakukan
komunikasi yang baik terhadap karyawan, dan
memiliki entelektual yang tinggi.
Komunikasi internal yang telah ada di PT.
Sumber Bengawan Plasindo Karanganyar, kiranya
dapat ditingkatkan baik komunikasi dari atasan
kepada bawahan, bawahan kepada atasan maupun
komunikasi antar karyawan.
DAFTAR PUSTAKA
Adam’s, Sexton, dkk, 2000, Manajemen Sumber
Daya Manusia, Andi Offset, Yogyakarta;
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek, PT, Rineka Cipta,
Jakarta;
As’ad, Moh, 2000, Teori Ilmu Sumber Daya Manusia,
Psikologi Industri, Yogyakarta: Liberty;
Byrne, Gabriel J., Bradley, Frank, 2007, Culture’s
influence on leadership efficiency: How personal
and national cultures affect leadership style,
UCD Michael Smurfit School of Business,
College of Business and Law, University College
Dublin, Blackrock, County Dublin, Ireland,
Jounal Business Research;
Furqon, 2002, Statistika Terapan untuk Penelitian,
Alfabeta, Bandung;
Ghozali, Imam, 2001, Analisis Multivariate dengan
program SPSS, Badan Peneribit Universitas
Diponegoro, Semarang;
Gomes, Faustino Cardoso, 2001, Manajemen Sumber
Daya Manusia, Andi Offset, Yogyakarta;
Hadi, Sutrisno, 2004, Metodologi Research 1,
Penerbit Yayasan Fakultas Psikologi UGM,
Yogyakarta;
Handoko, T. Hani, 2003, Manajemen, Yogyakarta:
BPFE;
Kahya, Emin, 2007, The effects of job characteristics
and working conditions on job performance,
Departement of Industrial Engineering, Eksisehir
Osmangazi Univercity, Bademlik Campus,
Eksisehir, Turkey, International Journal of
Industrial Ergonomics;
Kankaanranta, Terhi, Nummi, Tapio,
Vainiomaki, Jari, Halila, Hannu, Hyppola,
Harri, Isokoski, Mauri, Kujala, Santero,
Kumpusalo, Esko, Mattila, Kari, Virjo,
Irma, Vanska, Jukka, Rissanen, Pekka,
2006, The role of job satisfaction, job
dissatisfaction and demographic factors on
physicians’ intentions to switch work
sector from public to private, Pirkanmaa
Hospital District, Centre of General
Practise, Medical School, University of
Tampere, Finland, Medical School,
Departement of General Practise,
University of Tampere, Finland, Journal
Health Policy;
Kountur, Ronny, 2003, Metode Penelitian
Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, CV.
Teruna Grafica, Jakarta;
Kuncoro, Mudrajad, 2003, Metode Riset Untuk
Bisnis dan Ekonomi, Erlangga, Jakarta;
Lako, Andreas, 2004, Kepemimpinan dan
Kinerja Organisasi, Amara Books,
Yogyakarta;
Luthans, Fred, 2006, Perilaku Organisasi, Andi,
Yogyakarta;
Muhammad, Arni, 2004, Komunikasi
Organisasi, PT. Bumi Aksara, Jakarta;
Mumfod, Troy V., Campion, Michael A.,
Morgeson, Frederick P., 2007, The
Leadership skills strataplex: leadership
skill requirements across organizational
levels, Utah state University, Departement
of Management and Human Resources,
College of Business, United States, The
Leadership Quarterly;
Rowold, Jens, Heinitz, Kathrin, 2007,
Transformational and charismatic
leadership: Assessing the convergent,
divergent and criterion validity of the
MLQ and the CKS, University of Munster,
Psykologisches Institut II, Fliednerstrasse
21, 48149 Munster, Germany, Free
University of Berlin, Germany, The
Leadership Quarterly;
Samsudin, Sadili, 2006, Manajemen Sumber Daya
Manusia, CV. Pustaka Setia, Bandung;
Thoha, Miftah, 2006, Kepemimpinan Dalam
Manajemen, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta;
Wahyuddin, M., 2004. Industri dan Orientasi Ekspor:
Dinamika dan analisis Spasial, Muhammadiyah
University Press. Surakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar