Rabu, 10 Maret 2010

Penelitian Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing: Latar Belakang, Landasan Teoritis dan Prosedur Pengumpulan Data

ABSTRAK MKM, VOL. II, TAHUN II, 1995

Penelitian Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing: Latar Belakang, Landasan Teoritis dan Prosedur Pengumpulan Data

o1eh: Gusti Astika (Universitas Kristen Satya Wacana ) SaIatiga


Pendahuluan
Minat penutur asing untuk mempelajari Bahasa Indonesia semakin besar. Hal ini dapat dilihat dari makin banyaknya orang asing baik dari negara tetangga seperti Australia maupun negara-negara lain di Asia,Amerika maupun Eropa yang ingin belajar bahasa dengan berbagai tujuan. Di Amerika Serikat banyak universitas seperti Cornell University, Michigan University, Hawaii University dan lain-lain bernaung dalam sebuah konsorsium pengajaran-bahasa yang antara lain mengajarkan bahasa Indonesia untuk para mahasiswanya. Program pengajaran bahasa Indonesia tidak hanya dilaksanakan di Universitas di Amerika, tetapi juga di Indonesia pada setiap musim panas. Demikian juga minat untuk mempelajari bahasa Indonesia sudah melembaga di Australia. Sudah banyak sekolah di Australia menerapkan kurikulum bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pilihan. Universitas Sydney sudah sejak tahun 1973 menggalang kerjasama dengan Universitas Kristen Satya Wacana untuk menyelenggarakan program pengajaran bahasa Indonesia dengan nama PIBBI (Pengajaran Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia), atau lebih dikenal dengan nama The Salatiga Program.
Dalam perkembangannya, program ini ditangani oleh tiga lembaga (Sydney University, Universitas Sastya Wacana dan Pusat Pengembangan Bahasa Jakarta). Para pesertanya sangat bervariasi, terdiri dari siswa sekolah menengah, mahasiswa, pegawai pemerintah, swasta, maupun mereka yang sudah pensiun. Dari tahun ke tahun, jumlah peserta PIBBI selalu meningkat.
Meningkatnya minat penutur asing yang belajar bahasa Indonesia telah mendorong munculnya kebutuhan akan program pengajaran yang harus ditangani secara profesional. Di kota-kota besar dan kecil seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bandung, Salatiga,.dll. sudah ada lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing dengan berbagai tujuan. Permintaan yang semakin tinggi ini telah mendorong beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk menangani program ini secara lebih serius.
Kajian tentang pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing masih merupakan bidang yang sangat baru dan belum banyak yang menggarapnya secara ilmiah. Hal ini merupakan bidang kajian yang sangtat luas dan mempunyai prospek yang baik ditinjau dari segi perkernbangan pengajaran bahasa Indonesia itu sendiri. Dari segi pedagogis, pengkajian tentang pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing akan sangat membantu para pengajar bahasa Indonesia dalam mengajarkan bahasa Indonesia terutama jika ada landasan teoritis yang dapat dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan materi maupun dalam kegiatan instruksional.
Pengalaman di kelas dalam program PIBBI yang telah sering dilaksanakan di Satya Wacana menunjukkan bahwa kebutuhan tentang pemahaman proses belajar bahasa Indonesia oleh pelajar asing dirasakan sangat besar. Pengalaman di kelas menunjukkan bahwa banyak masalah ( kesalahan) yang muncul di kelas pada waktu belajar tidak dapat diterangkan dengan cara-cara yang selama ini berlaku, yaitu dengan mengacu kepada referensi yang ada. Pengalaman Geoff Woolams (1984), seorang linguis dari Griffith University, menunjukkan bahwa kesalahan¬kesalahan yang dibuat oleh penutur asing dalam menggunakan bahasa Indonesia lebih banyak berasal daritransfer bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, baik dalam hal pemilihan kata, struktur kalimat, maupun ucapan. Woolams juga mengatakan bahwa sistem awalan dan akhiran bahasa Indonesia merupakan areas of confusion bagi penutur asing. Strategi yang sering digunakan oleh pelajar asing, menurut Woolams, ialah membuang awalan atau akhiran dari suatu kata dengan harapan bahwa lawan bicara akan dapat menangkap maksudnya. Namun strategi seperti ini lebih sering menimbulkan kebingungan dalam berkomunikasi. Kesulitan untuk memahami sistem awalan dan akhiran juga dikemukakan oleh Spilloane (1993). Sebagai pelajar asing dia mengalami kesulitan membedakan kapan akhiran kan dan i dipakai pada bagian terakhir dari kata aktif.
Sebuah penelitian awal tentang kesalahan penggunaan bahasa Indo¬nesia oleh penutur asing dilaksanakan oleh Yuliwati Lim (1993) dengan mengambil sampel dari peserta PIBBI di Sastya Wacana. Walaupun fokus penelitiannya lebih menekankan metode mengajar, yaitu jenis-jenis feed¬back dari guru terhadap kesalahan pelajar, namun jenis-jenis kesalahan yang dibuat memberi petunjuk bahwa bahasa pelajar (bahasa Inggris) ikut berperan dalam proses pemerolehan bahasa mereka.
Ketiga penelitian tersebut di atas masih bersifat sangat umum dan mencakup aspek sintaktik dan morfologis. Penelitian ini mencoba mengungkapkan aspek-aspek yang lebih spesifik, yaitu kesalahan pemakaian awalan me yang dibuat oleh penutur asing yang belajar bahasa Indonesia secara formal di kelas. Hal ini menjadi sangat penting karena berdasarkan pengamatan selintas tentang jumlah jenis kesalahan yang dibuat, kesalahan penggunaan atau tidak digunakannya awalam me- menunjukkan frekuensi yang paling besar di antara kesalahan pemakaian imbuhan yang lain. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesalahan yang dibuat, menerangkan kemungkinan sumber kesalahan (strategi yang dipakai pelajar), dan mencoba menjelaskan implikasinya dalam pengajaran.


      


Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Interaksi Positif dengan Lingkungan

oleh:Jimmy H. (USWAGATI CIREBON)


Pendahuluan
Penduduk sebagai sumber daya manusia, diharapkan dapat merupakan modal dasar bagi pembangunan. Pada kenyataannya ternyata masih menghadapi berbagai masalah, baik ditinjau dari sudut pola penyebaran, mobilitas, laju pertambahan jumlah clan kualitasnya.
Ditinjau dari kualitasnya, baik fisik maupun nonfisik, keduanya relatif rendah. Kualitas fisik yang dilihat dari sudut tinggi badan dan besar tubuh serta derajat kesehatan yang diukur dari panjang harapan hidup saat ini rata-rata 62 tahun relatif masih rendah, sedangkan ditinjau dari sudut nonfisik, seperti tingkat pendidikan masih sekitar 781 (Anonim, 1992) dari angkatan kerja hanya mempunyai pendidikan dasar atau kurang.
Pembangunan Indonesia adalah untuk menghasilkan manusia Indone¬sia seutuhnya. Tersirat di dalamnya adalah upaya mengejar pencapaian kualitas hidup dalam berbagai dimensi kehidupan manusia seutuhnya. Dengan demikian, kualitas hidup mencakup baik kualitas lingkungan tempat manusia bermukim maupun kualitas diri manusia itu sendiri. Berdasarkan hal ini, peningkatan sumber daya manusia diarahkan pada upaya peningkatan kemampuan untuk mengolah sumber daya alam serta menjaga ekosistem yang serasi, selaras dan seimbang. Pemanfaatan teknologi untuk mempercepat laju pembangunan, sudah merupakan hal yang tak terelakkan lagi. Adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dalam mengelola sumber daya alam dan memiliki wawasan positif terhadap lingkungan sebagai bagian dari ekosistemnya, akan menjamin keserasian antara teknologi yang diterapkan dalam pembangunan dengan lingkungan sebagai ekosistemnya.
Bagaimana mendidik manusia Indonesia sehingga memiliki kemampuan mengolah sumber daya alam dan menjaga ekosistemnya. Bertitik tolak dari pertanyaan tersebut, maka makalah singkat ini akan membicarakan tentang interaksi atau hubungan yang seharusnya terjadi antara manusia dengan lingkungannya.


      


Otonomi dalam Bidang Keuangan di Perguruan Tinggi (Suatu Strategi dalam Mengatasi Keterbatasan Biaya Pendidikan)

oleh: A. Supriyanto


Abstrak
Otonomi dalam bidang keuangan di perguruan tinggi merupakan suatu strategi pemerintah untuk mengatasi keterbatasan biaya pendidikan tinggi yang tidak sedikit. Melalui kebijakan otonomi ini diharapkan perguruan tinggi dapat melakukan upaya untuk menerima, menyimpan, dan mendayagunakan dana yang diterima secara langsung dari masyarakat. Langkah yang dapat ditempuh dalam implementasinya adalah dengan cara menentukan strategi yang tepat demi keberadaan perguruan tinggi dalam menghadapi berbagai kecenderungan dunia pendidikan dewasa ini.

Kata kunci: Otonomi Keuangan PT, Strategi Pengimplementasiannya


      


Peranan Kepemimpinan dalam Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Kerja dalam Lingkungan Organisasi

oleh: SUTIMAN, A.H.
( Universitas Kristen Maranatha)


Pendahuluan
Salah satu masalah yang paling populer dewasa ini adalah masalah kepemimpinan. Pentingnya manajemen merupakan salah satu alat dalam kehidupan suatu organisasi, terutama dalam bidang kehidupan manusia selalu mendapat perhatian khusus. Dalam hal ini selalu dititikberatkan kepada pimpinan. Pimpinanlah yang merupakan motor penggerak dari sesuatu usaha atau kegiatan. Pimpinan tersebut harus mampu melaksanakan fungsi¬-fungsi manajemen, terutama dalam pengambilan keputusan dan kebijaksanaan yang dapat mempermudah pencapaian tujuan dari organisasi itu secara efektif dan efisien.
Bertitik tolak dari hal-hal tersebut di atas, maka berhasil tidaknya suatu usaha pencapaian tujuan yang telah ditentukan itu sebagian besar akan ditentukan oleh kemampuan pimpinan yang memegang peranan penting dalam rangka menggerakkan orang-orang /bawahannya.
Bagi suatu organisasi yang ingin memperoleh kemajuan dalam rangka pencapaian tujuannya,maka kepemimpinan yang baik mutlak dibutuhkan, supaya dapat:
a. menghindarkan keputusan-keputusan yang bersifat untung- untungan/ spekulatif, sehingga dapat diputuskan lebih terarah.
b. menghindarkan pengambilan keputusan yang tergesa-gesa.
c. menggunakan tenaga kerja clan alat produksi yang dimiliki organisasi secara efektif dan efisien.
Karena tenaga manusia merupakan salah satu alat produksi dan sekaligus merupakan mitra yang paling penting bagi organisasi serta mempengaruhi keberhasilan dari organisasi tersebut, maka hendaknya penggunaan tenaga kerja dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, di samping memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan kata lain pimpinan harus dapat mengarahkan elemen-elemen yang ada secara baik, teratur dan terarah. Untuk mencapai hal tersebut tentu memerlukan kerjasama yang baik di antara pimpinan clan bawahan. Dan untuk mewujudkan hal demikian dibutuhkan penerapan manajemen yang baik pula.
Apabila elemen-elemen di atas kurang diperhatikan oleh pimpinan, maka cenderung akan menimbulkan gejala-gejala/pengaruh negatif,antara lain:
a. Para pegawai/bawahan kurang menuniukkan semangat dan disiplin kerja secara baik.
b. Pelayanan terhadap masyarakat kurang efektif dan efisien dan sebagai akibat selanjutnya adalah tingkat produktivitas organisasi relatif rendah pula.
Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk sekedar mengulas sedikit mengenai kepemimpinan dengan harapan ada guna dan manfaatnya. Adapun tujuan dari ulasan tersebut antara lain karena penulis masih sering mendengar/membaca tentang terjadinya kekurang-harmonisan dalam mekanisme kerja suatu organisasi sehingga tidak jarang menimbulkan kegelisahan/kekurangtenangan bekerja/produktivitas kerja yang rendah clan kadang-kadang justru malahan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti aksi unjuk rasa,aksi mogok dlsb, antara lain adalah untuk memberikan masukan pemecahan masalah dalam mengatasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut di atas.
Kegunaan ulasan/kupasan ini adalah untuk menyumbangkan pikiran guna memperkecil, menghilangkan clan atau meniadakan faktor-faktor penyebab dari masalah-masalah tersebut di atas.
Sedangkan manfaat praktis dari ulasan ini diharapkan agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pencapaian efektivitas dan efisiensi kerja.
Perwujudan dari penulisan ulasan ini bertitik tolak dari landasan pemikiran sebagai berikut:
1. Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan jalannya roda organisasi, karena tanpa adanya faktor kepemimpinan yang berfungsi sebagai penggerak dalam pelaksanaan segala kegiatan, maka pencapaian tujuan organisasi tidak akan berhasil.
2. Di dalam kepemimpinan penting sekali adanya kerjasama, karena kerjasama dapat dikatakan sebagai kunci demi suksesnya seseorang pemimpin dalam melak.sanakan tugasnya.
3. Seorang pemimpin akan dapat berhasil dengan baik dalam menggerakkan seluruh elemen-elemen yang ada di dalam organisasi yang dipimpinnya apabila dia dapat menerapkan cara-cara kepemimpinan sesuai dengan keinginan dan harapan bawahan clan masyarakatnya, yaitu: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani serta menghindarkan ma lima ( 5 M) yaitu : mateni, maling, madon, madat dan mabok.


      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar