Rabu, 10 Maret 2010

Rencana Tindak Bersama untuk Jejaring Regional dalam Pendidikan Bioetika menuju Pendidikan Bioetika yang Lebih Baik

Kami peserta UNESCO Asia-Pacific Conference on Bioethics Education, yang diselenggarakan tanggal 26-28 Juli 2006 di Seoul, Republik Korea, bersama dengan anggota lain dari UNESCO Asia-Pacific School of Ethics menerima rencana tindak bersama berikut ini.


1. Rasional pendidikan bioetika (Alasan untuk tindakan)
Dengan berlangsung cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya, rekayasa genetika, rekayasa neuron, dan teknologi nano, dan implikasi yang ditimbulkannya bagi perorangan dan masyarakat, kita perlu memperoleh kesempatan untuk membentuk arah, tujuan dan sasaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Masyarakat dan komunitas akan maju dengan arah yang lebih adil, merata dan berkelanjutan jika nilai-nilai budaya, etika, dan rohaniah dari masyarakat tersebut menjadi penentu utama dalam pembentukan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Bioetika meliputi masalah etika yang terkait dengan (semua cabang pengetahuan, termasuk) lingkungan hidup, ilmu-ilmu hayati, dan kedokteran serta teknologi-teknologi yang terkait, dan peserta konferensi ini menerima pemahaman yang paling luas yang mungkin dari bioetika. Mereka juga mengakui bahwa banyak dari butir-butir yang sama dapat dikatakan untuk pengembangan pendidikan untuk menjawab masalah etika yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum.

Untuk menjamin peran-serta masyarakat dan membuat keputusan-keputusan yang bijaksana mengenai masa depan mereka dan anak-anak mereka, pemberian pendidikan bioetika di semua tingkatan menjadi perlu.

Sebagai orang perorangan dari negara anggota yang telah menyetujui berbagai Deklarasi mengenai Bioetika, kami mengakui bahwa bekerja sama sebagai suatu jaringan regional akan menjadi cara yang efektif untuk mencapai sasaran-sasaran di bawah ini. Secara bersama, ada kebutuhan orang untuk dapat menyatakan/membahas nilai-nilai mereka melalui pendidikan bioetika untuk semua kelompok masyarakat kemanusiaan.

2. Mandat kemasyarakatan untuk pendidikan bioetika
Kami mengingatkan pemerintah dan semua orang yang terlibat dalam pendidikan bioetika akan keterikatan yang dibuat dalam berbagai Deklarasi yang diterima oleh semua negara anggota UNESCO yang berhubungan dengan pendidikan bioetika, khususnya termasuk:

Universal Declaration on the Human Genome and Human Rights (yang diterima oleh Konferensi Umum UNESCO 1997 dan disahkan oleh Sidang Umum PBB 1998)
"20. Negara seharusnya mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mempromosikan prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Deklarasi ini, melalui pendidikan dan pelatihan dan cara-cara relevan, antara lain melalui penyelenggaraan penelitian dan pelatihan dalam bidang interdisiplin dan melalui promosi pendidikan bioetika, di semua tingkatan, khususnya untuk mereka yang bertanggung-jawab untuk kebijaksanaan ilmu pengetahuan."

Universal Declaration on Bioethics and Human Rights (yang diterima oleh Konferensi Umum UNESCO 2005)
"23. (i) Untuk mempromosikan prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Deklarasi ini dan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai implikasi etika dari perkembangan keilmuan dan keteknologian, khususnya bagi orang muda, Negara seharusnya berupaya untuk memupuk pendidikan dan pelatihan bioetika di semua tingkatan dan juga mendorong program penyebaran informasi dan pengetahuan mengenai bioetika. (ii) Negara seharusnya mendorong peran-serta organisasi-organisasi antar-pemerintah internasional dan regional, organisasi-organisasi nonpemerintah internasional, regional dan nasional dalam upaya ini."

3. Sasaran
Penelitian memperlihatkan bahwa ada sejumlah sasaran pendidikan bioetika termasuk:
a) Pengetahuan
Pengembangan pengetahuan muatan isi lintas-disiplin
Pemahaman konsep-konsep lanjut biologi
Kemampuan untuk mengintegrasikan penggunaan pengetahuan keilmuan, fakta-fakta dan prinsip-prinsip etika dan argumentasi dalam mendiskusikan kasus yang mencakup dilema moral
Pemahaman lebarnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi lanjut
Pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya

b) Ketrampilan (pembentukan kapasitas dalam memperoleh ketrampilan seharusnya berwujud unsur-banyak atau sisi-banyak, dan sasaran termasuk)
Menyeimbangkan manfaat dan risiko ilmu pengetahuan dan teknologi
Menjadi mampu melakukan analisis risiko/manfaat
Mengembangkan pemikiran kritis dan ketrampilan membuat keputusan dan proses-proses perenungan
Mengembangkan ketrampilan berpikir kreatif
Mengembangkan kemampuan melihat ke depan untuk mencegah risiko ilmu pengetahuan dan teknologi yang mungkin
Ketrampilan untuk mengembangkan “pilihan berpengetahuan”
Ketrampilan yang diperlukan untuk menemukan penyimpangan dalam metode keilmuan, penafsiran dan penyajian hasil-hasil penelitian

c) Pengembangan moral pribadi
Memahami lebih baik keragaman pandangan orang yang berlainan
Rasa hormat yang bertambah untuk semua bentuk kehidupan
Mengembangkan rasa kewajiban moral dan nilai termasuk kejujuran dan tanggung jawab
Mampu mengambil perspektif yang berbeda terhadap berbagai masalah termasuk pandangan-dunia biosentris maupun ekosentris dan tidak hanya perspektif antroposentris.
Rasa hormat yang bertambah terhadap manusia dan budaya lain, dan nilai-nilainya
Mengembangkan sikap keilmuan, proses perenungan, dan suatu kemampuan penghargaan yang holistik, sementara tidak mengabaikan nilai analisis reduksionis.
Pengetahuan mengenai penyimpangan dalam penafsiran dan penyajian hasil penelitian, manfaat dan risiko masalah teknologi dan bioetika, dan bagaimana menemukan penyimpangan
Eksplorasi moral/nilai (penjelasan nilai-nilai)
Analisis nilai dan penggunaan berdasarkan nilai dari sumber daya alam langka kita

Kami mencatat bahwa banyak dari sasaran ini berkenaan dengan pendidikan etika dan pengembangan (pendidikan) berpikir kritis umumnya.

4. Tantangan penerapan
Kami menghargai upaya yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam pendidikan bioetika sampai saat ini, dan UNESCO dalam menggelar konferensi ini, juga pertemuan-pertemuan lain dengan sasaran membangun kapasitas di wilayah pengajaran bioetika.

Kami menyeru untuk dukungan yang bertambah untuk penerapan semua metode pendidikan bioetika di semua tingkatan dengan cara-cara yang sesuai secara budaya. Diskusi yang sehat dari nilai-nilai yang mendasari dan faktor-faktor budaya dalam menetapkan sasaran ini adalah hal yang penting.

Kami akan bekerja untuk mengatasi rintangan-rintangan untuk menerapkan pendidikan bioetika melalui semua metode yang tersedia termasuk:
a) Menggunakan keobyektifan dalam evaluasi,
b) Melatih lebih banyak tenaga profesional (guru, ahli kedokteran, ahli filsafat, industrialis, insinyur, manajer, dsb),
c) Mengembangkan kisaran yang lebih lebar untuk bahan pendukung yang sesuai untuk lingkungan/situasi yang berbeda,
d) Menambah alokasi waktu untuk pengajaran bioetika,
e) Menambah nilai atau pengakuan yang diberikan pada komponen-komponen bioetika dari pelajaran atau mata-pelajaran bioetika,
f) Mengembangkan metode-metode pengajaran dan pembelajaran yang mendorong motivasi untuk belajar mengenai bioetika,
g) Mendorong ilmuwan untuk terlibat dalam bioetika
h) Mengintegrasikan semua bentuk pendidikan etika ke dalam kurikulum inti (pengarusutamaan)
i) Memperluas sistem konsultasi etika
j) Dalam semua aspek untuk menyelenggarakan penelitian yang dapat menemukan metode terbaik untuk mengembangkan pengarusutamaan nyata etika ke dalam sub-unit dan blok kurikulum.
k) Memupuk semangat tim dan hubungan antar-perorangan yang sehat di antara anggota tim dan pelaku-pelaku jaringan.
l) Pembentukan sumber daya pengajaran dan pusat-pusat penelitian terbuka untuk semua.

5. Sasaran
Ada variasi sasaran pendidikan bioetika. Kami mengidentifikasi kelompok sasaran spesifik untuk pendidikan bioetika, dan menyelenggarakan lokakarya pada sebagian dari mereka ini. Ada banyak kebutuhan yang tumpang-tindih, termasuk kelompok seperti
a) Masyarakat umum (dan kerja sama dengan media umum)
b) Mempengaruhi pemerintah untuk mengembangkan kebijakan yang lebih baik dalam ilmu pengetahuan dan penelitian, dan memutakhirkannya untuk menjawab kebutuhan sosial
c) Kelembagaan pendidikan termasuk: sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan universitas
d) Ilmuwan dan sekolah tingkat sarjana
e) Mahasiswa dalam Ilmu-ilmu Kesehatan dan Profesi Teknologi, Ilmu-ilmu Dasar, Ilmu-ilmu Sosial, Keteknikan, Ekonomi, Manajemen dan kejuruan non-ilmu pengetahuan lain
f) Pejabat pemerintah dan para Menteri
g) Media dan wartawan
h) Profesi hukum, ahli Ekonomi dan pengadministrasi

6. Pengembangan Kurikulum
Beberapa ciri umum perlu dipertimbangkan, walaupun setiap budaya perlu mengembangkan kurikulum mereka masing-masing yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya mereka. Para peserta berada dalam keadaan siap untuk membantu penyampaian sasaran-sasaran ini.

Waktu yang khusus tersedia untuk suatu kurikulum bioetika perlu diintegrasikan dan diadministrasikan.

Lokakarya pengembangan kurikulum untuk guru dalam tugas dan pra-tugas, dan untuk semua tingkatan pendidikan, primer, sekunder dan tersier, perlu diorganisasikan, dalam cakupan nilai-nlai pendidikan.

Pengembangan kurikulum terintegrasi lintas semua tingkatan pendidikan yang mengembangkan ketrampilan berpikir dan analisis kritis.

Kerja sama lintas kurikulum antara disiplin akademis yang berbeda, dan pengembangan suatu kurikulum lintas-disiplin.
Penilaian yang berlangsung menerus terhadap kurikulum dan modifikasi berlanjut terhadap kurikulum ini.

7. Bahan ajar
Kami menyeru untuk bahan-bahan ajar dijadikan terbuka dan dapat diperoleh secara bebas dari Internet. Produksi dan berbagi bahan-bahan ajar secara langsung (on-line) untuk pendidikan bioetika dalam berbagai bahasa dengan variasi kasus dari budaya yang berbeda-beda. Kumpulan bahan-bahan majemuk dalam berbagai bahasa. Berbagi bahan memerlukan rencana penyebaran yang memadai.

Peneliti dan pendidik agar bekerja sama lintas budaya untuk menghimpun dan menghasilkan bahan yang dapat digunakan di berbagai tingkatan, termasuk kelas di sekolah dan sekolah tinggi untuk mengajar bioetika. Kami menyeru perluasan himpunan bahan yang sudah ada, seperti Macer, D.R.J., penyunting, A Cross-Cultural Introduction to Bioethics (2006).

Pengembangan dan perbaikan sumber daya pengajaran, seperti Video dan DVD. Tempat menyimpan laporan-laporan kasus oleh negara/wilayah perlu dibangun.

Pengenalan kebiasaan dan praktek budaya dan agama yang berbeda dalam menghadapi dilema bioetika.

Pendirian Pusat-pusat Pengajaran dan Sumber Daya Bioetika.

8. Metode pengajaran
Mengadakan berbagai jenis metode pengajaran dan model untuk kelompok sasaran yang berbeda seperti kuliah, seminar, lokakarya, drama, penuturan, permainan peran, penyajian kasus dan analisis, penulisan karangan, diskusi kelompok kecil, forum diskusi secara langsung, pewarta, diskusi umum terbuka, komentar dan kritik media, semuanya mempunyai peran penting dalam pencapaian sasaran di atas.

Peneliti dan pendidik yang bekerja sama untuk meneliti metode pengajaran yang sesuai untuk kelompok sasaran yang berbeda diperlukan secara mendesak, untuk menilai keefektifan dan dampak (baik positif maupun negatif) pendidikan bioetika.

Menghasilkan pengajaran etika scara berkelanjutan dan program promosi merupakan metode tersendiri, yang diperlukan oleh perencana pendidikan.

9. Evaluasi
Pengembangan metode evaluasi untuk keefektifan pendidikan bioetika diperlukan secara mendesak dalam banyak dimensi seperti: pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai pribadi.

Ada kebutuhan untuk penelitian berkelanjutan mengenai metode penilaian yang sesuai terhadap kurikulum, juga penelitian mengenai metode penilaian yang sesuai untuk hasil pembelajaran mahasiswa, dan penelitian mengenai penilaian yang sesuai terhadap praktek termasuk sikap mahasiswa, tenaga profesional dan umum dalam menghadapi masalah bioetika.

Evaluasi seharusnya otentik, komparatif dan menerus untuk memberi penaksiran yang lebih baik mengenai cara bioetika diterima di setiap kelompok.

10. Pembangunan kapasitas manusia
Pelatihan guru yang sesuai diperlukan. Meningkatkan kesadaran dalam masyarakat ilmu pengetahuan mengenai pentingnya “etika ilmu pengetahuan”.
Ini dapat dicapai melalui berbagai cara, termasuk:
Acara wajib dalam pendidikan etika, misalnya lokakarya, konferensi dengan selang waktu yang akan ditentukan
Kursus penyegar
Dukungan dari organisasi induk/Pemerintah/badan-badan seperti UNESCO

11. Jejaring
Kami akan bekerja menuju perluasan Jaringan Pendidikan Bioetika Internasional yang dimulai tahun 2004, dan juga melihat penciptaan jaringan yang menghubungkan penelitian ke dalam kebijakan sebagai suatu tumpuan upaya di semua tingkatan, dari lokal sampai regional. Butir-butir penting termasuk:

a) Membangun dan mendukung mitra jaringan untuk pengembangan pendidikan bioetika. Mitra ini dapat termasuk banyak asosiasi yang sudah ada dan dapat juga mengarah ke pengembangan forum baru, jaringan dan asosiasi yang sesuai.
b) Jaringan seharusnya mengembangkan penelitian untuk mempengaruhi tingkat kebijakan.
c) Perluas jaringan regional yang ada untuk pendidikan bioetika, dan perbaiki metode, penyampaian dan penilaian pendidikan bioetika.
d) Jaringan guru perlu dikembangkan di dalam tiap negara dan antara negara yang berbeda.
e) Jaringan dapat mendukung pendidikan guru (pra-tugas dan dalam-tugas).
f) Menemukan lebih banyak sekolah mitra dan universitas untuk memperkuat kapasitas pendidikan bioetika yamng efektif.
g) Jaringan (termasuk LSM) dapat meningkatkan sadar-bioetika.
h) Mengumpulkan data lintas-budaya yang lebih banyak untuk mengukur keefektifan pendidikan bioetika.
i) Jaringan dapat melaksanakan loka karya untuk anggota Dewan Tinjauan Kelembagaan (Institutional Review Board, IRB).
j) Melalui jaringan, ilmuwan akan memperoleh informasi mengenai konferensi untuk memungkinkan dialog antara ilmuwan dan ahli bioetika.

12. Rekomendasi
Sebagai tambahan terhadap kesimpulan di atas, kami juga menyampaikan rekomendasi khusus pada kelompok-kelompok berikut ini.

Rekomendasi ke peneliti
Untuk terlibat dalam mempromosikan pendidikan bioetika, dan mengembangkan metode untuk mendokumentasikannya (seperti daftar pencocokan).
Eksplorasi berlanjut bagi masalah etika yang muncul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (misalnya ilmu pengetahuan neuro, tindak-perbaikan (enhancement), bioteknologi, nanoteknologi, dsb).
Kepekaan budaya yang inklusif dalam penelitian.
Pendekatan bawah-atas dalam penelitian.
Merangkul kelompok-kelompok yang sulit dijangkau dalam penelitian.
Adil dalam mempublikasikan penelitian.
Menulis makalah untuk menjelaskan kebutuhan dengan dasar situasi setiap negara terhadap berbagai kelompok sasaran yang perlu lebih memahami subyek agar mendukung metode untuk pendidikan bioetika. Kelompok-kelompok ini termasuk para pembuat kebijakan, media, staf universitas, misalnya.
Mengambil insisiatif sendiri untuk mengembangkan kegiatan yang disebut di atas (tidak menunggu pemerintah atau orang lain untuk berbuat).
Melibatkan media.
Meneliti bagaimana melakukan komunikasi dan bagaimana membuat konsensus antara ahli filsafat/ahli etika dan ilmuwan?
Jaringan dengan orang lain untuk mendorong kegiatan berkelanjutan.

Rekomendasi ke guru
Tindakan yang dimulai dari guru penting untuk pengembangan bidang ini, dan akan tetap penting untuk evolusi subyek ini.
Tidak membahas hanya "Etika atau Ilmu Pengetahuan ", tetapi mengintegrasikannya (etika melalui ilmu pengetahuan).
Cegah mempersonalisasi dalam pengajaran etika (agenda/nilai pribadi), tetapi memberdayakan mahasiswa untuk membuat keputusan mereka sendiri.
Membentuk suasana kelas yang menguntungkan untuk pendidikan bioetika.

Rekomendasi ke universitas
Untuk membentuk Departemen dan Pusat Bioetika.
Untuk membentuk pengajaran dan pusat sumber daya pembelajaran bioetika.
Untuk memberi sumber daya cukup untuk mendukung kegiatan pusat-pusat ini.
Untuk membangun dan memberi kuliah-kuliah pendukung pendidikan bioetika yang berkelanjutan untuk pembentukan kapasitas guru.

Rekomendasi ke pemerintah
Pemerintah seharusnya mendukung upaya-upaya ini dengan memberi prioritas lebih pada pendidikan bioetika.
Untuk melakukan dialog antar-departemen yang lebih besar antara kementerian dan departemen.
Untuk melakukan pembangunan kapasitas bagi anggota pemerintahan (birokrat dan politisi).
Untuk mengalokasikan waktu dalam kurikulum.
Mengalokasikan mekanisme pembiayaan untuk memperoleh sasaran-sasaran ini dalam periode jangka panjang.
Pelatihan media, guru dan kelompok lain.
Untuk membentuk dan membiayai badan-badan mandiri (misalnya komite bioetika) yang dapat melibatkan masyarakat mengenai bioetika.
Untuk mencari sumbangan untuk memahami secara lebih baik bahwa potensi ilmu pengetahuan tidak dapat secara acak diperoleh dari bibit tetapi memerlukan kerjasama yang adaptif, kecerdasan, kelenturan dan suatu rasa etika yang berkembang baik.

Rekomendasi ke UNESCO
Pendidikan guru dalam tugas.
Pelatihan media, guru dan kelompok lain.
Pewarta untuk mempertukarkan informasi.
Pengembangan kurikulum Bioetika.
Pengembangan dan berbagi bahan dan studi kasus.
Membantu jejaring dan membangun pusat-pusat dokumentasi.
Terus membantu mendorong kesempatan dialog lintas-budaya, jejaring, kegiatan penelitian dan berbagi.
Melanjutkan dukungan pengajaran etika untuk mahasiswa ilmu pengetahuan dan kedokteran.
Menghimbau akan pentingnya hal ini di tingkat pemerintah (komisi nasional dan organisasi antar-pemerintahan).
Memperkuat jaringan pendidikan bioetika internasional, dan membantu pengembangan asosiasi-asosiasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar